Umrah dari Solo Mulai Januari

 

Farida Trisnaningtyas
SOLO—Maskapai asal Indonesia, Garuda Indonesia, kembali membuka penerbangan umrah di masa pandemi Covid-19.
Penerbangan dengan rute Jakarta–Jeddah atau pun Jakarta–Medinah ini akan dilayani dari sejumlah kota di Tanah Air, salah satunya dari Bandara Adi Soemarmo mulai Januari 2021.
Supervisor Agency Haji dan Umrah Branch Office Yogyakarta, Bambang Sumantri, mengatakan Garuda Indonesia sudah kembali terbang ke Arab Saudi sejak November 2020, yakni lima kali dalam sebulan. Jadwal terbang serupa juga direncanakan pada Desember 2020.
“Penerbangan ini memakai pesawat baru Airbus Neo.  Garuda mendapatkan 16 slot [sepekan] dari Kerajaan Arab Saudi untuk umrah yang akan dimulai pada 2 Januari 2021.”
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 1
”Rencananya bakal terbang dari Jakarta, Kertajati, Solo, Makassar, dan Surabaya,” ujar dia, dalam Focus Group Discussion (FGD) virtual bertajuk Umrah dengan Kenormalan Baru, Jumat (27/11/2020) lalu.
Bambang menjelaskan dari Jakarta dijadwalkan terbang delapan kali, yakni lima kali ke Jeddah dan tiga kali ke Medinah. Jadwalnya, terbang ke Jeddah pada Senin, Selasa, Rabu, Sabtu, dan Minggu, sementara ke Medinah pada Senin, Rabu, dan Sabtu.
Penerbangan ini menggunakan pesawat Boeing 777 dengan komposisi tempat duduk 26 kelas bisnis dan 367 kelas ekonomi.
Sedangkan dari Solo (Bandara Adi Soemarmo) menuju Jeddah dijadwalkan pada Kamis dan Minggu. Penerbangan ini menggunakan pesawat Airbus 330 dengan tempat duduk semuanya kelas ekonomi.
Di sisi lain, dari Surabaya terbang dari 3 kali, yakni 2 kali menuju Jeddah (Selasa dan Kamis) dan 1 kali menuju Medinah (Senin). Penerbangan  ini akan menggunakan pesawat Airbus Neo dengan 23 kursi bisnis dan 273 kelas ekonomi.
Sementara dari Makassar terbang pada Kamis dan Sabtu menggunakan Airbus Neo. “Calon penumpang yang diperkenankan berangkat harus memenuhi persyaratan. Selain visa yang masih valid, juga memiliki hasil PCR negatif atau health sertificate dari rumah sakit/laboratorium rujukan resmi yang berlaku 72 jam dari waktu pengambilan sampel sampai landing di Arab Saudi,” papar dia.
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Pengusaha Biro Umrah dan Haji Indonesia (Perpuhi) Solo, Her Suprabu, mengatakan umrah selama pandemi ini berbeda di masa normal. Ini meliputi sejumlah syarat pembatasan usia maksimal 50 tahun dan tes PCR negatif.
Kloter Ke-4
Pemilik Biro Perjalanan Umrah dan Haji Dewangga Lil Hajj ini menjadi bagian dari kloter keempat yang melakukan umrah di masa pandemi.
“Kami landing di Jeddah lalu karantina. Selama itu ada tes usap lagi. Rombongan kami ada 11 jemaah positif lalu sisanya tes lagi dengan hasilnya negatif. Kami kemudian baru diizinkan umrah,” kata dia.
Her menggarisbawahi perlu adanya parameter yang jelas terkait tes usap untuk para jemaah umrah ini. Berdasarkan pengalamannya, saat 72 orang kloternya berangkat umrah dengan mengantongi hasil tes PCR negatif.
Sesampainya di sana, mereka kembali menjalani tes swab dan hasilnya 11 orang positif. Dengan demikian, mereka yang positif Covid-19 harus dikarantina lalu dipulangkan.
“Jika kloter awal dulu, kalau ada rombongan yang positif Covid-19, semua tidak diperkenankan umrah lagi. Sekarang ini pada kloter saya diizinkan. Kami juga bisa melaksanakan salat lima waktu di Masjidil Haram, tapi memang lebih ketat aturannya,” ungkap dia.
Sekretaris DPD Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah (Amphuri) Jateng, Retno Anugerah Andriyani, menambahkan ia termasuk kloter perdana melaksanakan umrah untuk kali pertama dari Indonesia ke Arab Saudi.
“Total saya tes swab sampai 3 kali di sana. Saat itu kami tidak diperbolehkan salat lima waktu. Dulu kebijakannya, kalau ada rombongannya yang kena atau negatif, semua tidak boleh umrah. Ini yang menjadi keluh kesah kami yang kemudian disampaikan kepada pihak Arab Saudi. Ini pula yang kemudian merubah aturannya,” jelas dia.