Pesan Peduli Lingkungan dari Kota Susu

Bayu Jatmiko Adi
BOYOLALI—Aktivitas sederhana namun penuh pesan peduli lingkungan dilakukan warga di Bletengan, RT 02/RW 01, Desa Cepokosawit, Boyolali.
Pada Minggu (25/10/2020), warga di desa tersebut menggelar kegiatan memilah sampah.

Aktivitas yang diikuti puluhan orang itu merupakan kegiatan bulanan untuk menangani persoalan sampah di wilayah mereka.
Ada sekitar 27 keluarga yang terlibat dalam pengumpulan sampah. Sampah-sampah dari warga setiap bulannya dikumpulkan menjadi satu di bank sampah. Kemudian dipilah untuk dijual.
Ketua pengurus bank sampah, Heru Prasaja, mengatakan bank sampah terbentuk pada September 2018 lalu. ”Awalnya dulu ada program STBM [Sanitasi Total Berbasis Masyarakat] dari pemerintah, salah satu pilarnya adalah pengelolaan sampah,” jelas dia kepada Koran Solo, Minggu.
Menurutnya, persoalan sampah selalu muncul di tengah masyarakat. Bukan hanya di perkotaan, masalah sampah juga kerap muncul di desa. Melalui kegiatan bank sampah, diharapkan bisa menyelesaikan persoalan sampah itu.
”Di tempat kami, sampah dari rumah rumah warga sudah diarahkan untuk dikumpulkan. Sudah dikasih karung, sehingga warga sudah bisa memilah sampah dari rumahnya. Sampah plastik sendiri, kertas sendiri, sampah dapur sendiri,” kata dia.
Setelah terkumpul sebulan, disetorkan di pengurus bank sampah.  Awalnya kegiatan pengumpulan dan pemilahan sampah dilakukan dua pekan sekali. Namun semakin lama, jumlah sampah berkurang sehingga dilakukan tiga pekan sekali.
Dalam perjalanannya jumlah sampah kembali berkurang, khususnya untuk sampah kertas dan plastik, sehingga saat ini pengumpulan dilakukan sebulan sekali.
Setelah terkumpul, sampah yang masih dapat dimanfaatkan lantas dijual. Hasil penjualan masuk sebagai uang kas RT. Dari uang kas tersebut saat ini juga sudah dimanfaatkan untuk program lain, di antaranya adalah program kebun sayur dan program penyewaan alat rumah tangga untuk hajatan.
Sedangkan untuk sampah organik, dipilah sendiri secara berkala melalui program komposter. ”Untuk komposter juga dikelola bank sampah. Ada tiga titik komposter di RT kami. Hasil komposter sementara masih dimanfaatkan warga. Bentuk produknya berupa pupuk cair,” lanjut dia.
Ketua RT 02/RW 01 Bletengan, Suratman, mengatakan sejak Minggu pagi, warga sudah berdatangan di halaman musala kampung. Warga yang datang sudah membawa sampah dari rumah masing-masing.
Dia berharap melalui program pengelolaan sampah tersebut diharapkan lingkungan warga menjadi bersih dan nyaman.  Selain itu ada pemasukan yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan warga.
Dia menyebutkan dalam setiap bulan, rata-rata ada pemasukan sekitar Rp190.000 dari penjualan sampah. ”Tergantung jumlah sampahnya. Kalau ada warga yang habis membangun, biasanya ada sisa besi dan kertas semen. Kemudian kalau ada kegiatan ada sampah dus dan botol minuman,” kata dia.