Bus AKAP Terancam Berhenti Beroperasi

M. Aris Munandar

WONOGIRI—Puluhan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) terancam banyak yang berhenti beroperasi setelah Jakarta memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (Psbb) mulai, Senin (14/9) lalu.
Pemberlakuan PSBB di Ibu Kota berdampak pada mobilitas warga, termasuk kaum boro Wonogiri. Sehingga kaum boro yang biasanya melakukan perjalanan Jakarta-Wonogiri dan sebaliknya menggunakan bus menjadi berkurang.

Berdasarkan data produksi penumpang Terminal Giri Adipura Wonogiri, pada hari kedua PSBB di Jakarta, Selasa (16/9), jumlah penumpang turun cukup signifikan.
Pada Selasa, jumlah penumpang kedatangan dari wilayah Jabodetabek yakni 543 orang, dengan jumlah armada bus yang beroperasi hanya 57 unit. Sementara itu, jumlah penumpang keberangkatan yakni 591 orang, dengan jumlah armada 71 unit.
Jumlah penumpang kedatangan kali terakhir menyentuh angka sekitar 500 terjadi pada  17 Juli. Saat itu jumlah penumpang sebanyak 557 orang. Sedangkan penumpang keberangkatan kali terakhir menyentuh angka sekitar 500 terjadi pada 31 Juli. Kala itu jumlah penumpang sebanyak 500 orang.
Sebelumnya, satu hari sebelum diberlakukan PSBB di Jakarta, Minggu (13/9), terjadi lonjakan jumlah penumpang kedatangan maupun keberangkatan. Pada Minggu jumlah penumpang penumpang kedatangan sebanyak 2.286 oraang. Sedangkan penumpang keberangkatan sebanyak 2.079 orang.
Menurut Koordinator Terminal Giri Adipura Wonogiri, Agus Hasto Purwanto, mengatakan jumlah penumpang normal, baik kedatangan maupun keberangkatan dalam satu hari yakni 1.100 hingga 1.200 orang.
”Pada Selasa, penumpang kedatangan mulai turun signifikan. Namun kami tetap melakukan pemantauan setiap harinya,” kata Agus kepada Koran Solo melalui pesan singkat, Rabu (16/9).
Staf Operasional Perusahaan Otobus Haryanto, Heru Setiyono, mengatakan sejak diberlakukan PSBB di Jakarta mulai Senin lalu, penumpang mulai berkurang.
”Biasanya dalam satu hari bisa memberangkatkan lima hingga tujuh bus, mulai Senin hanya memberangkatkan dua hingga tiga bus,” kata dia saat dihubungi, Rabu.
Atas kondisi itu, menurut dia, P.O. Haryanto menerapkan peraturan operasional bus seperti awal PSBB diterapkan. Di dalam bus diberlakukan pembatasan penumpang atau physical distancing. Dua set kursi dipakai untuk satu orang, jadi hanya 50 persen penumpang dari kapasitas bus.
”Pemakaian masker di dalam bus juga diperketat. Kalau surat edaran dari Dishub, kami belum terima. Itu inisiatif dari perusahaan. Hingga saat ini juga belum ada penyekatan atau pemeriksaan armada di daerah tertentu,” ujar dia.
Ia mengatakan, pembatasan penumpang di dalam bus berdampak pada harga tiket bus. Dalam waktu dekat akan menaikkan harga tiket bus dari Jakarta ke Wonogiri. Namun untuk Wonogiri ke Jakarta masih normal.
”Mungkin mulai Jumat tiket dari Jakarta ke Wonogri mulai naik. Dari Rp220.000 per-penumpang menjadi Rp350.000,” kata Heru.