Pemkot Tak Tutup Pasar Gede

SOLO—Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mempertahankan operasional Pasar Gede meski dua pedagang di pasar itu dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19.

Mariyana Ricky P.D
Penutupan tak dilakukan mengingat keduanya termasuk penderita asimtomatik dan sudah menjalani karantina mandiri sejak sebelum dinyatakan positif
Covid.
Pemkot hanya melakukan pengawasan ekstra dan peningkatan protokol kesehatan serta penyemprotan desinfektan secara periodik.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Solo, Heru Sunardi, mengatakan kedua pedagang tersebut sebelumnya dinyatakan reaktif setelah menjalani uji cepat atau rapid test belum lama ini. Mereka lantas diminta uji swab yang hasilnya positif corona.
Heru menyebut pihaknya tak berencana melakukan penutupan sementara. Kebijakan tersebut diakuinya berbeda dengan Pasar Harjodaksino yang sempat ditutup pada Juli dan Oktober 2020.
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 1
“Mereka sudah karantina mandiri sejak hasilnya reaktif jadi kami sudah menekan persebaran. Saat hasilnya positif, mereka juga kami minta melanjutkan karantina tersebut. Kiosnya sudah ditutup dan baru boleh jualan setelah hasil uji negatif. Kalau pedagang Pasar Harjodaksino dulu kan sampai meninggal dunia, makanya harus ditutup,” kata dia, kepada wartawan, Minggu (29/11/2020).
Heru mengatakan penutupan Pasar Harjodaksino dilakukan karena Satgas Penanganan Covid-19 wajib tracing besar-besaran. Sedangkan di Pasar Gede, pengelola dan paguyuban sepakat melakukan desinfeksi rutin secara periodik minimal tiga hari sekali. Kendati begitu, pihaknya tetap berkoordinasi dengan paguyuban maupun pedagang serta instansi terkait.
“Ya, kami harus tetap mengetatkan protokol kesehatan. Konsekuensi pasar tidak ditutup adalah mereka wajib saling mengingatkan pedagang, pengunjung untuk tertib protokol kesehatan,” ucap Heru.
Sementara itu kasus Covid-19 kembali menyasar kalangan tenaga kesehatan di Kabupaten Boyolali. Kali ini giliran tenaga kesehatan dari Puskesmas Selo.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, Ratri S. Survivalina, mengatakan ada tiga tenaga kesehatan (nakes) dari Puskesmas Selo yang terkonfirmasi positif Covid-19. ”Ini menjadi keprihatinan kami,” kata dia belum lama ini.
Tetap Berjalan
Meski begitu dia memastikan pelayanan di lereng Gunung Merapi itu tetap berjalan seperti biasa. ”Sementara ini tidak ditutup, hanya dilakukan karantina bagi yang positif. Sebab dari 50 karyawan yang positif hanya tiga orang,  jadi masih bisa dilakukan pelayanan,” jelas dia.
Nakes yang terkonfirmasi positif Covid-19 itu merupakan bidan.  Di sisi lain, saat ini ada sejumlah klaster penularan Covid-19 yang masih aktif di Boyolali.
Menurutnya, per 27 November 2020, ada 18 klaster yang masih aktif yang tersebar di 11 kecamatan, mayoritas merupakan klaster keluarga dan tempat kerja.
Dia mengimbau masyarakat untuk tertib menerapkan protokol kesehatan, termasuk di rumah dan tempat kerja. Semua pihak diharapkan bisa mendukung program penanganan Covid-19. Termasuk tertib menjalankan isolasi mandiri bagi yang sudah dinyatakan positif Covid-19 agar kasus tidak terus menyebar.
Menurut Ratri, saat ini pihaknya telah melakukan tracing yang diperluas. Bukan hanya menyasar kontak erat langsung, namun termasuk pihak yang berkaitan. ”Jadi sasarannya lebih luas. Selain itu kami berupaya untuk maksimalkan capaian testing di lokasi yang dicurigai terjadi penularan,” kata dia. (Bayu Jatmiko Adi)