1.026 Orang Berpotensi Mengungsi

Ponco Suseno
KLATEN—Potensi warga di kawasan rawan bencana (KRB) III lereng Gunung Merapi yang akan mengungsi diperkirakan mencapai 1.026 orang. Hingga sekarang, warga yang mengungsi ke barak pengungsian baru di Desa Balerante dan Desa Tegalmulyo di Kecamatan Kemalang.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Koran Solo, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) telah mengumumkan status Gunung Merapi dari waspada ke siaga, Kamis (5/11/2020). Di Klaten, terdapat tiga desa yang beberapa wilayahnya berada di KRB III lereng Gunung Merapi. Hal itu seperti di Desa Balerante, Tegalmulyo, dan Sidorejo. Seluruh desa berasa di Kecamatan Kemalang.
Dari tiga desa itu, warga yang mengungsi baru berada di Balerante dan Tegalmulyo. Hingga Jumat (20/11/2020), jumlah pengungsi di Tegalmulyo mencapai 106 orang.

Para pengungsi berasal dari Dukuh Canguk, Sumur, dan Pajegan. Sementara pengungsi di Balerante mencapai 279 orang. Para pengungsi berasal dari Dukuh Sambungrejo, Ngipiksari, Gondang, Sukorejo, dan Ngelo. Seluruh pengungsi diwajibkan tetap menaati protokol kesehatan saat tinggal di barak pengungsian karena saat ini masih berlangsung pandemi Covid-19.
”Potensi warga yang akan mengungsi di lereng Gunung Merapi mencapai 1.026 orang. Jumlah tersebut berada di 10 dusun dari tiga desa yang ada. Saat ini jumlah pengungsi belum mencapai separuh dari angka tesrebut,” kata Penjabat Sementara (PJs) Bupati Klaten, Sujarwanto Dwiatmoko, saat ditemui Solopos.com di Balerante, Kecamatan Kemalang, Kamis (19/11/2020).
Saat disinggung tentang masih adanya warga di KRB III yang belum mengungsi hingga sekarang, Sujarwanto mengatakan penjelasan sekaligus sosialisasi ke warga agar segera mengungsi terus dilakukan. Kelompok rentan menjadi skala prioritas yang harus diungsikan. Di antara kelompok rentan itu, seperti warga lanjut usia (lansia), ibu hamil (bumil), anak balita, dan penyandang disabilitas. ”Kami jelaskan terus soal risikonya [jika warga tak mengungsi],” katanya.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo, yang sempat mengunjungi barak pengungsian di Desa Balerante mengatakan setiap pengungsi dan seluruh elemen masyarakat yang berada di barak pengungsian diwajibkan tetap menaati protokol kesehatan. Hal itu perlu dilakukan agar tak ada klaster Covid-19 di barak pengungsian.
”Saat ini masih terkontrol. Terkait yang belum mengungsi, dibutuhkan kerja sama dan sinergitas dari semua pihak,” katanya.
Barak pengungsian di tiga desa yang termasuk KRB III Gunung Merapi merupakan tempat evakuasi sementara (TES). Nantinya, jika erupsi Gunung Merapi terjadi, warga mengungsi di beberapa selter dan desa paseduluran yang sudah disiapkan. Lokasi tersebut merupakan tempat evakuasi akhir (TEA).
”Di Klaten ada tiga shelter, masing-masing Selter Demakijo [Karangnongko], Selter Menden [Kebonarum], Selter Kebondalem Lor [Prambanan. Lantaran ini juga masih berlangsung pandemi Covid-19, penggunaan selter itu akan disesuaikan dengan protokol kesehatan juga,” kata Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Sip Anwar.