Dominan Pelunasan, Kredit Anjlok 318,3%

Hendri Tri Widi Asmoro
JAKARTA—Penyaluran kredit perbankan terus melambat. Pada tahun berjalan, kredit yang dikucurkan tercatat jeblok. Bahkan portofolio perbankan tergerus karena banyaknya pelunasan dibandingkan pertumbuhan pembiayaan.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada konferensi pers virtual Selasa (13/10/2020) menyebutkan penyaluran kredit per September 2020 nyaris stagnan, yakni naik 0,12% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya (yoy).
Kredit bank terus melambat dibandingkan dengan bulan sebelumnya Agustus yang tumbuh sebesar 1,04%.
“Permintaan [kredit] domestik belum kuat dan kehati-hatian perbankan akibat berlanjutnya pandemi Covid-19,” ujar Perry.
Berdasarkan perhitungan Bisnis, dengan pertumbuhan 0,12% (yoy) per September 2020, berarti total kredit perbankan mencapai Rp5.586,69 triliun.
Apabila dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu (year to date/ytd), berarti portofolio kredit perbankan justru merosot Rp96,31triliun. Pasalnya, per Desember 2019 kredit perbankan tercatat mencapai Rp5.683 triliun.
Kondisi ini kontras dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Sepanjang tahun berjalan per September 2019 (ytd), kredit perbankan masih mampu mencatatkan pertumbuhan bersih sebesar Rp222 triliun.
Angka itu diperoleh dari posisi kredit pada Desember 2018 sebesar Rp5.358 triliun menjadi Rp5.580 triliun pada September 2019.
Apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun berjalan, kredit perbankan tercatat merosot 318,3%. Dari posisi tahun September 2019 (ytd) Rp222 triliun menjadi minus Rp96,31 triliun pada September 2020 (ytd).
Perbankan kesulitan dalam menyalurkan kredit karena permintaan tengah merosot. Bahkan, komitmen kredit yang telah diberikan kepada debitur tidak dicairkan. Pelaku usaha sendiri khawatir dalam mencairkan kredit karena permintaan domestik masih lemah karena pandemi.
Lonjakan kredit ‘menganggur’ dirasakan oleh bank besar. PT Bank Central Asia Tbk. mencatatkan komitmen kredit yang belum dicairkan (undisbursed loan) sebesar Rp200 triliun per Juni 2020.
Terendah
Demikian juga undisbursed loan yang terjadi pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. mencapai Rp176,8 triliun per Agustus 2020.
Jika melihat sepanjang tahun berjalan, angka realisasi tersebut merupakan pertumbuhan terendah (lihat tabel).
Tidak hanya itu, jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada Mei 2020 yang sebesar 3,04% yoy, tentu cukup besar perlambatan yang terjadi pada bulan akhir kuartal III tahun ini.
Padahal, dalam paparan OJK saat rapat bersama Komisi XI DPR RI pada Senin (29/6/2020) disebutkan bahwa realisasi kredit pada Mei 2020 yang tumbuh melambat sebesar 3,04% tersebut merupakan terendah sejak 1998.
Kendati kredit terus melambat, BI masih optimistis fungsi intermediasi perbankan akan mendapat momentum percepatan penyaluran akhir tahun seiring dengan belanja pemerintah yang kuat.
Menurut Perry, akhir tahun akan menjadi momentum perbaikan seiring dengan kuatnya belanja pemerintah yang akan menggerakkan ekonomi dan pertumbuhan kredit.
“Ke depan, sinergi pemerintah dan BI itu diperkuat. Pemerintah akan mepercepat relasisasi belanja, dan BI akan membantunya dari sisi likuditas. Ini akan mempercepat permintaan kredit,” katanya.
Dia menyampaikan efek positif dari relaksasi kredit dan subsidi bunga untuk korporasi dan UMKM akan lebih kuat pada akhir tahun ini.
Lagi pula, kondisi likuidtas perbankan saat ini tergolong cukup kuat dan mampu mengakomodasi permintaan kredit yang tinggi pada akhir tahun.(JIBI/Bisnis.com)