Klaster Pasar Sidoharjo Sudah Terputus

M. Aris Munandar
WONOGIRI—Klaster Covid-19 di Pasar Sidoharjo, Wonogiri, sudah terputus. Aktivitas di pasar itu kini mulai normal kembali.
Camat Sidoharjo, Sarosa, mengatakan hasil seluruh tes swab para pedagang telah keluar. Secara kumulatif ada 104 empat pedagang yang dinyatakan positif Covid-19. Hasil tes swab yang keluar terakhir menyatakan ada 13 pedagang yang terpapar Covid-19.
Saat ini sebanyak 104 pedagang tersebut sudah selesai menjalani isolasi atau karantina. Mereka sudah dinyatakan negatif Covid-19. ”Karena sudah sembuh semua, mereka diperkenankan berjualan kembali di pasar,” kata dia saat dihubungi Koran Solo, Sabtu (28/11/2020).

Sarosa mengatakan, klaster keluarga yang berasal dari pedagang yang terpapar Covid-19 sudah selesai menjalani isolasi semua. Jadi baik pedagang maupun keluarga pedagang yang terpapar Covid-19 sudah sembuh semua.
Saat ini, kata Sarosa, Pasar Sidoharjo sudah mulai ramai kembali, karena kondisinya sudah normal. Para pedagang sayuran yang datang dari luar daerah juga sudah berjualan seperti biasanya.
Kondisi serupa juga terjadi di lingkungan sekitar pasar. Menurut Sarosa, pertokoan atau kios di luar pasar, pasar hewan, pasar kayu dan terminal juga telah kembali normal. ”Dengan kembalinya suasana di pasar dan sekitarnya seperti sediakala, diharapakan geliat perekonomian di Sidoharjo bisa baik lagi,” ungkap dia.
Meski klaster pasar sudah terputus, Sarosa berharap kepada seluruh masyarakat Sidoharjo, khususnya pedagang dan pengunjung Pasar Sidoharjo agar tetap menerapkan protokol kesehatan. Karena pandemi Covid-19 hingga saat ini masih berlangsung.
”Potensi persebaran masih ada, maka jangan sampai lengah dalam menerapkan protokol kesehatan. Memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak saat di pasar harus tetap dilaksanakan,” kata dia.
Ia mengatakan, pengelola pasar dan Satgas Covid-19 hingga saat ini masih mengawasi para pedagang dan pengunjung pasar. Setiap pintu masuk pasar masih dilakukan penjagaan. Aktivitas itu masih akan berlangsung selama dua hari ke depan.
”Protokol kesehatan di pasar yang dalam dua pekan terakhir dijalankan dengan ketat tinggal dilanjutkan. Kan baik juga, demi keselamatan dan kesehatan bersama. Kami juga imbau kepada para pedagang kaki lima di luar pasar agar melakukan hal serupa,” kata Sarosa.
Sementara itu untuk mencegah munculnya klaster baru saat Pilkada, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Wonogiri melaksanakan rapid test secara serentak kepada seluruh Pengawas Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Wonogiri, Sabtu.
Rapid test yang diikuti oleh 2.023 orang itu dilaksanakan di setiap kecamatan. Jumlah peserta yang mengikuti rapid test sesuai dengan jumlah TPS yang akan digunakan pemilihan kepala daerah pada 9 Desember mendatang.
Ketua Bawaslu Wonogiri, Ali Mahbub, mengatakan pelaksanaan rapid test sebagai upaya antisipasi petugas menjelang pemungutan suara pilkada. Semua petugas harus dipastikan kesehatannya, khususnya terhadap persebaran Covid-19. Karena pilkada kali ini dilaksanakan saat pandemi.
”Sesuai dengan regulasi yang ada, terkait protokol kesehatan, kondisi perangkat atau petugas harus bebas dari Covid-19. Maka rapid tes ini sebagai upaya deteksi dini,” kata dia.
Jika ditemukan ada yang reaktif dalam rapid test tersebut, kata Ali, petugas pengawas TPS akan diperintahkan untuk menjalani isolasi mendiri selama 10 hari. Jika memerlukan perawatan lebih akan berkoordinasi dengan Satuan Tugas Covid-19 Wonogiri.
Sementara itu, lanjut Ali, pelaksanaan rapid test bagi Pantia Pengawas Kecamatan telah dilakukan beberapa hari lalu. Dalam menjalankan tugas pada pemungutan suara, baik Panwascam maupun Pengawas TPS akan dibekali APD. Hal itu mencegah persebaran Covid-19 selama bertugas.
”Semoga seluruh petugas pengawas di berbagai tingkatan kondisinya baik hingga hari pencoblosan. Sehingga bisa melaksanakan tugas secara maksimal. Pilkada berjalan dengan aman dan tertib,” kata Ali.
Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Sukoharjo memiliki pekerjaan rumah untuk menekan angka kematian atau mortality rate pasien positif yang masih tinggi. Jumlah pasien positif yang meninggal dunia per 28 November sebanyak 88 orang.
Informasi yang dihimpun Koran Solo, Sabtu (28/11/2020), jumlah pasien positif terbanyak di wilayah Kecamatan Kartasura sebanyak 20 orang disusul Kecamatan Grogol sebanyak 15 orang. Kemudian, Kecamatan Sukoharjo sebanyak 10 orang, Kecamatan Baki sebanyak sembilan orang, Kecamatan Mojolaban delapan orang, Kecamatan Nguter sebanyak tujuh orang, Kecamatan Polokarto enam orang, Kecamatan Gatak dan Bendosari masing-masing lima orang, Kecamatan Bulu dua orang dan Kecamatan Weru satu orang. Hanya satu kecamatan yang nihil pasien positif meninggal dunia yakni Kecamatan Tawangsari.
Angka kematian pasien positif Covid-19 secara kumulatif sebanyak 5,1 persen. Angka kematian pasien positif itu melebihi ambang batas maksimal yang ditetapkan World Health Organization (WHO) yakni sebesar lima persen. Terlebih, lonjakan kasus Covid-19 terus terjadi di Sukoharjo. Jumlah pasien positif secara kumulatif sebanyak 1.735 orang. ”Pasien positif yang meninggal dunia didomimasi memiliki penyakit penyerta atau komorbid seperti jantung, hipertensi dan diabetes. Hal ini yang menjadi perhatian serius untuk mencegah agar kelompok masyarakat yang memiliki komorbid tak terinfeksi virus,” kata Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Sukoharjo, Yunia Wahdiyati, saat dihubungi Koran Solo, Sabtu.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo ini menyampaikan pasien positif dengan gejala terutama memiliki komorbid dirawat insentif di rumah sakit rujukan Covid-19. Di Sukoharjo, ada delapan rumah sakit rujukan Covid-19. Mereka bakal menjalani pengobatan dan terapi hingga dinyatakan sembuh oleh dokter. (Bony Eko Wicaksono)