OJK : Masih Ada Pengurus Jasa Keuangan Nakal

Ni Putu Eka Wiratmini
JAKARTA—Otoritas Jasa Keuangan mengakui masih ada sektor jasa keuangan yang tidak 100 persen bekerja sempurna dalam memberikan keamanan dan kenyamanan pada konsumen.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan lembaga jasa keuangan yang didalamnya terdapat pengurus-pengurus tidak sepenuhnya bisa bekerja sempurna. Pengurus yang nakal memang masih ditemui, selain juga ada nasabah yang tidak paham tentang cara kerja lembaga jasa keuangan sehingga sering kali tidak diuntungkan.
Selain itu, permasalahan yang menimpa bisnis perbankan juga dapat terjadi karena bisnis yang tidak bekerja dengan alami sehingga menghasilkan masalah. Hal itu pun dinilai sebagai hal yang biasa bagi Wimboh.
”Namanya juga manusia, ada pengurus nakal, ada nasabah yang tidak paham, ada juga pure bisnis yang mengalami masalah, itu hal yang biasa,” ujar dia di Jakarta, Kamis (19/11/2020).
Wimboh menjelaskan OJK mampu menyelesaikan masalah-masalah yanga ada pada lembaga jasa keuangan yang di antaranya terdapat 110 bank umum dan sekitar 200 lembaga asuransi.
”Itu yang menjadi perhatian kami, tidak banyak, dan kami yakin bisa selesaikan, kami punya peran bagaimana mengedukasi dan menjaga kepentingan konsumen,” jelas dia.
OJK pun telah menyusun peta jalan atau road map yang merupakan master plan pengembangan industri jasa keuangan, mulai dari perbankan hingga asuransi. Master plan pun menjadi cikal bakal dikeluarkannya peraturan yang harus ditaati lembaga jasa keuangan sehingga bisa aman bagi konsumen untuk menyimpan uang.
”Kalau tidak aman dan tidak nyaman lapor ke OJK,” jelas dia.
Selain itu, imbuh Wimboh, OJK juga mengimbau konsumen untuk tidak membagi data pribadi seperti nomor telepon maupun terkena iming-iming simpanan dengan bunga tinggi.
Wimboh mengatakan konsumen sebaiknya tidak sembarangan membagi data termasuk nomor kontak yang ada di ponsel karena kerap dijadikan cara penagihan utang dengan menelepon teman maupun kerabat terdekat. Selain itu, konsumen juga sebaiknya harus hati-hati apabila ditawari simpanan dengan bunga tinggi, misalnya 20% per tahun.
”Jangan percaya yang demikian, itu yang tidak mungkin [bunga 20% simpanan], sangat hati-hati apalagi dengan teknologi,” imbuh dia.
Kewaspadaan bertransaski di tengah perkembangan teknologi harus dimiliki konsumen. Apalagi, transaksi ekonomi digital di Indonesia tumbuh 4 kali lipat sejak 2015, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 49% per tahun.
Sebagai negara dengan pertumbuhan transaksi ekonomi digital terbesar dan tercepat di Asia Tenggara, diproyeksikan pada 2025 transaksi ekonomi digital Indonesia mencapai US$124 miliar.
”Dibandingkan negara lain cukup besar karena penduduk kita banyak, ditambah dengan potensi yang masih besar dan ruang untuk tumbuh masih luas,” sebut dia. (Bisnis/*)