Batik Bersejarah Tersebut Segera Masuk Museum

CHRISNA CHANIS CARA
Pendukung Persis Solo kiranya belum lupa dengan penampilan unik Widyantoro saat menjamu PSIS Semarang di Stadion Manahan, Juli 2017 silam.
Di pinggir lapangan, Widyantoro yang saat itu membesut Persis tampil rapi dengan kemeja batik lengan panjang warna hijau kombinasi merah. Asisten pelatih Albert Rudiana, I Komang Putra dan Budi Kurnia pun kompak mengenakan batik berwarna cokelat gelap motif Cendrawasih.
Meski batik merupakan kain warisan Nusantara, amat jarang pelatih Indonesia mengenakan kain tradisional itu saat pertandingan. Widyantoro sendiri sebelumnya lebih akrab dengan kemeja polos lengan panjang ketika pertandingan. Namun, sanksi menonton tanpa atribut yang dijatuhkan PSSI pada Pasoepati memantik simpati Wiwid, sapaan akrabnya. Sejak saat itu Wiwid hobi mengenakan batik, pakaian yang sama-sama dikenakan suporter saat menjalani sanksi.
Tiga tahun berselang, Wiwid ternyata masih menyimpan batik bersejarah tersebut di kediamannya di Magelang. Mendengar hal itu, Mayor Haristanto langsung menghubungi pelatih yang kini menangani Persijap Jepara itu.
Mayor ingin batik Wiwid melengkapi koleksi Museum Titik Nol Pasoepati. “Saya ngobrol dengan coach Wiwid sejak 19 Juli kemarin. Saya menilai batik ini sangat ikonik dengan sosok beliau saat melatih Persis,” ujar pendiri Museum Titik Nol Pasoepati itu saat berbincang dengan Espos, Kamis (15/10/2020).
Pucuk dicinta ulam tiba. Dengan bantuan pustakawan Universitas Tidar Magelang, Dicki Agus Nugroho, Mayor “menjemput” batik tersebut di kediaman Wiwid di Magelang. Batik itu rencananya diantar Dicki untuk dipajang di museum, Sabtu (17/10/2020).
“Dicki kebetulan pernah magang di Republik Aeng-aeng saat mahasiswa. Sekarang dia tinggal di Magelang. Jadi saya minta tolong dicangkingke sekalian batiknya saat pulang kampung,” ujar Presiden Republik Aeng-aeng itu sambil terkekeh.
Mayor menilai batik milik Wiwid dapat menjadi pembelajaran bahwa sepak bola bisa menjadi media mengenalkan budaya Nusantara. “Mungkin coach Wiwid menjadi satu-satunya pelatih di dunia yang berbatik. Kehormatan bagi saya bisa menyimpan batik ini untuk edukasi generasi muda.”