88 Anak Terpapar Corona

Mariyana Ricky P.D.
SOLO—Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo menyebut jumlah anak terpapar corona di Kota Bengawan meningkat selama dua bulan terakhir. Dari September hingga 19 Oktober, sebanyak 37 anak dinyatakan positif Covid-19.

Sedangkan jumlah total anak yang terpapar sejak awal pandemi mencapai 88 orang. Data DKK menunjukkan kasus pada anak dapat ditekan pada awal pandemi atau tepatnya setelah penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB) pada Maret lalu.
Sebulan berikutnya pada April, tercatat dua anak tertular, kemudian pada Mei ada dua anak.
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 1
Kepala DKK Solo, Siti Wahyuningsih, mengatakan jamaknya anak tertular Covid-19 dari orang tua atau orang terdekat karena mereka tidak belajar tatap muka di sekolah.
Namun, seiring pelonggaran yang terjadi, mereka bisa saja tertular saat beraktivitas di luar. “Kalau anak tidak menjaga protokol kesehatan saat beraktivitas di tempat publik, tentu risiko mereka tertular semakin besar,” kata dia, dihubungi Koran Solo, Selasa (20/10/2020).
Ning, panggilan akrabnya, mengatakan mayoritas anak yang tertular tersebut tidak bergejala atau asimtomatik. Sehingga, tanpa dilakukan uji swab, maka tidak diketahui apakah anak itu tertular Covid-19 atau tidak.
Sementara tanpa ada gejala, anak akan merasa baik-baik saja dan tetap bermain. Ketika bermain bersama teman sebaya itulah, mereka bisa menjadi pembawa virus dan menularkannya.
“Catatan anak yang terpapar ini adalah yang usianya di bawah 18 tahun. Dari angka itu, ada yang bayi, balita, remaja. Semuanya masuk daftar tersebut,” beber Sekretaris Satuan Petugas (Satgas) Penanganan Covid-19 itu.
Sebelumnya, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Solo, Hari Wahyu Nugroho, mengatakan selama ini kasus Covid-19 pada anak akibat tertular dari orang tua atau keluarga di rumah.
Pelonggaran anak berkunjung di tempat publik meningkatkan potensi penularan karena mereka bertemu lebih banyak orang. Seperti, ketika mereka singgah ke pusat-pusat kuliner. Saat anak makan dan harus melepas masker, mereka rentan terpapar virus SARS CoV-2.
Apalagi jika tak sengaja bersentuhan dengan penderita yang asimtomatik. “Makanya, saya mendukung agar mereka lebih baik membeli makanan untuk dibawa pulang daripada makan di tempat. Pelonggaran ini saya harapkan tidak membuat kasus meningkat, ya, meski risiko mereka terpapar tinggi sekali dengan adanya pelonggaran ini,” jelas dia.
Pelonggaran anak berkunjung ke tempat-tempat publik tidak lebih penting dibandingkan sekolah.  Sementara, di saat yang sama sekolah-sekolah masih ditutup dan pembelajaran tatap muka (PTM) belum juga dimulai.
Ketua Pelaksana Satgas Penanganan Covid-19 Solo, Ahyani, mengaku bakal mengevaluasi pelonggaran aturan anak-anak di atas usia 5 tahun untuk bepergian ke tempat publik per Selasa (13/10/2020) atau sepekan lalu. Jika terdapat kenaikan kasus maka aturan tersebut bisa kembali diperketat.
Kendati begitu, Ahyani akan melihat lebih detail data anak yang terpapar dari kategori usia. “Misalnya siapa yang lebih banyak tertular ini dari rentang umur berapa, anak balita, usia SD, SMP, atau SMA, seperti apa akan kami cek untuk mengambil kebijakan selanjutnya,” kata dia dihubungi terpisah.
Sementara itu, kebijakan Pemkot Solo telah melonggarkan aturan anak-anak di atas usia 5 tahun boleh bepergian ke umum berdampak pada meningkatnya kunjungan di tempat wisata.
Salah satunya adalah Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ). Kebun binatang tersebut mulai kedatangan pengunjung anak-anak. Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah (Perusda) TSTJ Solo, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santosa, mengatakan setelah SE diterbitkan pada pekan lalu, pihaknya langsung mengizinkan anak di atas usia 5 tahun untuk berkunjung di siang harinya.
“SE kami terima pada pagi hari, siangnya langsung datang pengunjung anak-anak. Protokol kesehatan kami jalankan, animo pengunjung mulai kelihatan,” kata dia, kepada wartawan, Selasa.
Bimo mengatakan pada Sabtu (17/10/2020) jumlah pengunjung yang sebelumnya di angka 50an langsung meningkat lima kali lipat menjadi 260. Kemudian pada Minggu (18/10/2020), jumlah pengunjung menyentuh 526 orang. Pengunjung sejumlah itu bergiliran datang dari pagi hingga sore sehingga tidak memunculkan kerumunan.
“Kami tidak membatasi per jam seperti dulu, tapi mempersilakan semua pengunjung masuk, baru kemudian diatur di dalam agar tidak bergerombol,” jelasnya.
Kapasitas maksimal yang ditetapkan TSTJ adalah 2.000 orang sehingga pengunjung di bawah angka itu masih sesuai dengan protokol kesehatan.
“Pada hari biasa seperti Senin ini, jumlah pengunjung sampai pukul 10.00 sudah 100 orang. Artinya memang terjadi peningkatan jumlah pengunjung yang signifikan,” beber Bimo.