76 Kasus Baru di Tiga Wilayah

Mariyana Ricky P.D.
SOLO—Kasus Covid-19 di Soloraya belum menunjukkan tanda-tanda menurun. Kota Solo menambah 28 kasus, Boyolali 34 kasus, dan Klaten sebanyak 14 kasus.
Ketua Pelaksana Satgas Penanganan Covid-19 Solo. Ahyani, mengatakan tambahan 28 kasus tersebut berasal dari sejumlah klaster baru, yakni klaster keluarga dari Kelurahan Kadipiro, Sangkrah, Gajahan, Jagalan, dan Purwosari.
“Kelurahan Kadipiro ada tambahan 7 ekor dari 3 induk kasus, kemudian Kelurahan Mojosongo ada 6 tambahan. Klaster lain bertambah 1-2 ekor,” kata dia, saat dihubungi Koran Solo, Jumat (16/10/2020) malam.
Ahyani meminta masyarakat mengetatkan protokol kesehatan meski berada di dalam rumah. Terlebih, klaster-klaster baru yang tercatat mayoritas disumbang dari lingkungan keluarga.
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 4
“Boleh dibilang bukan karena hajatan begitu, tapi karena tidak disiplin protokol kesehatan. Penambahan tiap hari kan banyak sekali,” imbuhnya.
Perincian, tambahan 28 kasus itu dari domisili, meliputi masing-masing seorang dari Kelurahan Sondakan, Tipes, Gajahan, Sangkrah, Jebres, dan Jagalan. Kemudian 4 kasus dari Kelurahan Bumi, 3 dari Purwosari, 6 dari Kelurahan Mojosongo, 2 dari Banyuanyar, dan 7 dari Kadipiro.
Kumulatif kasus menjadi 892 orang, dengan perincian 648 pulang/sembuh, 150 isolasi mandiri, 62 rawat inap, dan 32 meninggal dunia. Seorang warga Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres menjadi kasus meninggal akibat Covid-19 ke-32 di Kota Solo.
Sedangkan, catatan kumulatif pasien suspek menyentuh 1.245 orang, dengan rincian 1.150 discard, 21 dirawat inap (suspek aktif), 8 isolasi mandiri, dan 66 suspect meninggal dunia.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, Ratri S. Survivalina, mengatakan berdasarkan data per Jumat (16/10/2020), total kasus Covid 19 di Boyolali sebanyak 993 kasus. Jumlah itu terdiri dari kasus yang dirawat sebanyak 136 orang, isolasi mandiri 79 orang, selesai isolasi 741 orang dan meninggal 37 orang. Dari data itu angka kematian masih sekitar 4% dan angka kesembuhan sekitar 75%.
Mengenai penambahan kasus, Ratri mengatakan pada dua hari terakhir Boyolali kembali mengalami penambahan kasus yang cukup banyak, yakni 34 kasus. ”Untuk penambahan memang cukup banyak, sebab sebelumnya Boyolali ini sudah cukup landai,” kata dia.
Penambahan kasus pada Kamis (15/10/2020) ada 31 kasus, kemudian pada Jumat (16/10/2020) ada tiga kasus. Penambahan kasus itu tersebar di 14 kecamatan. Untuk Kecamatan Sawit dan Kecamatan Banyudono masing-masing ada lima kasus.
Di Kecamatan Karanggede ada empat kasus. Kecamatan Nogosari dan Gladagsari masing-masing ada tiga kasus. Kemudian di Kecamatan Ampel, Boyolali, Mojosongo, Tamansari dan Teras masing-masing ada dua kasus.
Sedangkan untuk Kecamatan Simo, Sambi, Ngemplak dan Andong masing-masing ada satu kasus. ”Pertambahan kasus itu paling banyak merupakan kontak erat dari kasus sebelumnya,” kata dia.
Dari 34 tambahan kasus itu mayoritas merupakan kasus tanpa gejala. Menurut Ratri hanya ada lima kasus yang dikategorikan sebagai kasus bergejala. Terkait dengan adanya penambahan kasus yang cukup banyak itu, Ratri kembali mengingatkan masyarakat agar tidak bosan dan terus semangat menjalankan protokol kesehatan.
Belasan Terpapar
Jubir PP Covid-19 Klaten, Cahyono Widodo, mengatakan 14 warga Klaten terpapar virus corona, Jumat. Belasan warga Klaten yang terpapar virus corona itu berasal dari beberapa kecamatan.
Perinciannya seorang asal Cawas (APM, 27/laki-laki); Wonosari (AMN, 41/laki-laki); seorang asal Tulung (RW, 24/perempuan); seorang asal Karangnongko (WI, 22/laki-laki); seorang asal Klaten Selatan (RSS, 27/laki-laki).
Penambahan terbanyak berasal dari Delanggu, yakni mencapai empat orang. Masing-masing BY, 72 (laki-laki), MS, 86 (laki-laki), SN, 52 (laki-laki), HH, 25 (perempuan).
Di luar itu terdapat seorang warga asal Trucuk yang terpapar virus corona, FM, 34 (perempuan). Selanjutnya, seorang warga masing-masing berasal dari Gantiwarno, Bayat, Ngawen, dan Prambanan. Inisial masing-masing warga itu berturut-turut SNR, 22 (perempuan), ENG, 15 (perempuan), RP, 30 (perempuan), dan S, 54 (laki-laki).
”Tujuh kasus karena kontak erat dengan pasien positif Covid-19 di waktu sebelumnya [sisanya terpapar saat aktivitas sehari-hari di Klaten dan di luar kota],” kata dia, kepada Koran Solo.
Selain menyebutkan 14 penambahan kasus terkonfirmasi, Cahyono Widodo, mengatakan di Klaten terdapat 11 pasien positif yang sembuh.
Juru Bicara Percepatan Penanganan Covid-19 Sukoharjo, Yunia Wahdiyati, mengatakan angka kematian pasien positif di Sukoharjo melebihi standar yang ditetapkan World Healt Organisation (WHO) yakni maksimal lima persen.
”Jumlah total pasien positif yang meninggal dunia per 16 Oktober sebanyak 41 orang. Ada sejumlah kecamatan dengan angka kematian pasien positif di atas lima persen sesuai standar WHO. Ini salah satu faktor dominan naiknya status dari zona orange menjadi zona merah,” kata dia, saat dihubungi Koran Solo, Jumat.
Yunia menyebut daerah dengan angka kematian tinggi di wilayah Kecamatan Kartasura, Gatak, Polokarto, Nguter, Sukoharjo, Bendosari dan Baki. Seluruh pasien positif yang meninggal dunia merupakan dengan gejala. Sebagian besar memiliki penyakit penyerta atau komorbid.
Gugus tugas bakal berkoordinasi dengan delapan rumah sakit rujukan Covid-19 di Sukoharjo. Para pasien positif dengan gejala bakal menjalani terapi pengobatan di rumah sakit rujukan. Langkah ini dilakukan untuk menekan angka kematian pasien positif.
”Kami juga akan mengoptimalkan berbagai program pencegahan Covid-19 seperti Jogo Tonggo di setiap desa. Penambahan pasien positif terbanyak selama sepekan terakhir disumbang klaster keluarga. Rata-rata jumlah pasien positif dalam satu keluarga lebih dari lima orang. Bahkan ada 13 orang pasien positif dalam satu keluarga,” ujar dia.
Langkah lainnya, lanjut Yunia, gugus tugas bakal memperkuat uji swab dengan metode PCR atau polymerase chain reaction dengan membuka layanan uji swab di 12 puskesmas di setiap kecamatan. Hal ini bagian dari penguatan jaringan laboratorium di setiap daerah guna mempercepat pengetesan spesimen.
Jumlah pasien positif per 16 Oktober sebanyak 839 orang. Perinciannya, jumlah pasien positif dengan gejala sebanyak 316 orang dan tanpa gejala sebanyak 523 orang. ”Pekan lalu, jumlah spesimen yang diperiksa lebih dari 1.000 orang per pekan. Salah satu upaya gugus tugas untuk memutus mata rantai penularan Covid-19,” kata dia. (Bayu Jatmiko Adi/Ponco Suseno/Boni Eko Wicaksono)