Milenial Cimahi Bikin Tas Antiair, Bertahan di Tengah Pandemi

Usia tak melulu jadi jaminan kesuksesan seseorang. Banyak orang bisa sukses padahal usianya masih muda. Hal itu pula yang dibuktikan oleh Reza Dwi Alamsyah.
Pria berusia 26 tahun warga Kota Cimahi kini tengah mencicipi buah kesuksesan dari kehidupan prihatin yang dijalaninya semasa kuliah dulu. Di usia muda, Reza saat ini sedang berusaha melebarkan sayap bisnis tas miliknya.
Berawal dari keinginan membeli sebuah tas yang tahan terhadap segala cuaca. Termasuk saat hujan, sebab ia pernah kehujanan, padahal di dalam tas yang dibawanya ada sebuah laptop. Namun, tas yang ia inginkan ternyata harganya cukup mahal.
Dari sana lah Reza mulai terpikir untuk membuat produk sendiri pada 2016. Kemudian ia menyulap bangunan sederhana di Jalan Pesantren, Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi tahun menjadi tempat yang jadi sumber uang dengan berbagai produk tas miliknya.
”Akhirnya saya berpikir untuk bikin sendiri, ya dari kecil-kecilan dulu. Lalu saya kasih lihat ke teman-teman, Alhamdulillah responnya baik dan menarik,” ungkap Reza, Kamis (15/10/2020).
Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2018 Reza mulai memikirkan brand baru sebagai paten dari tas produksinya. Hingga akhirnya diproduksi massal pada 2019 namun dengan sasaran jual masih di lingkup teman pergaulannya.
Kurang puas dengan penjualannya, Reza kemudian merambah memanfaatkan media sosial dan aplikasi e-commerce. ”Sempat jual ke teman, tapi kurang mencapai target penjualan. Jadi di 2019 saya fokus jualan online. Di situ kan ad review jujur dari pembeli apa yang bagus dan kekurangannya,” tuturnya.
Ada berbagai jenis tas yang diproduksinya bersama 16 pegawainya. Dari mulai tas pinggang, tas ransel, tas selempang, tas tangan, hingga tas gitar.
Dari sisi konsep, ia mengedepankan nilai lokal Indonesia seperti pada desain hingga materialnya. Selain itu untuk menunjang penjualan, Reza lebih mengedepankan tas yang bisa dipakai dalam kondisi apapun dan di manapun.
”Kemudian yang pastinya tahan air, buat orang dengan mobilitas tinggi. Itu terilhami sewaktu saya kuliah, tas saya kebasahan karena kehujanan. Padahal bawa laptop,” terang Reza.
Kerja kerasnya dalam mengembangkan tas dengan brand sendiri membuahkan hasil. Dengan harga jual terendah Rp190.000 dan termahal Rp1,3 juta, ia mampu meraup Rp90 juta- Rp100 juta dalam sebulan.
Dengan barang dan pegawai yang berkualitas, tas New Light asli Cimahi kini sudah tembus ke Jakarta, Medan, Palembang, dan Kalimantan. ”Ada juga pembeli dari Singapura dan Malaysia. Dari wilayah Bandung Raya justru belum banyak yang tahu,” paparnya.
Namun hal yang tak diduga secara tiba-tiba menimpa usahanya. Akibat pandemi Covid-19 membuat penurunan penjualan sangat terasa. Belakangan ia kesulitan melainkan kesulitan mencari bahan baku padahal pembeli selalu menunggu.
Omzet Rp100 juta yang selalu ia dapat sebelum pandemi Covid-19 menurun hingga Rp60 juta per bulan. Namun ia bersyukur masih bisa bertahan tanpa harus merumahkan belasan pegawainya.
”Jadi memang kehilangan momentum pas pandemi ini karena banyak toko bahan yang tutup. Kalau pembeli ada terus,” tandasnya. (Detik)