US OPEN 2020 Osaka & Semangat Comeback

Chrisna Chanis Cara

Tak banyak petenis putri yang mampu menjuarai US Open ketika tertinggal lebih dulu di set pertama dalam laga final. Petenis yang terakhir mampu melakukannya adalah Arantxa Sanchez-Vicario, itu pun sudah cukup lama, yaitu tahun 1994. Kala itu Sanchez memenangi duel final atas Steff Graf dengan skor 1-6, 7-6, 7-4.
Dalam 25 final selanjutnya, petenis yang mampu memenangi set awal selalu keluar sebagai juara. Victoria Azarenka mungkin telah membayangkan gelar grand slam perdananya sejak 2013 ketika unggul telak 6-1 atas Osaka di final US Open 2020, di set pertama. Bertanding di Arthur Ashe Stadium, Minggu (13/9), petenis Belarusia itu tak ingin kalah untuk kali ketiga di final US Open setelah hanya menjadi runner up pada 2012 dan 2013. Apalagi ini adalah final grand slam pertama Azarenka dalam tujuh tahun.
Namun, takdir belum memihak petenis berusia 31 tahun itu. Osaka yang berambisi meraih gelar US Open keduanya dalam tiga tahun terakhir mampu membalikkan keadaan. Petenis Jepang itu merebut dua set berikutnya 6-3, 6-3, untuk merengkuh trofi Grand slam ketiga sepanjang kariernya.
“Saya pikir saya akan berhasil di final ketiga, tapi ternyata saya harus mencoba lagi. Selamat untuk Naomi,” ujar Azarenka seperti dilansir tennis.com, Minggu.
Perjuangan Naomi untuk comeback tak mudah mengingat tak ada para fans yang biasa menjadi semangat tambahannya. Namun di venue yang kosong melompong karena pandemi Covid-19, petenis berusia 22 tahun itu membuktikan daya juangnya.
Gelar di US Open tahun ini membuat Osaka mempertahankan rekor selalu menang di setiap final grand slam yang pernah dia ikuti. Sebelumnya dia memenangi Australian Open 2018 dan US Open 2018. Osaka mengatakan final kali ini benar-benar menyulitkan.
“Dia [Azarenka] betul-betul menginspirasi saya karena saya dulu menontonnya bermain sewaktu saya remaja. Punya kesempatan melawannya di final jelas luar biasa, terima kasih,”
ujarnya.