245.306 Debitur Peroleh Restrukturisasi Kredit

Farida Trisnaningtyas

SOLO—Jumlah debitur yang telah direstrukturisasi kreditnya oleh Industri Jasa Keuangan (IJK) Soloraya hingga pekan ketiga September 2020 sebanyak 245.306 debitur. Debitur sebanyak itu dengan outstanding kredit senilaiRp18,31 triliun. Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo, Eko Yunianto, mengatakan pihaknya senantiasa memberikan dukungan dalam upaya pemulihan ekonomi nasional (PEN).
Dalam mengoptimalkan implementasi PEN khususnya di Soloraya, OJK Solo secara aktif melakukan monitoring dan berkoordinasi dengan berbagai stakeholder di daerah.
“Restrukturisasi kredit tumbuh, tapi landai, tidak seperti bulan-bulan lalu. Kami mengimbau perbankan proaktif bagi debitur yang mungkin belum terjangkau untuk memanfaatkan restrukturisasi kredit ini,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (24/9).
Eko menjelaskan restrukturisasi kredit oleh IJK Soloraya hingga pekan ketiga September 2020 sebanyak 245.306 debitur. Dari jumlah sebanyak itu, 180.976 debitur di antaranya merupakan debitur perbankan (bank umum dan BPR/BPRS). Debitur perbankan ini dengan outstanding kredit Rp16,28 triliun.
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 4
Di sisi lain, sebanyak 64.330 debitur dari industri keuangan nonbank, yakni dari perusahaan pembiayaan, Pegadaian, dan Permodalan Nasional Madani (PNM). Outstanding kredit industri keuangan nonbank senilai Rp2,03 triliun.
Di samping itu, secara nasional restrukturisasi kredit sampai dengan akhir Agustus 2020 sebanyak 11,74 juta debitur dengan outstanding kredit sebesar Rp1.030,59 triliun. Rinciannya, sebanyak 7,19 juta debitur perbankan (bank umum dan BPR/S) dengan outstanding kredit Rp863,62 triliun.
Selain itu, sebanyak 4,55 juta debitur industri keuangan nonbank dengan outstanding kredit Rp166,97 triliun. “OJK akan terus mendorong perbankan untuk bersama-sama menggerakkan sektor riil melalui penyaluran kredit atau pembiayaan kepada debitur di Soloraya dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian, penerapan manajemen risiko serta penerapan mekanisme pemantauan secara efektif untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan dalam penerapan ketentuan atau moral hazard,” imbuhnya.
Dalam hal ini, IJK Soloraya meliputi perbankan dan nonbank telah menindaklanjuti kebijakan stimulus perekonomian sebagaimana tertuang dalam POJK No. 11/POJK.03/2020 dan POJK No. 14/POJK.05/2020 dengan melakukan restrukturisasi terhadap debitur-debitur yang terdampak secara langsung atau tidak langsung persebaran Covid-19.
Sementara itu, Pemimpin Kantor Cabang BRI Solo Slamet Riyadi, Agustina Wulandari, mengatakan terkait restrukturisasi kredit pihaknya mempertimbangkan berbagai faktor, salah satunya ada profil dan prospek bisnis yang dijalankan masing-masing debitur.
Agustina menggarisbawahi pentingnya komunikasi yang terjalin antara bank dengan debitur. Hal ini untuk mengetahui kondisi dan kemampuan bayar debitur sehingga bank bisa membantunya. Ini meliputi iktikad debitur, prospek bisnis debitur, kerja sama, dan sejauh mana debitur kooperatif.
“Skema satu debitur dengan lainnya berbeda-beda. Ada penangguhan pembayaran bunga pokok, ada penurunan suku bunga, penjadwalan ulang pembayaran kredit, dan sebagainya,” jelasnya.