Duka Pedagang Seragam Sekolah, Omzet Turun 90%

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah memerintahkan aktivitas belajar dari rumah sejak Maret 2020 lalu, di mana pandemi virus corona (Covid-19) pertama mewabah di Indonesia. Artinya, sudah sekitar 9 bulan murid-murid Tanah Air tak bersekolah tatap muka.
Kebijakan itu pun akan berlaku hingga akhir tahun, di mana Mendikbud Nadiem Makarim baru memperbolehkan sekolah tatap muka di Januari 2021.
Pada 2020 ini, pembukaan tahun ajaran 2020/2021 pada pertengahan tahun lalu diiringi dengan aktivitas belajar dari rumah. Padahal, waktu tersebut merupakan masa-masa termanis bagi para pedagang seragam karena biasanya diserbu masyarakat.
Salah satu pedagang seragam di Pasar Palmerah, Jakarta Barat, Ayin, 53, mengaku kondisi ini menyebabkan omzet tokonya anjlok hingga 90%. Aktivitas belajar dari rumah menyebabkan tak ada masyarakat yang membeli seragam.
”Omzet turun lebih dari 90%. Sudah rugilah sekarang, nggak ada pemasukan, tapi tetap bayar listrik, iuran biaya pengelolaan pasar [BPP] lewat CMS, ya pengaruh banyaklah ini. Ruginya sudah susah diomongin. Yang paling terdampak ya pedagang seragam sekolah dibandingkan yang lain. Karena orang kalau punya duit ya beli makan dululah, baju nanti-nanti saja,” ungkap Ayin di Jakarta, Sabtu (21/11/2020).
Pedagang lainnya, Adi, 33, mengaku omzetnya anjlok hingga 80% selama bulan Maret-Juni.
”Saat parah-parahnya corona kami mencari penglaris saja susah. Maret-Juni kami dapat penglaris sepotong-sepotong saja alhamdulillah. Kalau awal corona omzet turun 70%-80%,” jelas Adi.
Namun, ia mengaku penjualannya saat ini mulai menunjukkan pemulihan. Ia mengatakan, di bulan Oktober lalu ketika dana Kartu Jakarta Pintar (KJP) cair, cukup banyak yang membeli seragam di tokonya.
”Kalau belakangan ini sudah lumayan, tapi belum normal. Omzet turunnya kalau sekarang 50%. Tapi mendinglah dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Karena bulan kemarin KJP cair, lumayanlah yang belanja,” tutur Adi.
Pedagang seragam di Pasar Palmerah, Naya, 32, mengatakan dampak pandemi menyebabkan omzetnya turun lebih dari 50%. Meski begitu, ia cukup tertolong karena di tokonya juga menjual pakaian wanita dewasa, dan pakaian kerja.
“Saya jual baju biasa juga, fokus ke seragam juga. Kalau yang beli seragam ya 1-2 ada,” jelas Naya.
Tak hanya pedagang seragam, Zamzul Anwar, 26, pedagang kaus kaki dan gesper untuk anak sekolah, juga mengalami penurunan omzet yang luar biasa.
”Sampai sekarang omzet masih jatuh 80%. Padahal kalau memasuki tahun ajaran baru sebelum corona, saya bisa dapat Rp750.000-Rp1 juta per hari itu dari kaus kaki anak sekolah, dan peralatan lain seperti gesper,” beber Zamzul. (Detik)