Sengketa Katalog Lagu Rp4,2 Triliun

Masalah antara Taylor Swift dan Scooter Braun kembali memanas. Hal itu disebabkan karena keputusan Scooter untuk menjual katalog lagu Taylor sebesar US$300 juta atau senilai Rp4,22 triliun.
Pria berusia 39 tahun itu menjual hak cipta dari enam album perdana Taylor pada sebuah perusahaan yang tak disebutkan namanya. Hingga saat ini pun belum ada angka resmi tentang besaran harga yang didapatkan dari perjanjian tersebut, namun dari sumber dekatnya disebutkan jika Scooter melakukan kontrak kurang lebih dari US$300 juta.
Angka tersebut sama dengan jumlah yang dikeluarkan oleh Scooter Braun saat membeli katalog lagu-lagu itu dari Big Machine yang didirikan Scott Borchetta. Keduanya melakukan perjanjian kontrak lebih dari US$300 juta pada Juni 2019 lalu.
Perjanjian itu pun menjadi berita hangat di seluruh media dan membuat Taylor Swift meradang hingga menumpahkan kekesalannya di Twitter. Ia merasa jika dirinya ditipu dan dicurangi karena tak bisa memiliki master-master dari lagu miliknya itu.
Taylor menjelaskan jika dirinya gagal bernegosiasi untuk membeli kembali katalog musiknya itu. Ia pun menyebutkan jika Scooter Braun adalah sosok yang sangat keras kepala yang tak memberikannya kesempatan untuk berbicara ataupun berdiskusi dengan BMLG (Big Machine Label Group) Records.
Kekasih Joe Alwyn itu pun mengaku jika master lagu-lagunya itu dijual tanpa sepengetahuannya. Ia pun memanfaatkan momen American Music Awards (AMAs) 2019 sebagai ajang curhatnya.
”Setahun terakhir dalam hidupku memiliki saat-saat paling menakjubkan dan juga beberapa hal tersulit dalam hidupku dan tidak banyak dari mereka mengetahuinya,” ungkapnya di atas panggung.
Masalah antara Taylor Swift dan Scooter Braun dimulai saat sang penyanyi memutuskan untuk pindah dari label lamanya, Big Machine, dan bergabung dengan Universal Music Group.
Usai pindah ternyata pemilik label lamanya, Scott Borchetta, menjual perusahaannya itu kepada Scooter Braun dengan nilai US$ 300 juta pada akhir Juni 2019. Taylor pun panik dan merasa skenario terburuknya adalah katalog musiknya dimiliki oleh Braun.
Ternyata hal itu menjadi kenyataan meskipun ia sudah berusaha mencegahnya. Dilansir dari CNN, disebutkan jika ayah Taylor, Scott Swift, memiliki saham di Big Machine Records dan harusnya sudah tahu jika perusahaan itu akan dijual pada 25 Juni.
Namun Taylor mengaku baru mengetahuinya pada 30 Juni dan membuat dirinya tak lagi memiliki hak untuk enam album dalam katalognya bersama label tersebut. Akibatnya, Taylor pun berencana untuk merekam ulang album-albumnya itu dan baru diizinkan pada tahun depan.
Hal tersebut pun mulai mendapatkan perhatian publik usai Taylor Swift curhat tak bisa membawakan lagu-lagu miliknya di ajang American Music Awards (AMAs) 2019 karena dilarang oleh label lamanya.
Sepakat
Dalam sebuah pernyataan, Big Machine Label Group mengaku sudah mencapai kata sepakat dengan Dick Clark Productions yang menyelenggarakan American Musik Awards 2019.
”Big Machine Label Group dan Dick Clark Productions mengumumkan bahwa keduanya telah mencapai kesepakatan perjanjian lisensi yang menyetujui penampilan artis mereka untuk disiarkan setelah acara dan untuk penyiaran kembali pada platform yang telah disepakati. Ini termasuk penampilan American Music Awards yang akan datang,” tulis pernyataan tersebut
”Harus diketahui musikus tidak butuh persetujuan label untuk tampil secara langsung di televisi atau media langsung lainnya. Persetujuan label rekaman hanya dibutuhkan untuk rekaman audio dan visual musisi terkontrak dan dalam penentuan distribusi karya tersebut,” lanjut pernyataan itu.
Dick Clark Productions juga memberikan pernyataan terkait hal tersebut. Mereka menganggap kesepakatan bersama Big Machine Label Group adalah hal yang biasa.
”Kapan pun Dick Clark Productions setuju untuk membuat, berwenang, atau mendistribusikan pernyataan dalam kemitraan dengan Big Machine Label Group mengenai penampilan Taylor Swift di American Music Awards 2019. Segala perjanjian final dalam hal ini harus dibuat langsung dengan tim manajemen Taylor Swift. Tak ada lagi komentar dari kami,” ujarnya. (Detik)