Sumber Air di Tengah Batu

Moh. Khodiq Duhri

SRAGEN—Warga Dukuh Precet, Desa Girimargo, Kecamatan Miri, Sragen, sudah tidak asing dengan sumur dandang. Karena sudah kerap melihat, mereka menganggap sumur dandang itu sebagai hal biasa.
Namun, bagi warga di luar Desa Girimargo, keberadaan sumur dandang itu terbilang unik. Ya, sumur dandang berbeda dengan sumur pada umumnya.
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 1
Lubang sumur dandang itu berada di tengah batu besar. Sebagian besar permukaan batu itu terpendam dalam tanah. Hanya permukaan batu bagian atas yang terlihat.
Di tengah batu itu, terdapat beberapa lubang. Salah satu lubang berdiameter sekitar 50 cm terdapat sumber air yang tidak pernah kering meski musim kemarau sekalipun. Warga sekitar menyebutnya dengan sumur dandang.
“Tidak ada yang tahu sejak kapan sumur dandang itu muncul. Sejak zaman nenek moyang kami, sumur dandang itu sudah ada. Dulu hampir semua warga sini ngangsu air ke sumur dandang. Sekarang juga masih ada warga yang biasa ngangsu air tapi hanya beberapa warga,” ujar Suwarni, 47, warga setempat kala berbincang dengan Koran Solo, Kamis (24/9/2020).
Warga sekitar percaya sumur dandang itu dibuat oleh seseorang yang punya kemampuan magis seperti halnya seorang wali. Warga percaya sumur itu dibuat bukan sembarang orang karena lubang sumur itu berada di tengah-tengah batu.
Lubang pada permukaan batu itu memang bisa dibuat secara manual oleh manusia, namun munculnya sumber air melimpah dari lubang batu itu masih menjadi tanda tanya bagi pengunjung.
”Saya belum bisa mencerna, bagaimana bisa sumber air itu muncul di lubang batu,” kata Yoto Teguh Pambudi, warga Desa Kalangan, Kecamatan Gemolong, Sragen, yang berkunjung ke lokasi.
Warga percaya di balik batu besar itu ada sumber air sehingga bisa keluar saat batu itu berlubang. Namun, bagaimana proses terbentuknya lubang di tengah batu itu belum ada yang bisa menjelaskan. “Disebut sumur dandang karena bentuknya seperti dandang. Dari atas lubangnya lebih kecil, tapi sebetulnya bagian dalam itu ada lubangnya lebih besar. Dari dulu sumur itu sudah ada dan warga sekitar mengangap sumur itu sebagai hal biasa karena sudah sering melihatnya,” ujar Kepala Desa Girimargo, Samino.
Berjarak sekitar 10 meter dari sumur dandang juga terdapat sebuah belik dengan sumber air yang melimpah. Pada awalnya, air dari belik itu disuplai ke rumah-rumah warga melalui program Pamsimas.
Akan tetapi, lokasinya yang relatif jauh dari permukiman membuat mesin pompa yang dipasang di belik itu akhirnya hilang dicuri. Warga kemudian membangun sumur dalam yang tak jauh dari lingkungan mereka supaya lebih mudah diawasi. “Padahal air dari belik itu sangat jernih. Kalau dikonsumsi juga enak, tidak ada zat kapur. Karena pompanya dicuri orang, akhirnya warga membuat sumur baru melalui program Pamsimas,” ujar Suwarni.