Industri: Realisasikan Pajak Mobil Baru 0%

JAKARTA—Pelaku industri otomotif berharap rencana pemerintah merelaksasi pajak pembelian mobil baru sebesar nol persen segera terlaksana.

Dionisio Damara
redaksi@koransolo.co

Marketing Director PT Toyota Astra Motor Anton Jimmi Suwandy menuturkan rencana tersebut menjadi angin segar bagi industri otomotif yang mengalami tekanan akibat pandemi virus corona. ”Tentu hal yang positif. Ada dukungan yang mudah-mudahan bisa diberikan kepada industri otomotif,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (16/9).
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan telah mengusulkan relaksasi pajak penjualan kendaraan bermotor untuk tipe mobil baru kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani Indarwati.
Relaksasi berupa pengurangan pajak nol persen itu bertujuan mendorong pertumbuhan sektor otomotif. Menurutnya, peningkatan penjualan mobil baru tidak hanya menggerakan pabrikan, tetapi juga seluruh pemasok yang terlibat di dalamnya.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sepanjang Januari sampai dengan Agustus 2020, total kumulatif penjualan retail otomotif mencapai 364.043 unit, turun 46,4% dibandingkan periode tahun lalu yang membukukan 679.263 unit.
Sementara itu, penjualan dari pabrik ke dealer atau wholesales turun lebih dalam. Gaikindo mencatat penurunan penjualan pabrikan mencapai 51,3% secara tahunan, dari 664.134 unit pada Januari – Agustus 2019 menjadi 323.507 unit tahun ini.
Business Innovation and Sales & Marketing Director PT Honda Prospect Motor Yusak Billyberharap usulan Kemenperin untuk menstimulus pasar otomotif di tengah pandemi dapat diimplementasikan. ”Saat ini, kami tetap fokus pada strategi sekarang untuk memberikan keringanan dan kemudahan bagi konsumen dalam memiliki dan merawat kendaraannya,” tuturnya.
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan pengurangan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) menjadi nol persen dinilai mampu mengakselerasi penjualan mobil baru.
Menurutnya, pengurangan PPn­BM akan memengaruhi harga yang harus dibayarkan konsumen. Sensifitasnya dapat dilihat ketika pemerintah menerapkan kebijakan pajak pada 2014 untuk kendaraan berkapasitas mesin besar. Alhasil, tipe ini perlahan ditinggalkan.
Selain itu, saat ini kelas menengah atas dinilai masih memiliki daya beli. Hal ini terlihat dari tabungan deposito atau simpanan pihak ketiga di perbankan yang berada di atas Rp100 juta. Faisal menilai hal itu menunjukkan bahwa masyarakat berpenghasilan menengah ke atas cenderung menunda pembelian. Oleh karena itu, insentif PPnBM diyakini mendorong pembelian mobil baru.
Head of IR Astra International Tira Ardianti mengatakan PT Astra International Tbk masih menunggu kejelasan mengenai rencana usulan terkait relaksasi pajak mobil baru yang diusulkan berlaku hingga akhir 2020. (JIBI/Bisnis Indonesia/Aziz Rahardyan)