Tiap 1.156 Kasus, 1 Nakes Meninggal

JAKARTA—Indonesia kembali mencatatkan rekor kasus harian Covid-19 tertinggi, yaitu 3.963 kasus positif. Penambahan kasus baru itu diiringi kematian seorang dokter, Selasa (15/9) sore.

redaksi@koransolo.co
Total sudah 116 dokter dan 82 perawat yang meninggal akibat terinfeksi virus tersebut. Jika dibandingkan dengan total akumulasi kasus Covid-19 di Indonesia, maka rata-rata setiap 1.156 kasus Covid-19 diiringi satu kematian tenaga kesehatan (nakes).
Tambahan 3.963 kasus baru Covid membuat akumulasi kasus terkonfirmasi positif di Indonesia mencapai 228.993 kasus. Dari ratusan ribu kasus itu, 9.100 orang meninggal dunia dan 135 di antaranya meninggal pada Rabu, termasuk Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, Saefullah.
Data terakhir Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebutkan ada 116 dokter meninggal dunia.

Dokter ke-116 yang meninggal adalah dr Eka Widyanto Seksana, 38, yang tutup usia pada Selasa sore di RS Pelni Jakarta.
Sedangkan Lapor Covid-19 menyebutkan ada 82 perawat yang meninggal dunia akibat Covid-19. Bahkan pada 12 September, empat dokter meninggal dunia hanya dalam 24 jam. Jika ditotal, jumlah kematian nakes (dokter dan perawat) akibat Covid-19 di Indonesia mencapai 198 kasus.
Jika dibandingkan dengan total akumulasi kasus Covid-19 di Indonesia, maka rata-rata 1.156 kasus Covid-19 diiringi 1 kematian nakes.
Hal inilah yang membuat pernyataan Menteri Kesehatan Terawan yang menyebut ada belasan ribu relawan nakes yang siap membantu penanganan Covid-19 jika dibutuhkan atau nakes cadangan, menuai kritik.
Dalam pidatonya yang ditayangkan di akun Youtube Setpres belum lama ini, total relawan tenaga kesehatan Nusantara Sehat dan internship yang sudah ditempatkan sebanyak 16.286 orang. Mereka tersebar di rumah sakit Covid-19 dan laboratorium kesehatan.
Selain itu, ada 3.500 dokter internship yang siap diterjunkan untuk penanganan Covid-19. Ada 800-an tenaga kesehatan, termasuk dokter, yang juga siap ditempatkan.
Merujuk pada situs Kementerian Kesehatan, internship adalah pemahiran dan pemandirian dokter yang baru lulus pendidikan untuk penyelarasan hasil pendidikan dengan kondisi lapangan. Masyarakat mengenalnya dengan istilah co-ass.
“Ada yang gagal paham pejabat Kemenkes tentang kematian yang tinggi juga nakes, yaitu kegagalan sistem layanan kesehatan publik untuk atasi pandemi. Akar masalahnya bukan hanya masalah SDM [sumber daya manusia]. Lakukan reformasi segera sistem kesehatan publik di Indonesia,” kata epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Pandu Riono, melalui akun Twitternya, Rabu.
Tim Mitigasi PB IDI menyebut dari total 116 dokter yang gugur tersebut, 60 di antaranya merupakan dokter umum, 53 dokter spesialis, dan dua dokter residen atau yang masih menjalani pendidikan dokter spesialis.
Dari jumlah tersebut juga diketahui terdapat tujuh dokter bergelar guru besar atau profesor yang wafat, yakni tiga guru besar dokter umum dan empat guru besar dokter spesialis. Kasus kematian dokter paling banyak terjadi di Jawa Timur sebanyak 29 orang, Sumatra Utara 21 orang, DKI Jakarta 15 orang, Jawa Barat 11 orang, dan Jawa Tengah delapan orang.
Sedangkan dokter spesialis yang paling banyak meninggal saat penanganan Covid-19 secara langsung maupun tidak langsung. Jumlah itu terdiri atas delapan dokter spesialis penyakit dalam, tujuh dokter spesialis bedah, dan lima dokter spesialis kebidanan dan kandungan.
Tambah Delapan
Sementara itu, Kota Solo menambah delapan kasus baru Covid, Rabu. Enam kasus disumbang dari warga yang menjalani uji swab mandiri dan dua pasien suspect naik kelas jadi kasus konfirmasi.
Ketua Pelaksana Satgas Penanganan Covid-19 Solo, Ahyani, mengatakan seperti kasus-kasus sebelumnya, pihaknya bakal menggelar tracing menyasar seluruh kontak erat dan dekat.
“Sebagai upaya menekan persebaran, tentu kami akan tracing. Nah, yang kami khawatirkan kalau ada ekor yang berlapis seperti klaster lintas keluarga. Makanya untuk sementara yang kondisinya sehat atau asimtomatik wajib karantina mandiri di rumah, kecuali kalau rumahnya tidak memadai, bisa menghubungi kami untuk dirujuk ke rumah sakit (RS),” kata dia, saat dihubungi Koran Solo, Rabu.
Ahyani menyebut kendati kasus harian terus bertambah namun jumlah kesembuhan juga bertambah. Sehingga, angka kasus aktifnya ikut dinamis. Kumulatif kasus Covid-19 di Solo yang menembus 562 orang. Perinciannya, 422 pasien pulang/sembuh, 84 menjalani isolasi mandiri, 32 rawat inap, dan 24 meninggal dunia.
Pada saat yang sama, transmisi lokal penularan virus Covid-19 di Sukoharjo terus bertambah. Penularan virus Covid-19 berasal dari empat klaster lama yang muncul pada beberapa waktu lalu.
Penularan berasal dari klaster lama terjadi pada pekan ini. Ada empat klaster lama yakni klaster keluarga di Desa Tiyaran, Kecamatan Bulu, karyawan rumah sakit di Solo, karyawan badan usaha milik (BUM) Desa dan klaster keluarga di Desa Madegondo, Kecamatan Grogol.
Juru Bicara Percepatan Penanganan Covid-19 Sukoharjo, Yunia Wahdiyati, mengatakan klaster keluarga Tiyaran muncul pada pekan lalu. Kala itu, ada empat kontak erat lini pertama pasien positif terinfeksi virus Covid-19. Kini, empat kontak erat lainnya terkonfirmasi virus corona.
”Jumlah pasien positif klaster Tiyaran sebanyak sembilan orang. Bisa bertambah jika kontak erat lainnya juga terpapar virus Covid-19,” kata dia, saat dihubungi Koran Solo, Rabu.
Klaster karyawan rumah sakit di Solo muncul pada beberapa pekan lalu. Kala itu, ada tiga karyawan rumah sakit yang terpapar virus Covid-19. Terjadi transmisi penularan terhadap kontak erat pasien positif pada pekan ini. Sehingga jumlah total pasien positif dari klaster rumah sakit swasta di Solo sebanyak 11 orang.
Sedangkan klaster karyawan BUM Desa bertambah empat pasien positif. Sebelumnya, ada tiga karyawan BUM Desa yang terinfeksi virus Covid-19. ”Transmisi penularan virus Covid-19 tak hanya anggota atau kerabat keluarga melainkan warga setempat. Seperti yang terjadi di klaster keluarga di Madegondo, Kecamatan Grogol,” ujar dia. (Adib M.A./ Detik/Antara/ Liputan6/Mariyana Ricky P.D./Bony Eko Wicaksono)