ADA 202 TUNAWISMA DI SOLO Menggelandang karena Tak Punya Pilihan

Wahyu Prakoso

Sutikno, 69, dan Sumarsih, 67, melepas lelah di emper toko Jl. Arifin, tepatnya di barat laut Pasar Gede, Solo, Selasa (15/9) pukul 22.00 WIB. Suara bising kendaraan seolah tidak mengganggu tidur mereka.
Pasutri yang mengaku dari Kecamatan Gamping, Sleman, tersebut menggelandang sejak 10 hari terakhir di Kota Solo. Namun, mereka menolak meminta-minta untuk mencukupi kebutuhan pangan.
Sutikno yang sehari-hari menjadi pengemudi becak dan Sumarsih menjual barang bekas tidak mendapatkan pemasukan yang cukup untuk menyewa ruang. Selain tidak memiliki hunian, keduanya juga tidak mendapatkan jaminan layanan kesehatan dari pemerintah.
Padahal, mereka yang tidur beratapkan langit dan lanjut usia rentan sakit sehingga butuh layanan kesehatan. “Sempat ingin berganti KTP tapi enggak punya domisili tetap. Saya ragu untuk mengurus. Selama ini tidak ada petugas yang mendata. Alhamdulilah, kalau sakit sembuh dengan obat dari toko,” katanya.
Tidak hanya Sutikno dan Sumarsih yang menggelandang di area Pasar Gede. Terdapat belasan tunawisma yang melepas lelah dari aktivitas masing-masing sepanjang hari.
Tunawisma lain, Sulastri Ginting, 55, tak ingat kapan kehilangan KTP dan kapan mulai menggelandang. Yang ia ingat mendapatkan tawaran bekerja sebagai asisten rumah tangga setelah 40 hari suaminya meninggal dunia di Tebing Tinggi.
“Saya dulu ditipu orang yang menawari kerjaan. Mau pulang enggak ada ongkos. Di sini enggak mengemis. Orang-orang pada bantu sembako,” ungkapnya.
Malam itu, para tunawisma mendapatkan tamu petugas Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Solo, polisi, petugas Dinas Sosial Kota Solo, dan Petugas Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Solo. Petugas melakukan pencacahan penduduk atau Census Night yang menyasar tunawisma yang belum tersensus.
Kepala BPS Kota Solo, Totok Tavirijanto, menjelaskan Census Night menyasar penduduk yang belum dicacah dalam sensus penduduk (SP) 2020 tahap I dan tahap II. Terdapat 30 petugas BPS yang menyebar ke 52 titik lokasi menyasar tunawisma.
“Kami lakukan serentak pada malam hari karena menunggu tunawisma beristirahat. Data yang kami catat lebih simpel dibandingkan data sensus yang didatangi petugas ke rumah-rumah. Kalau ada KTP, kami tanyakan,” katanya.
Dia menjelaskan, hasil data SP akan dikembalikan kepada Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri. Sebanyak 202 data tunawisma yang dihimpun Selasa malam itu juga akan disampaikan kepada pemerintah sebagai dasar mengambil kebijakan untuk pengentasan orang tak memiliki tempat tinggal.