Cegah Kerumunan, Budipython Butuh Lapangan Tambahan

KARANGANYAR—Mantan pemain Timnas, Budi Sudarsono, mendirikan akademi untuk pembinaan pemain sepak bola usia dini di Koripan, Matesih, Karanganyar.
Meski baru seumur jagung, akademi bernama Budipython 13 itu langsung diserbu para pemain belia dari penjuru Indonesia. Total ada sekitar 98 pemain yang mengikuti latihan perdana di Lapangan Koripan, Matesih, Senin (14/9) lalu.
Akademi Budipython 13 mem­fasilitasi pembibitan pemain ke­lahiran 2004 hingga 2012 (8-16 tahun). Berdirinya akademi tersebut seakan menjadi oase atas minimnya sekolah sepak bola (SSB) yang intens beraktivitas di Matesih.
Manajer Akademi Budipython, Sri Wahyana, mengatakan pen­dirian akademi merespons pentingnya wadah representatif untuk memunculkan bibit pemain berkualitas. “Kami ingin akademi ini tak sekadar membina, tapi menghasilkan pemain yang mampu tampil di liga hingga Timnas. Ma­kanya kami mengajak Budi Sudarsono untuk menjadi pendiri sekaligus mentor,” ujar Sri saat dihubungi Espos, Rabu (16/9).
Pihaknya tak menyangka respons publik sejauh ini sangat positif. Menurut Sri, sudah ada sekitar 100 pemain belia yang bergabung meski akademi tak melakukan promosi jorjoran. Tak ha­nya dari Karanganyar, pen­daftar bahkan datang dari Makassar, Tangerang, Ban­dung, Ponorogo hingga Pulau Kalimantan.
Sri mengaku sempat kelim­pungan karena akademi be­lum menyediakan fasilitas mes bagi pemain dari luar dae­rah. “Pemain dari luar Ka­rang­anyar sementara kami arahkan untuk tinggal di tempat kerabat yang dekat dengan lokasi latihan. Jika animo dari luar kota terus membesar, tak menutup kemungkinan kami segera membangun mes. Sudah ada lahan yang dekat dengan lapangan latihan,” tutur Sri.
Lebih jauh, Akademi Bu­dipython berencana mencari satu lapangan tambahan selain Lapangan Koripan agar latihan bisa lebih fokus dan tidak me­nimbulkan kerumunan.
Sri Wahyana mengakui tim pelatih cukup kerepotan ketika memimpin latihan 98 pemain dalam satu lapangan Senin lalu. “Idealnya memang dua lapangan untuk menunjang latihan. Namun pandemi Covid-19 membuat kami cukup kesulitan mencari lapangan baru. Jadi sementara jalan dulu dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.” (Chrisna Chanis Cara)