Greget Concert 2020 Menggerakkan Semangat Persatuan

Ika Yuniati
Kelompok Musik Wong Pitu Ensamble membuka malam final Greget Concert 2020 di Griya Bhirawa Yudha, Kartasura, Sukoharjo, Sabtu (19/12/2020) malam. Membawakan dua lagu yakni Kartasura Greget serta Juwita Malam, mereka mulai hidupkan suasana. Riuh tepuk tangan mengapresiasi grup musik anyaran ini. Tanpa jeda, acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan para finalis dimulai Kiki Artikasari, Fajar Sidiq, Titik Sugiyarti, Yoyok, dan delapan nama lainnya.
Talenta-talenta muda tersebut dinilai tim dewan juri yang terdiri atas musikus Mursid Hananto, pesinden Sruti Respati, serta pemrakarsa Kartasura Greget, Djuyamto Hadi Sasmito. Menariknya, masing-masing penampil membawakan lagu utama yakni Kartasura Greget dengan aransemen musik berbeda-beda. Mulai versi keroncong, pop, campursari, dan masih banyak lagi.
Meski hanya level Kecamatan Kar­tasura, Djuyamto mengklaim acara ini menggunakan standar nasional. Hal itu dilakukan untuk memacu semangat peserta agar menampilkan potensi terbaik. Nantinya, para pemenang bakal menjadi ikon Kartasura Greget yang lingkup kegiatannya menghidupkan nilai-nilai kebaikan lewat seni budaya.
“Harapannya Kartasura damai aman dan tenteram. Setelahnya damai dan tentram semoga sampai di level kabupaten, hingga Nasional. Ya kampanye kebaikan ini kan harus dimulai dari lingkup terkecil. Misal dari keluarga, kecamatan, hingga di level nasional,” terang Djuyamto.
Ketua panitia, Andy Zate, Kamis (17/12/2020), mengatakan konser di tengah pandemi tersebut digelar dengan mematuhi protokol kesehatan (prokes). Acara diadakan secara luring terbatas dan daring di kanal Youtube Relinkspeed.TV. Kursi penonton ditata berjarak, masing-masing peserta mengenakan masker, serta wajib cek suhu tubuh sebelum masuk lokasi acara.
Persatuan
Diwawancarai Espos sebelum acara, Djuyamto mengatakan Kartasura Greget bermula dari gerakan menyatukan masyarakat di tengah isu perpecahan yang masif pada 2019 lalu. Kala itu sejumlah oknum menyebar kabar kebencian dengan tujuan membuyarkan persatuan dan kesatuan bangsa. Kabar bohong atau hoaks banyak muncul hingga membuat masyarakat terkotak-kotak.
Suasana chaos tersebut membuat sejumlah orang gundah, salah satunya Djuyamto. Menggandeng warga Kartasura, ia pun berinisiatif membuat gerakan antitesis kondisi tersebut dengan nama Kartasura Greget. Kampanye kebaikan untuk menyatukan masyarakat tersebut dilakukan dengan pendekatan seni kebudayaan.
Sampai akhirnya mereka memutuskan ciptakan lagu berjudul Kartasura Greget pertengahan 2020. Lagu tersebut dibuat sendiri oleh Djuyamto, dibantu aransemen musik oleh musisi senior Andy Zate. La­tar ceritanya tentang sejarah berdirinya Kartasura dengan menonjolkan filosofi kebaikan di balik bangkitnya Kartasura. “Kartasura runtuh karena berbagai intrik, sementara kejayaan datang karena hal-hal baik seperti gotong-royong, nah itu yang kami tonjolkan,” terangnya Djuyamto.
Setali tiga uang, kampanye kebaikan tersebut tentu juga bertujuan mengenalkan seni budaya di Kartasura. Djuyamto kemudian menggandeng semua kelompok masyarakat di Kartasura untuk terlibat dalam pembuatan video klip sebagai simbol persatuan dan kesatuan. Mulai dari kelompok pemuda di wilayah Kartasura, pencak silat, juga organisasi Islam seperti pemuda Muhammadiyah dan NU.
Tak cukup dengan rilis lagu, Djuyamto menilai hal-hal baik yang terkandung dalam karya tersebut harus disebarluaskan. Hingga akhirnya menggarap acara Idola Greget 2020. Kompetisi musik tersebut dimulai Oktober dengan menjaring 40-an peserta dari Kartasura. Setelah melalui proses panjang dipilihlah 12 finalis untuk kembali berkompetisi pada malam final Sabtu malam. Acara tersebut dihadiri Muspida Sukoharjo dan pejabat penting lainnya.