9.493 Kasus, 433 Pasien Meninggal

Mariyana Ricky P.D.
SRAGEN—Pertambahan kasus Covid-19 di Soloraya mencapai 9.493 orang per Jumat (20/11/2020). Kota Solo menambah 100 kasus dalam sehari.
Sebanyak 433 pasien meninggal dunia sementara pasien sembuh mencapai 6.333 orang. Sebanyak 2.710 pasien lainnya masih berjuang melawan virus dengan menjalani isolasi mandiri atau dirawat di rumah sakit di Solo dan sekitarnya.

Angka kematian tertinggi ditempati Kota Solo dengan 87 kasus, disusul Karanganyar (78), Sukoharjo (74), Boyolali (62), Klaten (51), Sragen (50), dan Wonogiri (31).
Satuan Petugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Solo menyebut, 100 kasus baru muncul sehingga membuat kumulatifnya menembus 1.919 orang, dengan perincian 1.075 orang sembuh/pulang, 589 isolasi mandiri, 168 perawatan, dan 87 meninggal dunia.
Tambahan kasus itu menyebar di sejumlah kelurahan. Ketua Pelaksana Satgas Penanganan Covid-19 Solo, Ahyani, mengatakan ini adalah kali kedua kasus  bertambah tiga digit orang dalam sehari. Rekor paling banyak terjadi pada Minggu (15/11/2020) di mana klaster keluarga membuat catatan harian menembus 106 kasus. “Tambah 100, merata di semua kelurahan,” kata dia, Jumat malam.
Merujuk data Satgas, Kecamatan Banjarsari masih menduduki peringkat teratas dengan kumulatif kasus tertinggi sebanyak 642.  Berturut-turut di belakangnya ada Kecamatan Jebres dengan 537 orang, Laweyan dengan 397 kasus, Pasar Kliwon 206 kasus, dan terakhir Serengan 137 kasus. Sedangkan, kelurahan dengan kasus tertinggi ada di Jebres dengan 210 kasus dan Mojosongo 192 kasus. “Lalu ada Kadipiro 116 kasus dan Nusukan 112 kasus,” ungkap Ahyani.
Ia menyebut banyaknya kasus masih didominasi oleh klaster keluarga dan tetangga, serta klaster perkantoran. Selain itu, Satgas yang terus melakukan tracing kontak juga menyumbang tambahan kasus.
“Tracing masif bikin temuan kasus makin banyak. Selain itu, ada pula yang swab mandiri. Trennya ya seperti ini. Akhir tahun mungkin kasusnya bisa lebih dari 2.000,” kata Ahyani.
Pihaknya mengimbau masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan secara ketat mengingat potensi penularan sudah semakin masif. ”Masyarakat kalau peduli, ya jaga kesehatan,” ucap dia.
Di Sragen, ruang isolasi dua RSUD penuh pasien setelah terjadi penambahan pasien hingga 55 orang, Jumat. Selain tambahan 55 pasien baru, satu orang meninggal dunia.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Koran Solo, selama sepekan terakhir setiap hari terjadi kasus kematian pasien simptomatik di Sragen. Jumlah kasus kematian pasien terkonfirmasi Covid-19 per Jumat sore mencapai 50 orang.
Total kasus Covid-19 di Sragen mencapai 1.175 orang dari sebelumnya 1.120 orang. Jumlah pasien yang dirawat meningkat dari 228 orang menjadi 254 orang. Akibatnya ruang isolasi di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen dan RSUD dr. Soeratno Gemolong, Sragen, penuh.
Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Sragen Dedy Endriyatno harus bergerak mencari jalan keluar atas peningkatan kasus yang signifikan itu. Dia menyebut penambahan kasus terjadi hampir di seluruh kabupaten/kota, termasuk di Sragen.
Pusing
Untuk isolasi mandiri bagi pasien asimtomatik, jelas dia, masih memungkinkan dengan mengoptimalkan seluruh gedung di Technopark Ganesha Sukowati.
Dia menyebut kapasitas ruang isolasi untuk 130 orang bisa ditingkatkan menjadi 250 orang. “Namun, ruang isolasi bagi pasien simtomatik di rumah sakit ini yang pusing. Semua ruang isolasi di RSUD Sragen dan RSUD Gemolong penuh. Solusi untuk pasien simtomatik baru dibicarakan Senin besok. Termasuk penambahan ruang isolasi RSUD baru dilakukan pekan depan. Solusinya ya jangan sakit!” ujar Dedy yang juga Wakil Bupati Sragen itu saat dihubungi Koran Solo, Jumat.
Dia menjelaskan rencana gropyokan dengan pola satu satuan kerja perangkat daerah (SKPD) untuk satu kecamatan itu masih tataran konsep dan baru dipaparkan pada Senin besok. Dia mengatakan SKPD harus melakukan supervisi satgas kecamatan dan desa mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hasil, dan perencanaan ke depan. “Ya, begitu terus. Nanti dikuatkan dengan job description yang jelas dan SOP yang tegas,” ujarnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen dr. Hargiyanto mengatakan tugas DKK melakukan testing, tracing, dan treatment (3T). Dengan tugas itu, Hargiyanto tak bisa membayangkan tugas para tenaga kesehatan.
Selama sepekan terakhir, ujar dia, DKK sudah melakukan testing sampai 1.500 orang dan rapid test sebanyak 21.000 orang. Bahkan para nakes di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Sragen bekerja sampai pukul 23.00 WIB.
Dengan tanggungjawab 3T itu, Hargiyanto berharap ada upaya penegakan protokol kesehatan secara mandiri dari masyarakat. “Ya, per Jumat sore ini ada penambahan 55 orang dan salah satu di antaranya meninggal dunia. Yang sembuh sebanyak 28 orang,” ujarnya.
Satu kasus yang meninggal pada Kamis lalu berinisial S, 59, warga Sragen Kota. Sedangkan satu pasien yang meninggal Jumat berinisial SHW, 69, warga wilayah Kecamatan Gemolong.
Di Klaten, Kasubid Infrastruktur Wilayah di Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Klaten berinisial ASJ, 45, meninggal dunia karena Covid-19, Kamis (19/11/2020).
Pascameninggalnya ASJ, 40 pegawai di Bappeda Klaten akan menjalani work from home (WFH) terlebih dahulu guna mencegah Covid-19. Sehari sebelum pegawai Bappeda Klaten itu meninggal dunia, di Klaten juga terdapat seorang dokter spesialis bedah syaraf Rumah Sakit Umum Pusat Soeradji Tirtonegoro (RSST) Klaten, AP, 39 (laki-laki) meninggal dunia setelah terpapar virus corona, Rabu (18/11/2020).
Dokter AP meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo Surabaya dan telah dimakamkan di Blitar, Jatim.
Salah satu kepala dusun di Desa Koripan, Kecamatan Matesih terkonfirmasi positif Covid-19. Dia terpapar Covid-19 diduga setelah menghadiri hajatan.
Perangkat desa tersebut mengalami gejala sesak napas, mual, muntah, dan badan pegal. Kondisi itu dirasakan setelah pulang dari menghadiri hajatan.
”Habis kondangan. Lalu Rabu [11/11/2020] mengeluh sakit itu. Lalu tes swab di Solo, pulang. Hasil keluar sehari setelah tes swab. Dia dirawat di rumah sakit Solo,” kata Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Karanganyar, Juliyatmono. (Wahyu Prakoso/Ponco Suseno/Sri Sumi Handayani/Tri Rahayu)