Pekan Berat Penanganan Corona

JAKARTA—Satu pekan terakhir merupakan waktu yang berat bagi penanganan Covid-19. Pada Selasa (12/1/2021), kasus harian corona lebih dari 10.000 orang sementara angka kematian 302 jiwa tertinggi selama pandemi.

Di Solo, kasus positif menyentuh angka 6.000-an orang. Penambahan kasus harian juga tertinggi yakni 250 orang.
”Hari ini saya ingin menyampaikan bahwa satu pekan terakhir ini merupakan waktu yang berat untuk penanganan Covid-19 di Indonesia,” kata Jubir Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, dalam video yang disiarkan akun YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (12/1/2021).
”Mengapa saya katakan berat? Karena penambahan kasus harian ini berimbas negatif pada efektivitas penanganan Covid-19 di negara kita,” lanjutnya.
Wiku menjelaskan penambahan kasus Covid-19 berimbas pada penanganan pasien yang ada di rumah sakit. Imbasnya bisa berpotensi meningkatkan angka kematian akibat corona.

”Apabila angka ini terus meningkat dan menyebabkan kasus rumah sakit penuh, maka sangat berpotensi untuk menaikkan angka kematian akibat Covid-19,” tuturnya.
Lebih lanjut Wiku memperingatkan soal kondisi sistem kesehatan yang bisa lumpuh. Menurutnya, jika sistem kesehatan lumpuh, yang dirugikan bukan hanya pasien Covid-19.
”Sistem kesehatan kita akan lumpuh. Apabila sistem kesehatan kita lumpuh, hal ini tidak hanya merugikan penderita Covid-19 semata. Namun juga masyarakat umum yang membutuhkan perawatan akibat penyakit lain selain Covid. Utamanya mereka yang membutuhkan pelayanan kesehatan esensial. Seperti penderita penyakit paru dan jantung,” ungkapnya.
Wiku mengingatkan masyarakat tidak abai terhadap kondisi ini. ”Jangan sampai kita menjadi abai. Dan menganggap yang angka yang ditampilkan pada hari ini sebagai sekadar angka,” tegasnya.
Kabar terbaru soal pandemi corona di Indonesia Selasa (12/1/2021) mengagetkan. Untuk pertama kalinya sejak Maret 2020, kasus harian virus corona di Indonesia lebih dari 10.000 kasus dalam sehari. Kasus positif  bertambah 10.617 orang.
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Siti Wahyuningsih, mengatakan kedatangan vaksin diharapkan memberi motivasi baru di tengah lonjakan kasus Covid-19 di Solo. Pada Selasa ini, catatan rekor tambahan kasus kembali terjadi hingga membuat kumulatifnya menyentuh 6.000-an orang.
“Kumulatifnya mencapai 6.104 orang, sehingga tambahannya ada 250 orang. Tertinggi selama ini. Lonjakan kasus dipengaruhi oleh kecepatan kerja laboratorium juga,” ucapnya.
Perincian 6.104 kasus itu, 4.134 pulang/sembuh, 1.382 isolasi mandiri, 281 perawatan, dan 281 meninggal dunia. Di samping itu, hingga Selasa ini terdapat 13 orang meninggal dunia dengan status probable.
Ning, panggilan akrabnya, mengatakan setelah vaksin diterima, pihaknya bakal melanjutkan tugas vaksinasi sesuai tahapan. Pemerintah menargetkan 70% dari jumlah penduduk mendapatkan vaksin untuk mencapai kekebalan komunitas. “Dengan angka itu Insyaallah penduduk sudah terlindungi,” tandasnya.
Sementara itu, sebanyak 10.609 dosis vaksin Covid-19 Sinovac diterima Pemerintah Kota (Pemkot) Solo, Selasa (12/1/2021) malam. Ribuan vaksin tahap pertama tersebut bakal disuntikkan kepada tenaga kesehatan dan tenaga pendukung lain mulai 14 Januari.
Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, meminta masyarakat bersabar menunggu giliran vaksinasi, mengingat baru diberikan setelah garda terdepan pelayanan.
Selama menanti, ia berharap masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan, yakni 4M, memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan menggunakan sabun dan menghindari kerumunan.
“Kami sambut puji syukur karena paling tidak bisa menambah motivasi kami menekan persebaran Covid-19. Namun yang membuat saya lebih bersyukur adalah yang dikirim 10.609 dengan kebutuhan 10.620. Kekurangan ini bisa segera dilengkapi sehingga nakes kami bisa segera divaksin,” kata dia, kepada wartawan, seusai mengecek serah terima vaksin Covid-19 di Puskesmas Penumping.
Pemberian vaksin terhadap tenaga kesehatan diharapkan bisa menambah semangat dalam menangani pasien Covid-19. Di samping itu, mengurangi potensi penularan sehingga mereka tidak takut saat bertugas.
“Tahap pertama untuk nakes, masyarakat nanti sesudah nakes, TNI/Polri, aparatur sipil negara (ASN), kemudian guru dan tenaga pendidikan usia 18-59 tahun. Masyarakat harap bersabar, saya sendiri tidak bisa (divaksin) karena usia saya yang tidak masuk rentang itu,” ucap Rudy, sapaan akrabnya.
Pihaknya menyebut pemberian vaksin kali pertama akan dilakukan pada perwakilan 11 tokoh baru kemudian pada nakes. Sebelas tokoh itu mewakili akronim Setia Bela Surakarta yang digaungkan oleh Rudy. Para tokoh itu, di antaranya Sekretaris Daerah (Sekda) Solo, Danrem, Kapolres, dan Ketua DPRD.
“Presiden sudah memberi kepastian kalau semua masyarakat umum usia 18-59 tahun pasti dapat vaksin gratis. Jadi, tidak usah khawatir,” bebernya. (Detik/Mariyana Ricky P.D.)