Ramai-Ramai Tambah Bed

Mariyana Ricky P.D.
SOLO—Tren peningkatan kasus Covid-19 yang merata di banyak wilayah termasuk Solo­raya, diiringi lang­kah rumah sakit menambah tem­pat isolasi dan memper­banyak tempat tidur (bed).

Di Sukoharjo, seluruh rumah sakit yang menjadi rujukan pasien Covid-19 diminta menambah dua bangsal isolasi atau minimal 10 tempat tidur. Ratusan ruang isolasi pasien Covid-19 di Kota Solo dilaporkan terisi penuh. Belasan rumah sakit (RS) itu tak hanya melayani pasien lokal tapi juga rujukan dari luar kota.

Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo mengusulkan agar Asrama Haji Donohudan dijadikan tempat isolasi layaknya Wisma Atlet di Jakarta. Wali Kota mengatakan dari catatan Satgas Penanganan Covid-19 hingga Rabu (2/12/2020) menyebut jumlah warga Solo yang menjalani rawat inap karena terpapar Covid-19 mencapai 192 orang.
Sedangkan yang menjalani isolasi mendiri berjumlah 803 orang. Dari kapasitas total RS rujukan yang hanya 320, sebanyak 192 di antaranya sudah diinapi oleh warga Solo.
“RS Solo sudah penuh karena menerima rujukan dari luar kota, minimal enam kabupaten/kota di Soloraya itu mengirim ke sini. Makanya harus ada tindakan membikin RS darurat. Sebanyak 800-an warga isolasi mandiri di rumah, mereka belum tentu disiplin. Kalau enggak disiapkan RS darurat, enggak akan memutus rantai persebaran virus penyebab Covid-19. Saya mengusulkan Asrama Haji Donohudan jadi RS darurat untuk isolasi pasien asimtomatik. Tapi, sudah tiga kali mengirim surat belum ada jawaban,” kata dia, kepada wartawan, Rabu.
Rudy, sapaan akrabnya, mengatakan Asrama Haji Donohudan saat ini tidak digunakan. Sehingga, sangat cocok dijadikan RS darurat mengingat fasilitas yang tersedia. Isolasi mandiri di rumah sangat berpotensi menularkan kembali kepada keluarga serumah. Belum lagi kepada tetangga.
Ia meminta Gubernur Jawa Te­ngah, Ganjar Pranowo, memper­tim­bangkan usulan itu. Ihwal anggaran logistik dan pelengkapnya, Rudy menyebut bisa disokong oleh enam kabupaten/kota di Soloraya.
Ia mengatakan kapasitas Asrama Haji Donohudan yang mencapai 10.000 orang bisa digunakan apabila terjadi lonjakan kasus.
“Kalau diizinkan, ya, diubah seperti Wisma Atlet untuk merawat penderita asimtomatik. Kalau pun nantinya penuh lagi, kami bisa mengubah Solo Techno Park (STP) jadi RS darurat juga sebagai cadangan. Untuk tenaga kesehatan atau sukarelawan bisa merekrut. Soal gaji tentu enggak jadi masalah karena ada dana darurat. Anggaran sangat cukup. Kami saja menganggarkan untuk rapid test anak sekolah. Cuma memang nakesnya yang perlu ditambah,” ungkap Rudy.
Ihwal wacana menyulap Beteng Vastenburg untuk mengkarantina pemudik yang pulang pada libur panjang akhir tahun ini, Rudy memastikan rencana itu dimulai 10 Desember nanti.
Ketua Pelaksana Satgas Penanganan Covid-19 Solo, Ahyani, mengatakan menurut rencana Beteng Vastenburg tak hanya digunakan untuk rumah karantina pemudik, tetapi juga pendatang.
“Masih kami bahas terus seperti apa. Teknisnya sama seperti Lebaran lalu, tapi bisa jadi enggak cuma untuk pemudik. Baraknya tinggal menghitung, kami menyiapkan tenda, berkomunikasi dengan Kodim 0735/Solo dan Polresta,” tandasnya.
Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, menyetujui permintaan Wali Kota Solo untuk menjadikan Asrama Haji Donohudan sebagai tempat isolasi pasien Covid-19.
Ganjar bahkan mengaku Donohudan sudah dipersiapkan sejak lama menjadi tempat isolasi pasien Covid-19. ”Kalau saya oke-oke saja. Donohudan itu memang kita siapkan kok. Kalau mau dipakai oke saja. Hotel ada, Donohudan juga ada. Umpama Solo mau pakai, masuk nanti sore. Enggak usah berlama-lama,” ujar Ganjar di rumah dinasnya, Rabu (2/12/2020) malam.
Ganjar menambahkan saat ini dirinya memang tengah mendorong seluruh kabupaten/kota untuk memiliki tempat isolasi terpusat atau pusat karantina.
Bahkan, ia menargetkan seluruh kabupaten/kota sudah memiliki tempat isolasi pasien Covid-19 secara terpusat per 9 Desember 2020.
Dengan adanya tempat isolasi terpadu, maka masyarakat yang terpapar Covid-19 dapat lebih nyaman melewati masa karantina. Di tempat itu, mereka dapat beristirahat dengan tenang, terkontrol, makanan terjamin, dan pengawasan juga berjalan ketat.
”Kan memang lebih baik terpusat, daripada isolasi di rumah. Soalnya isolasi di rumah kalau tidak memenuhi syarat. Justru menjadi klaster rumah tangga. Dan sekarang, klaster rumah tangga itu menjadi klaster tertinggi di Jateng,” jelasnya.
Juru Bicara (Jubir) Satgas Covid-19 Kabupaten Sukoharjo, Yunia Wahdiyati, meminta seluruh rumah sakit rujukan untuk menambah tempat tidur.
”Untuk mengantisipasi lonjakan pasien Covid-19, kami sudah minta seluruh rumah sakit rujukan menambah minimal dua bangsal lagi. Atau minimal 10 bed untuk pasien Covid-19,” kata ketika dijumpai di ruang kerjanya pada Kamis (26/11/2020).
Yunia Wahdiyati mengatakan terjadi lonjakan kasus positif corona selama dua pekan terakhir. Lonjakan kasus terjadi pasca libur cuti bersama Maulid Nabi Muhammad belum lama ini.
Kondisi ini membuat keterisian ruang isolasi di rumah sakit rujukan Covid-19 yang ada hampir penuh pasien. Yunia merinci rumah sakit rujukan Covid-19 di Sukoharjo di antaranya RSUD Ir. Soekarno, RS UNS, RS Indriyati, RS dr. Oen Solobaru, RS Karima Utama, RS PKU Sukoharjo, RS Yarsis dan RS Nirmalasuri.
Merujuk update data kasus Corona di Kabupaten Sukoharjo per 25 November, ada kenaikan signifikan sebanyak 52 kasus positif baru di Sukoharjo. Dengan tambahan 52 kasus tersebut, akumulasi kasus positif corona di Sukoharjo saat ini menjadi 1.680 kasus.
Di sisi lain, kasus positif sembuh juga naik 71 sehingga totalnya menjadi 1.253 kasus dan positif meninggal naik empat menjadi 84 orang. ”Kasus positif aktif masih 343 kasus. Terdiri dari 257 orang isolasi mandiri, dua isolasi rumah sehat, dan 84 orang menjalani rawat inap,” kata Yunia.  (Imam Yuda S./ Indah Septiyaning W.)