Sektor Pangan Jadi Tumpuan Pemulihan Ekonomi

Iim Fathimah Timorria
JAKARTA—Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P. Roeslani menjelaskan sektor pangan bisa menjadi tumpuan pemulihan ekonomi nasional.
Sektor ini menjadi salah satu yang tetap tumbuh selama pandemi dan pangan dipandang memiliki posisi strategis mengingat prospek konsumsi bakal tetap tumbuh.
“Sebagai bagian dari upaya mendukung pemulihan ekonomi nasional, sektor pangan bisa menjadi salah satu tumpuan. Sektor ini tidak terdampak besar karena pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang selalu dibutuhkan, meskipun ekonomi sedang krisis. Bahkan, dalam situasi sekarang, sektor pangan semakin strategis. Sebab, jika pangan tidak tercukupi dikhawatirkan berpotensi mengganggu stabilitas,” ungkap Rosan dalam Jakarta Food Security Summit ke-5, Rabu (18/11/2020).
Menurut dia, sektor pertanian perlu terus dikembangkan karena masih bertumbuh positif di saat sektor lain justru mengalami kontraksi. Kebijakan dan kemitraan yang berpihak kepada sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan industri pengolahan yang mendukung ketahanan pangan perlu terus didorong.
“Kami juga berharap pemerintah mempercepat realisasi kebijakan insentif dan stimulus untuk petani, peternak, dan nelayan guna meningkatkan daya beli dan produktivitas, serta stimulus berupa modal kerja setelah Covid-19,” imbuh Rosan.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan Franky O. Widjaja, mengatakan Presiden Joko Widodo telah memberi tugas kepada Kadin untuk mendampingi 1 juta petani pada 2015. Saat itu, jumlah petani yang berada di bawah pendampingan Kadin Indonesia baru mencakup sekitar 200.000 orang.
Franky mengatakan Kadin Indonesia bersama dengan Partnership for Indonesia’s Sustainable Agriculture (PISAgro) telah berhasil mewujudkan target tersebut pada awal 2020. Para petani yang mendapatkan pendampingan tersebar di seluruh Indonesia dan telah mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan mereka. Selanjutnya, KADIN bersama PISAgro, menargetkan untuk meningkatkan pendampingan kepada dua juta petani pada 2023.
Menurut Franky, meningkatkan produktivitas para petani dan sekaligus mencapai ketahanan pangan tidaklah mudah karena ada sejumlah kendala yang harus dihadapi di antaranya mencakup ketersediaan lahan, ketersediaan benih unggul, pupuk, pembiayaan, pemasaran, irigasi, sarana penyimpanan hasil pertanian dan sarana-prasarana lainnya, serta kelembagaan. Kendala lainnya juga menyangkut kebijakan pemerintah menyangkut bibit dan bahan baku peternakan sapi penggemukan.
“Namun, kami optimistis kendala tersebut dapat diatasi dengan mengembangkan pola kemitraan yang dilandasi prinsip saling menguntungkan antara pemerintah,  pengusaha, perbankan, petani melalui  koperasi, dan pemangku kepentingan  lainnya dalam rantai pasok terintegrasi,” kata Franky.
Kadin Indonesia lantas menggagas model kerja sama Inclusive Closed Loop dan membangun ekosistem berusaha. Dalam sistem ini, terdapat empat unsur utama, yakni petani yang mendapat akses untuk membeli bibit dan pupuk yang benar, pendampingan kepada petani untuk menerapkan good practice agriculture, kemudahan akses pemberian kredit dari lembaga keuangan, dan jaminan pembelian hasil petani oleh perusahaan pembina (off taker).
Franky mengatakan skema ini sudah berhasil diterapkan terhadap komoditas kelapa sawit dan sudah mulai diikuti oleh komoditas lainnya seperti pada petani cabai di Garut, Jawa Barat.
“Kami berharap model inclusive closed loop ini dikembangkan di berbagai komoditas pertanian lainnya. Jika persoalan-persoalan mendasar yang dihadapi petani, peternak dan nelayan bisa diatasi, maka pertumbuhan dan kontribusi sektor pertanian pada struktur PDB akan terus meningkat. Lapangan kerja di sektor pertanian juga akan meningkat, dan tentunya petani, peternak dan nelayan juga akan semakin sejahtera,” ujar Franky. (Bisnis/*)