Ginda: Swab Test Tak Bisa Ditawar

SOLO—Persis Solo urung melakukan tes usap (swab test) pada para pemain saat mereka berkumpul kembali di Kota Bengawan.
Laskar Sambernyawa berdalih pelaksanaan tes usap bisa mengurangi masa persiapan tim jelang Liga 2 2020. Padahal swab test sebelum latihan perdana menjadi salah satu protokol kesehatan yang dianjurkan PT Liga Indonesia Baru (LIB).
Sebagai gantinya, manajemen akan melakukan tes cepat (rapid test) pada pemain untuk menghemat waktu. Sebagai informasi, penggawa tim dikabarkan bakal kembali dari kampung halamannya menuju Solo pada Rabu-Kamis (23-24/9/2020). Sebelum berkumpul di mes dan berlatih, para pemain bakal menjalani tes kesehatan untuk mengantisipasi persebaran Covid-19.
Pembina Pasoepati, Ginda Ferachtriawan, menyayangkan manajemen yang berencana menghapus tes usap pada para pemain setiba mereka di Solo. Menurut Ginda, swab adalah metode paling akurat untuk mengetahui adakah virus corona di tubuh seseorang. Lelaki yang juga anggota DPRD Solo ini meminta Persis tidak main-main dengan kesehatan penggawa tim.
“Sebagai klub profesional, arahan PT LIB untuk mengadakan swab test mestinya dipenuhi. Jangan sampai misal ada satu pemain yang tertular dan tidak terdeteksi, lalu memicu klaster baru. Kalau seperti itu persiapan tim bisa ambyar,” ujarnya saat dihubungi Espos, Selasa (22/9/2020).
Ginda menegaskan tes cepat tidak bisa di­andalkan untuk mengetahui virus corona karena sifatnya hanya screening awal. Dalam sejumlah penelitian, validitas rapid test di Indonesia bahkan hanya sekitar 60%. Ginda menyebut persiapan yang mepet mestinya tak dijadikan alasan untuk meniadakan swab test. “Kalau manajemen berkomitmen terhadap kesehatan tim secara keseluruhan, swab ini tak bisa ditawar.”
Manajer Persis, Hari Purnomo, membenarkan rencana mengganti swab test dengan rapid test untuk para pemain yang baru tiba dari luar kota. Hari beralasan butuh waktu dua hingga tiga hari untuk menunggu hasil tes keluar. Manajemen juga butuh waktu sekitar dua hari untuk mencari tempat tes. “Kalau swab kelamaan, waktu latihan bisa semakin mepet. Rapid test kami pikir cukup, kalau ada yang reaktif kami sudah menyiapkan tempat isolasi mandiri,” ujar Hari. (Chrisna Chanis Cara)