2 Pekan yang Menentukan

JAKARTA—Presiden Joko Widodo (Jokowi) memastikan pemerintah berjuang menyelamatkan ekonomi dari jurang resesi.

redaksi@koransolo.co

Sementara kuartal III-2020 yang menjadi penentu nasib ekonomi Indonesia menyisakan waktu sekitar dua pekan lagi. Namun, sejumlah ekonom menilai waktu dua pekan menjadi misi yang mustahil bagi pemerintah menghindarkan negara dari resesi.
Ekonom menilai pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020 diprediksi kuat akan kembali negatif.
”Memang agak sulit untuk yang dikatakan Pak Jokowi untuk menghindari resesi, setidaknya melihat dari data-data yang ada sejauh ini,” kata Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet saat dihubungi, Selasa (15/9).
Salah satu indikator yang cukup kuat menggambarkan Indonesia akan resesi adalah indeks penjualan riil yang angkanya belum memuaskan alias masih terkontraksi.
”Padahal kalau kita tahu indeks penjualan rill ini adalah indeks yang menggambarkan permintaan produk barang dan jasa. Artinya kalau seandainya kita melihat indeks penjualan riil ini masih berada di level negatif, ternyata memang ini belum menggambarkan permintaan yang meningkat meskipun PSBB sudah dilonggarkan,” jelasnya.
”Kenapa demikian? Karena satu, daya beli untuk kelompok masyarakat penghasilan menengah ke bawah itu belum pulih karena di periode Juni, Juli sampai awal Agustus itu bantuan itu kan belum sepenuhnya masuk ke kantong masyarakat kelompok ini sehingga daya belinya itu masih belum terangkatlah,” sambungnya.
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 1
Lalu untuk kelompok kelas menengah ke atas, lanjut Yusuf, sebenarnya mereka mempunyai uang tetapi masih menahan belanja karena isu kesehatan. Mereka takut untuk keluar misalnya pergi ke mal. Akhirnya itu berdampak terhadap indeks penjualan riil yang masih berada di level negatif.
”Padahal indeks penjualan riil ini umumnya memang dia selalu selaras dengan pertumbuhan konsumsi dalam PDB. Seperti yang kita tahu bahwa konsumsi ini kan penyumbang terbesar dalam PDB sehingga ketika konsumsi masih berada di level negatif memang agak sulit untuk mendorong perekonomian secara agregat,” ujarnya.
Jadi, kata dia, sekalipun ekonomi Indonesia pada kuartal III nanti bisa membaik tapi kemungkinan kuat akan tetap berada di level negatif. ”Membaik [kuartal III], tapi secara pengertian kita kan resesi dua kuartal berturut-turut minus, tetapi secara pengertian kita sudah masuk indikasi terkena resesi,» tambah Yusuf.
Dihubungi terpisah, Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto juga menilai waktu dua pekan berat untuk mencegah resesi.
Dia menilai di tengah pandemi Covid-19 ini Indonesia bergantung pada anggaran negara sebagai motor penggerak ekonomi. Sementara itu, realisasi penyaluran anggaran pemulihan ekonomi nasional (PEN) lambat.
”Secara hitung-hitungan mungkin susah untuk keluar dari resesi dalam dua pekan ke depan,” ujarnya.
Di sisi lain anggaran pemerintah untuk menggelontorkan bantuan ke masyarakat juga terbatas. ”Yang positif, yang punya daya dorong cuma belanja pemerintah, tapi jumlahnya terbatas, nggak sampai 20-an persen dari total PDB kan sehingga ketika itupun serat realisasinya sekarang belum sampai 50% sehingga memang terdampak banget,” jelas Eko.
Problem yang lebih berat, lanjut dia, adalah mendorong kelas menengah ke atas belanja. Jadi tidak hanya membeli kebutuhan yang esensial saja. ”Jadi kalau itu nggak terjadi di sisa waktu setengah bulan ke depan yang sebetulnya kan susah gitu, sekarang kan sudah kelihatan, sektor-sektor yang biasanya tersier dan sekunder yang biasanya mereka belanja, mereka nggak mau belanja sekarang ini karena ketidakpastian penanganan wabah,” tambahnya.
Ekonom INDEF lainnya, Bhima Yudhistira, sependapat. Menurutnya, tidak mungkin waktu dua pekan bisa dipakai untuk mencegah resesi. Apalagi, ada kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Ibu Kota Jakarta. Dapat dipastikan Indonesia tidak bisa lepas dari jurang resesi. ”Enggak bisa. Ada PSBB lebih ketat ya pasti resesi di Kuartal III-2020,” ujar Bhima.
Pemberlakuan kembali PSBB Jakarta diyakini dapat menurunkan konsumsi rumah tangga penduduk Jakarta. Padahal, indikator terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia masih ditopang oleh sektor konsumsi rumah tangga tersebut.
”Konsumsi rumah tangga akan turun. Masyarakat akan tahan belanja apalagi pemerintah dinilai gagal atasi pandemi sehingga muncul PSBB yang lebih ketat,” sambungnya.
Sebelumnya, Presiden Jokowi memastikan pemerintah masih berjuang menyelamatkan ekonomi dari jurang resesi selama masih ada waktu. Sementara kuartal III-2020 yang menjadi penentu nasib ekonomi Indonesia menyisakan waktu sekitar dua pekan lagi.
Jokowi menilai sisa waktu itu harus bisa dimanfaatkan. Tujuannya untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi yang positif. ”Terkait pemulihan ekonomi nasional kita masih punya waktu sampai akhir September dalam meningkatkan daya ungkit ekonomi kita,” ujarnya saat membuka rapat terbatas dengan tema laporan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional melalui video conference, Senin (14/9).
Jokowi menjelaskan daya ungkit yang dimaksud adalah meningkatkan daya beli masyarakat dan konsumsi rumah tangga yang masih menjadi motor utama penggerak roda ekonomi RI.
”Oleh sebab itu saya minta seluruh program insentif yang sifatnya cash transfer agar benar-benar diperhatikan dipercepat,” tutupnya.
Sebagai informasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2020 sebesar 2,97%. Sedangkan di kuartal II-2020 minus 5,32%. Jika di kuartal III-2020 ekonomi minus lagi, maka Indonesia resesi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan resesi adalah kelesuan dalam kegiatan dagang, industri dan sebagainya. (Detik/Bisnis)