PASIEN MENINGGAL Terkena Meski Tak Pernah ke Mana-Mana

Mariyana Ricky P.D.

SUKOHARJO—Angka kasus kematian karena corona di Kabupaten Sukoharjo bertambah. Seorang ibu rumah tangga asal Kecamatan Gatak meninggal dunia  setelah dirawat sepekan di Rumah Sakit (RS) Moewardi Solo. Ia terkonfirmasi positif Covid-19
Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sukoharjo tengah melakukan tracing pada kasus kematian ibu rumah tangga tersebut. ”Per 14 September ada penambahan satu kasus kematian positif ibu rumah tangga usia 59 tahun. Jadi total ada 19 kasus kematian karena corona di Sukoharjo,” kata Jubir Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sukoharjo, Yunia Wahdiyati, kepada Koran Solo, Selasa (15/9).
Yunia belum bisa memastikan sumber penularan Covid-19 yang terjadi pada seorang ibu rumah tangga tersebut.
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 1
Bisa jadi ia tertular dari anggota keluarga atau tamu yang pernah berkunjung ke kediamannya. Sampai saat ini, gugus tugas masih melakukan tracing kepada anggota keluarga setempat.
”Ibu rumah tangga ini tidak pernah ke mana-mana. Jadi kemungkinan besar tertular dari anggota keluarga atau tamu yang pernah ke rumahnya,” katanya.
Yunia mengatakan pasien asal Gatak itu memiliki riwayat penyakit penyerta seperti diabetes dan hipertensi yang memperparah kondisinya saat terserang virus. Ia mengalami gejala demam, batuk, dan sesak napas lalu dirujuk ke rumah sakit dr Moewardi Solo.
Selama hampir sepekan dirawat, pasien mengalami gagal napas dan meninggal dunia. ”Hasil swab ibu rumah tangga ini terkonfirmasi positif Covid-19. Sehingga pemulasaran jenazah pun dilakukan sesuai protokol Covid-19,” katanya.
Sementara itu, kasus positif di Sukoharjo bertambah 14 pasien. Kasus baru itu berasal dari lima klaster, yakni tenaga kesehatan (nakes), klaster aparat keamanan, lalu transmisi aparat keamanan ke keluarga, klaster keluarga di Kelurahan Gayam dan pelaku perjalanan dari luar negeri.
”Dari penambahan kasus positif masih disumbang dari pengembangan kontak erat kasus sebelumnya,” kata Yunia.
Sragen juga menambah satu kasus kematian akibat corona sehingga total yang meninggal dunia menjadi 20 orang. Selain bertambah kasus kematian, jumlah kasus baru terkonfirmasi positif Covid-19 di Sragen juga bertambah delapan orang.
Sekretaris Daerah (Sekda) Sragen Tatag Prabawanto saat dihubungi, Selasa (15/9), mengatakan tambahan satu kasus kematian Covid-19 itu ada di wilayah Kecamatan Mondokan, Sragen, yakni seorang kakek-kakek, SS, 71.
Sekda menerangkan yang bersangkutan masuk RSUD dr. Moewardi Solo pada 8 September karena sakit gula. Setelah dilakukan swab test, ujar dia, SS positif Covid-19 yang dimungkin tertular istrinya, T, 75, yang meninggal lebih dulu pada Kamis (10/9) lalu.
“Istri beliau meninggal. Kemudian SS di-swab test dan hasilnya positif,” jelas Tatag.
Sementara itu, Satgas Penanganan Covid-19 Solo mencatat temuan klaster lintas keluarga yang didapat dari pengembangan tracing empat lapis kasus induk. Kasus induk yang tercatat pada Kamis (3/9) terjadi pada keluarga dokter di Kelurahan Gilingan.
Seorang dokter yang bekerja di RSUD Sragen terkonfirmasi positif Covid-19, kemudian istri, anak, dan sopirnya ikut tertular. Istri dokter tersebut juga berprofesi sebagai dokter dan bertugas di RSUD Ngipang.
“Tracing lapisan ketiga menyasar rekan kerja di RSUD Ngipang dan didapati asisten dokter dan CS (customer service) dokter ini ikut tertular. Tracing lagi ke kontak erat dan dekat asisten dan CS ini didapati ada tambahan 6 kasus, rinciannya 2 dari asisten dokter dan 4 dari CS dokter. Sehingga kalau dijabarkan ada empat lapis tracing dengan total kasus 12,” kata Ketua Pelaksana Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Solo, Ahyani. (Tri Rahayu)