Kasus Covid-19 Meningkat, ”Sleman Temple Run” Batal

SLEMAN—Rencana pelaksanaan Sleman Temple Run pada 27 September mendatang dipastikan batal. Kebijakan tersebut diputuskan Pemkab Sleman menyusul masih tingginya kasus baru Covid-19 di wilayah Sleman.
Sekda Sleman Harda Kiswaya mengatakan pembatalan kegiatan tahunan tersebut dilakukan Pemkab karena saat ini kasus baru Covid-19 terus meningkat bahkan muncul klaster-klaster baru. Pemkab pun mendapat saran dari kepolisian agar menunda kegiatan ini. Apalagi dalam waktu dekat Sleman akan menggelar kampanye Pilkada sehingga Pemkab pun memutuskan untuk membatalkan kegiatan Sleman Temple Run pada tahun ini.
Harda dalam jumpa pers, Rabu (16/9), mengatakan keputusan tersebut diambil setelah dua kali kegiatan ini ditunda. Awalnya, pelaksanaan Sleman Temple Run dijadwalkan pada 12 Juli kemudian diundur 27 September mendatang. Pemkab tidak mengambil opsi lomba secara virtual karena dinilai tidak memungkinkan dengan alasan sistem penjurian yang sulit dipertanggungjawabkan.
”Tidak apa-apa tahun ini kami batalkan tetapi tahun depan, kami siap melaksanakan karena event ini sudah menjadi agenda tahunan dengan cakupan nasional dan jumlah pesertanya banyak,” kata Harda.
Sementara Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman, Sudarningsih, mengatakan persiapan penyelenggaraan kegiatan ini sudah maksimal dilakukan. Termasuk melakukan paparan di depan Bupati dan kepolisian. Namun karena kasus baru Covid-19 sampai saat ini meningkat pada akhirnya kegiatan tersebut dibatalkan. ”Persiapannya dengan protokol kesehatan sebenarnya sudah matang. Perserta wajib rapid test dan sebagainya, tapi memang tidak memungkinkan untuk ditunda lagi. Kalau digelar pada Desember sudah musim hujan,” katanya.
Dijelaskan Ningsih, Sleman Temple Run pada tahun ini akan diikuti 560 peserta dari berbagai daerah bahkan beberapa merupakan kategori zona merah. Peserta yang mendaftar tetap akan mendapat medali, kaos, dan masker meskipun kegiatan ini sudah dibatalkan. Adapun untuk hadiah berupa trofi dan uang pembinaan, tidak bisa diberikan karena tidak ada kejuaraan.
Saat ini, Dispar masih mengkaji rencana kegiatan Tour de Merapi. Jadi tidaknya Tour de Merapi, kata Ningsih masih digodok konsepnya. ”Ada ide digelar secara virtual karena kegiatannya hanya bersifat fun, bukan perlombaan. Kami belum bisa putuskan itu,” ujar Ning.
Ketua panitia Sleman Temple Run, Ramdhan Kresnawan menambahkan, persiapan kegiatan tersebut sudah maksimal terutama terkait protokol kesehatan. Panitia hanya mengikuti keputusan Pemkab. ”Kami juga tidak ingin terbentuk klaster baru Covid-19 dari kegiatan ini,” katanya. (Abdul Hamid Razak/Harian Jogja/JIBI)