Wali Kota Solo: Jangan Mudik Dulu!

Mariyana Ricky P.D.
SOLO—Libur panjang pada akhir Oktober 2020 dikhawatirkan bakal berdampak pada lonjakan persebaran virus SARS CoV-2.
Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian sudah menerbitkan Surat Edaran Tentang Antisipasi Persebaran Covid-19 pada Libur dan Cuti Bersama Tahun 2020. Dari 11 poin, salah satu poin yang disampaikan adalah imbauan kepada masyarakat agar sedapat mungkin menghindari perjalanan.
Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo sepakat dengan imbauan tersebut. Ia meminta warga Solo yang merantau ke luar daerah untuk tidak pulang kampung dulu.

Rudy, sapaan akrabnya, tak ingin momentum itu menjadi sumber penularan Covid-19.
”Kami mengimbau para perantau tidak perlu pulang kampung dulu sebelum vaksin ini ditemukan, diimplementasikan atau diberlakukan. Sehingga, libur panjang ini lebih baik di tempat bekerja dengan keluarga di sana. Baru nanti kalau sudah aman, kita bisa bertemu keluarga di kampung,” kata dia, kepada wartawan di Plaza Manahan, Selasa (27/10/2020).
Rudy mengaku pulang kampung dan tidak pulang kampung sama-sama menjadi program nasional. Mobilisasi warga dari kota menuju daerah asal menjadi salah satu cara menggerakkan perekonomian.
Di saat yang sama, hal itu bisa memicu persebaran virus penyebab Covid-19. ”Kalau terpaksa masih ada yang pulang kampung, ya sudah. Memang ini satu programnya pengendalian Covid-19, satunya lagi untuk pergerakan ekonomi. Makanya, kalau memang tetap ingin pulang ke Solo, ya, silakan. 3 M itu dilakukan, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak,” ucap Rudy.
Satuan Petugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Solo siap mengoptimalkan keberadaan Jogo Tonggo guna mengawasi pendatang. Dia meminta seluruh perangkat RT/RW untuk mengantisipasi dan memonitor setiap pendatang dan pergerakannya. Pendatang diminta tetap berada di rumah atau tidak bepergian setibanya di Solo.
”Mengingatkan pendatang agar ikut menekan persebaran virus Covid-19, karena kalau yang tertular makin banyak, ini akan menjadi beban pemerintah,” kata dia.
Libur panjang biasanya juga diikuti lonjakan pengunjung di tempat wisata. Kendati begitu, Pemkot kembali melakukan pembatasan usia pengunjung.
Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah (Perusda) TSTJ Solo, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santosa, mengaku sudah menyosialisasikan aturan baru terkait pembatasan kunjungan bagi anak di bawah usia 15 tahun. Sosialisasi kembali disampaikan mengingat selama dua pekan kemarin sempat terdapat pelonggaran.
”Kami siaran ke radio, juga mengabarkan informasi tersebut melalui media sosial. Nantinya saat libur panjang, jika ada pengunjung di bawah usia 15 tahun yang datang tetap kami minta putar balik dan memberi pengertian. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, karena kami hanya menjalankan aturan demi kesehatan bersama. Senin (26/10/2020) dan Selasa ini, kami juga sudah menolak pengunjung anak di bawah usia 15 tahun,” ucap Bimo, dihubungi terpisah.
Selama pengetatan kunjungan ke tempat wisata, pihaknya tetap membatasi pengunjung maksimal 2.000 per hari. Namun selama ini, jumlah kunjungan hanya berkisar di angka 50-100 per hari.
”Libur panjang ini kami menjalankan protokol kesehatan dan konservasi. Saat pembatasan, kemungkinan jumlah pengunjung enggak akan sampai 500 orang per hari, mungkin separuhnya atau bahkan seperlimanya,” jelasnya.