Angkutan Feeder Gratis per 1 November

Mariyana Ricky P.D.
SOLO—Penggratisan biaya bukan hanya untuk Batik Solo Trans (BST). Kini angkutan pengumpan alias feeder juga gratis per 1 November.

Seperti diketahui, BST bebas biaya sejak Juli lalu. Gratisnya tarif angkutan feeder berkat penerapan sistem beli layanan atau buy the service. Terdapat enam rute layanan yang dirombak dari delapan rute operasional sebelumnya.
Kabid Angkutan, Dinas Perhu­bungan Kota Solo, Taufiq Mu­ham­mad, mengatakan pelun­curan rute baru sekaligus sosia­lisasi penerapan buy the service bakal dilakukan akhir pekan ini. Selain perombakan rute, pihaknya juga mengubah jam operasional menjadi lebih panjang menyesuaikan BST.
“Jam operasional yang sinkron akan membuat layanan transportasi publik di Solo lebih terintegrasi, baik dari segi pembayaran maupun rute dan jam operasionalnya,” kata dia kepada wartawan, Jumat.
Jam operasional angkutan pengumpan yang sebelumnya berlaku mulai pukul 05.00 WIB-17.00 WIB kini bergeser hingga pukul 21.00 WIB. Penetapan jam operasional disesuaikan dengan jam aktivitas masyarakat atau jam kerja karyawan di pusat perbelanjaan maupun perkantoran. Sehingga, masyarakat bisa lebih memanfaatkan layanan tersebut.
Perombakan rute menjadi lebih padat juga bertujuan sama. “Keberadaan angkutan pengumpan dan BST akan saling mendukung. Angkutan bisa menjangkau penumpang hingga jalan-jalan kampung yang selanjutnya diteruskan oleh BST sebagai angkutan utama di jalan-jalan protokol,” kata Taufiq.
Pemberlakuan bebas biaya bakal berlangsung hingga akhir tahun, seperti BST koridor 3 dan 4. Kepala UPT Transportasi Dis­hub Solo, Yulianto Nugroho, menambahkan dengan penerapan sistem buy the service, seluruh pengemudi terikat dengan standard operational procedure (SOP).
Mereka wajib mematuhi standar pelayanan yang berlaku lantaran sudah mendapatkan gaji dari pemerintah. Mereka dilarang mengebut atau ngetem panjang hingga merugikan penumpang. Nilai per kilometernya dihargai Rp4.000/kilometer.
Yuli mengatakan berdasarkan penghitungan, head way atau jarak antar kendaraan sekitar 10-15 menit. Rata-rata kecepatan 20-25 km/jam “Armada sudah terintegrasi dengan aplikasi Teman Bus sehingga masyarakat bisa mengecek langsung posisinya secara real time. Selama pandemi, kapasitas dibatasi 50-70 persen, kira-kira 6-7 orang, karena maksimalnya 12 orang,” jelas dia.
Mengingat jam operasional yang lebih panjang dari sebelumnya, setiap unit angkutan bakal dikemudikan oleh dua pengemudi dengan sistem sif delapan jam kerja. Unit angkutan tak lagi dibawa pulang oleh pengemudi, namun harus masuk pool setiap hari. Hal itu terkait dengan perawatan baik mesin, suku cadang, hingga kebersihan armada.
“Kami menggandeng pengawas eksternal. Oleh sebab itu segala potensi pelanggaran maupun kelalaian dalam operasional dapat tercatat dengan baik. Perawatan mesin dan lainnya hingga kebersihan tanggung jawab manajemen. Sementara sopir wajib memenuhi SOP yang ditentukan. Apabila terjadi pelanggaran tentu ada sanksi yang sudah disiapkan,” jelas dia.