Pasar Beringharjo Timur Jalani Sterilisasi Total

JOGJA—Adanya satu kasus positif Covid-19 di Pasar Beringharjo Timur, Jogja, membuat pasar tersebut harus menjalani sterilisasi maksimal. Satu unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk menyemprotkan disinfektan di dua lantai Pasar Beringharjo Timur.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jogja, Yunianto Dwi Sutono menyampaikan tindakan sterilisasi pasar dilakukan menindaklanjuti adanya satu pedagang yang positif di Pasar Beringharjo Timur. Menurut penuturannya, sebenarnya penyemprotan disinfektan di Pasar Beringharjo dilakukan setiap hari pagi dan sore oleh petugas pasar menggunakan alat semprot manual. ”Kalau yang Beringharjo setiap hari kita punya petugas, setiap hari pagi dan sore. Kalau pasar-pasar yang lain ada yang dua hari sekali, ada yang tiga hari sekali dan sebagainya,” ujarnya, Selasa (15/9) di Pasar Beringharjo.
Dia menyebut meski sudah ada penyemprotan rutin, kali ini penyemprotan dilakukan total dengan menutup pasar. Selama satu hari Pasar Beringharjo Timur ditutup dan buka kembali pada Rabu (16/9). Khusus beberapa pedagang di sekitar pasien yang positif diminta untuk isolasi mandiri hingga hasil swab keluar.
Pelaksanaan protokol secara ketat telah dilakukan di Pasar Beringharjo. Yunianto menerangkan ada wajib masker, cuci tangan, jaga jarak melalui tali pembatas, penerapan kode QR hingga pemusatan akses masuk melalui dua pintu juga telah dilakukan. ”Tapi hal tersebut tidak 100 persen menjamin, jadi harus ada kesadaran dari para pedagang sendiri,” terangnya. Selain itu langkah preventif lain guna mengantisipasi penyebaran dilakukan dengan menganjurkan pedagang untuk mengambil libur jika merasa sakit.
Ketua Paguyuban Ayem Tentrem, Harno yang membawahi pedagang di lantai dua Pasar Beringharjo tempat ditemukannya pedagang positif menerangkan jika penjual yang bersangkutan sebenarnya telah melakukan protokol kesehatan dengan ketat. Harno menyebutkan bahwa penjual gori atau nangka muda tersebut tidak pernah makan di pasar, selalu membawa bekal. Selain itu dia pun tidak pernah salat di musala, kalau hendak salat pun pulang. ”Ibu itu orangnya tertib sekali,” jelasnya.
Namun menurut cerita Harno, penjual gori yang positif itu sempat mengeluhkan banyak undangan jagong atau hajatan. ”Belum tentu dapat sakitnya di sini, karena dia juga jagong ke luar kota,” jelasnya.
Kepala Humas Paguyuban Ayem Tentrem, Ida Chabibah menambahkan para pedagang bersikap tenang dengan adanya kejadian rekan mereka yang terjangkit Covid-19. . (Catur Dwi Janati/Harian Jogja/JIBI)