Jadi Orang Tua Helikopter?

Alya Nur Hana
Setiap orang tua pasti ingin mem­persembahkan yang terbaik bagi sang anak. Terutama mengenai bagaimana cara mengasuh.
Namun, pola asuh yang diterapkan kepada anak tanpa sadar seringkali membuat anak merasa tidak nyaman. Salah satu yang kerap ditemui adalah pola asuh helikopter.
Pola asuh helikopter artinyamengasuh anak dengan over protective, terlalu mengekang anak demi menjaga keamanan.
Disebut pola asuh helikopter karena bagai helikopter yang melayang-layang di atas kepala anak. Orang tua jenis ini terlalu memegang kendali atas kehidupan anak. Mereka ingin terlibat dalam kehidupan anak di segala aspeknya. Dan langsung menukik untuk menyelamatkan anak ketika ada masalah.
Ada beberapa ciri-ciri helicopter parenting, pertama ingin tahu segalanya. Sah-sah saja, namun jangan menyepelekan privasi, meski itu anak sendiri. Anak akan merasa tidak percaya diri karena tidak diberikan kepercayaan oleh orang tua.
Kedua, mengatur semuanya. Anak akan sulit untuk mengungkapkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan, apa yang mereka pikirkan dan rasakan, karena tidak diberikan wadah berekspresi.
Ketiga, melarang ini-itu. Anak terus-terusan hidup di zona nyaman dan sulit berkembang. Keempat, ikut campur mengatasi masalah. Membantu boleh, namun berilah anak kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka bisa bertanggung jawab atas hidup mereka.
Kelima, melarang anak pergi seorang diri. Anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang manja dan kurang mandiri. Meski sebenarnya niat orang tua baik, jangan abaikan dampaknya terhadap anak. Sebab, akan memengaruhi bagaimana karakter anak terbentuk nantinya.
Kebiasaan over protective ini tidak dapat berhenti begitu saja, bahkan bisa terlanjur sampai dewasa jika tidak ada yang menyadari dan tidak ada yang sanggup menghentikan.
Dilansir Okezone.com, sebuah studi menyebutkan orang tua over protective tidak hanya membuat anak menjadi dewasa yang tidak mandiri, tapi juga dapat membuat mereka depresi dan cemas, serta menurunnya kepuasan hidup dan masalah kesehatan.
Dampak fatal pun dapat ditimbulkan, layaknya bom waktu. Anak suatu saat akan mungkin menjadi pemberontak jika sudah tidak tahan lagi dengan segala kekangan yang diberikan.
Yang lebih parah, anak menjadi kejam, untuk mendapatkan kembali rasa agensi atas hidup mereka sendiri. Dengan demikian, mereka cenderung berwatak mudah marah dan kurang sabar. (Okezone/Detik.com)