Terselamatkan Rute Domestik

JAKARTA—Pemerhati penerbangan sekaligus anggota Ombudsman RI Alvin Lie menilai maskapai nasional memiliki ketahanan kinerja yang lebih panjang karena masih ditopang pergerakan rute-rute domestik.

redaksi@koransolo.co

Hal ini disampaikan Alvin menyikapi pemutusan hubungan kerja (PHK) sebanyak 2.400 karyawan Singapore Airlines pekan lalu sebagai dampak pandemi Covid-19.
“Yang mengandalkan rute internasional rata-rata sudah tumbang semua,” jelas Al-vin, Rabu (16/9). Kendati demikian rute domestik juga masih menghadapi tantangan tersendiri. Pembatasan sosial berskala besar Jilid II di DKI Jakarta secara langsung tidak signifikan berpengaruh membatasi pergerakan penumpang. Na-mun secara tidak langsung instansi dan perusahaan sudah mengurangi perjalanan dinas dari dan ke Jakarta.
Tim Corporate Communication Sriwijaya Air juga mengamini masih adanya rute-rute domestik yang beroperasi. Tim menjelaskan meskipun PSBB jilid II di Jakarta tidak membatasi aktivitas penerbangan tetapi jumlah pergerakan penumpang domestik tetap tidak banyak bergerak.
Maskapai swasta tersebut menyebutkan bisa mati kutu jika kedepannya setiap kepala daerah di Indonesia memiliki kebijakan dan aturan yang ketat bagi daerahnya sesuai dengan perkembangan kasus Covid-19.
VP Corporate Secretary PT Garuda Indonesia Tbk. Mitra Piranti mengatakan akibat Covid-19, PSBB dan kondisi normal baru pada Agustus 2020, perusahaan mengalami penurunan kapasitas produksi. Pergerakan penumpang maupun kargo diangkut masing-masing turun sebesar 72% dan 50% dibandingkan dengan tahun lalu. Disamping itu, Perseroan juga mengalami penurunan produksi domestik sebesar 55% dan internasional sebesar 88% dibandingkan dengan tahun lalu.
Di tengah penurunan kinerja itu, maskapai dengan jenis layanan penuh tersebut sudah mengoptimalkan layanan kargo dan aktif mendukung upaya-upaya pemerintah khususnya yang terkait dengan penanganan Covid-19 melalui pengangkutan bantuan kemanusiaan, APD, obat-obatan, alat kesehatan. Hingga mengoptimalkan layanan charter pesawat untuk evakuasi WNI yang berada di luar negeri serta membantu proses pemulangan WNA untuk kembali ke negara masing-masing dan layanan charter untuk pengangkutan kargo.
Garuda juga bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata untuk mengkolaborasikan program dan inisiatif yang dapat mendorong geliat pariwisata, khususnya wisata domestik.
Maskapai Lion Air Group (LAG) masih didominasi penerbangan domestik untuk kepentingan bisnis. Namun, okupansinya pun masih di bawah kapasitas maksimal yang diatur pemerintah 70%.
Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait meminta agar upaya pemulihan sektor penerbangan dan pariwisata tidak hanya menjadi kepentingan maskapai, tetapi pemerintah dan masyarakat pun harus turut serta.
Menjaga
“Kami berharap semua pemangku kepentingan ikut menjaga, kita jaga termasuk dunia penerbangan nasional. Saya takut hubungan antar wilayah terganggu jika penerbangan kembali diputus akibat pandemi,” ujarnya.
Edo, sapaannya, menjelaskan perjalanan bisnis masih mendominasi penumpang yang terbang dengan pesawat perusahaan selama masa pandemi dibandingkan dengan perjalanan wisata dan kunjungan keluarga.
Pergerakan masyarakat untuk perjalanan bisnis mencapai 60%, kunjungan wisata 20%, dan 20% adalah perjalanan untuk kunjungan keluarga. Perjalanan untuk bisnis masih mendominasi lantaran memang ada pekerjaan-pekerjaan yang tidak bisa dihindari. Menurutnya, moda transportasi pesawat lebih aman dibandingkan dengan moda transportasi lain.
Sementara itu, penumpang dari lalu lintas penerbangan internasional sudah anjlok sejak awal tahun terimbas pandemi dan sebelum bertambahnya jumlah negara yang membatasi wilayahnya bagi Warga Negara Indonesia (WNI).
VP Corporate Secretary PT Angkasa Pura I Handy Heryudhitiawan mengatakan seluruh penerbangan komersial dan regular internasional sudah ditutup sejak masa Pembatasan Sosial Berskala Besar Mei lalu. Handy menekankan penerbangan internasional yang diperbolehkan pada masa PSBB dan adaptasi kebiasaan baru adalah penerbangan repatriasi, penerbangan kargo, dan penerbangan darurat lainnya.
“Sejak penerbangan in-ternasional komersial ditutup akibat PSBB, semua penerbangan komersial internasional tidak beroperasi,”jelasnya.
Menurutnya, sejalan dengan penutupan penerbangan in-ternasional regular atau komersial pergerakan penerbangan dan penumpang internasional juga menurun. Pada semester I/2020 pergerakan penumpang internasional hanya mencapai 3,2 juta orang. Sementara itu jika membandingkan dengan pergerakan penumpang in-ternasional pada semester I/2019 mencapai lebih dari 8,3 juta penumpang atau tu-run sekitar 61,3%.
Selain itu pada periode 25 April-31 Agustus 2020, pergerakan penerbangan irregular termasuk di dalamnya charter flight, repatriation flight, medivac flight, dan military flight mencapai 8.149 penerbangan. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu pergerakan penerbangan regular domestik mencapai 46.276 penerbangan. VP Corporate Secretary Angkasa Pura II Yado Yarismano menjelaskan rute internasional ini tergantung dari kebijakan masing-masing negara tujuannya. Saat ini untuk penerbangan internasional memang rata-rata adalah penerbangan repatriasi yang perharinya sekitar 1.000 penumpang-1.300 penumpang.(JIBI/Bisnis Indonesia/Anitana Widya)