Aturan Impor Gula Diminta Dikaji Lagi

JAKARTA—Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengumumkan bahwa pelaku industri makanan dan minuman (Mamin) bisa melakukan impor gula dan garam sendiri tanpa perlu lewat importir. Kebijakan itu membuat Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) khawatir.
”Proses importasi dari negara produsen juga tidak mudah. Mulai dari proses pembelian, kesiapan infrastruktur dan banyak hal yang sering terjadi di luar prediksi,” ujar Sekjen Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI), Indra Suryaningrat dalam keterangannya, Sabtu (21/11/2020).
Indra meminta pemerintah mengkaji ulang rencana tersebut, apalagi yang diimpor langsung industri mamin dalam berupa produk jadi GKR. Sementara produk impor anggota AGRI berupa raw sugar sehingga menimbulkan nilai tambah, baik penyerapan tenaga kerja, pajak, maupun investasi.
”AGRI juga telah membantu pemerintah memenuhibuffer stockkebutuhan gula apabila terjadi kelangkaan barang,” jelasnya.
Indra juga menyarankan agar Pemerintah memberikan kemudahan pada birokrasi penerbitan Izin Impor supaya prosesnya tidak memakan waktu lama. Pemberian izin langsung kepada Industri mamin berpotensi adanya penambahan waktu proses penerbitan izin importasi karena diperlukan audit dan pengawasan yang ekstra ketat kepada masing-masing Industri mamin sebelum izin diberikan.
AGRI masih menunggu dari Kemenperin. Menurut data AGRI, Raw Sugar dari Thailand sudah habis, dan raw sugar dari Australia hampir selesai panen tebu pada pertengahan/akhir bulan November dan sisa raw sugar Australia sudah menipis, oleh sebab itu perolehan raw sugar saat ini hanya dimungkinkan dari Brazil.
Proses importasi Raw Sugar dari Brazil memerlukan waktu kurang lebih 45 – 60 hari. Berdasarkan laporan dari Anggota AGRI bahwa stock raw sugar dan Produk GKR hanya mencukupi sampai dengan akhir bulan Desember 2020. Indra menegaskan bahwa hubungan AGRI dengan Industri Mamin cukup baik. Kerja sama B to B selalu mengedepankan win-win solution.
”Oleh karena itu, kami tegaskan AGRI bukan menambah mata rantai sehingga hanya mencari rente, melainkan membantu pemerintah dan indutri pengguna,” beber Indra. (Detik)