11 Tokoh Solo Divaksin Pertama

Mariyana Ricky P.D.
SOLO—Kota Solo memulai pelaksanaan vaksinasi Covid-19 tahap pertama kepada ribuan tenaga kesehatan (nakes) pada Kamis (14/1/2021). Sebelas tokoh bakal menerima vaksin kali pertama.

Mereka yang disuntik pertama yakni Danrem 074/Warastratama, Wakapolresta Solo, Sekretaris Daerah (Sekda) Solo, Ketua IDI (Ikatan Dokter Indonesia), PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia), IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia), IBI (Ikatan Bidan Indonesia), Ketua Kejaksaan Negeri (Kajari), Ketua DPRD, serta satu orang perwakilan wartawan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Siti Wahyuningsih, mengatakan sebanyak 10.609 vaksin Sinovac telah tiba di Solo pada Selasa (12/1/2021) malam. Sementara, kebutuhan vaksin untuk nakes di Kota Bengawan mencapai 10.620.
Pihaknya segera mengajukan kekurangan itu secepatnya. Pada tahap pertama ribuan vaksin itu akan disalurkan melalui 33 fasilitas kesehatan. Yakni, 17 puskesmas, 1 klinik Bhayangkari dan 14 rumah sakit (RS).
“Jadwal vaksinasi dimulai Januari 2021 hingga Maret 2022 yang terbagi menjadi 4 tahap,” kata dia, dalam jumpa pers, Rabu (13/1/2021).
Tahap pertama menyasar nakes dan pendukung nakes, tahap kedua dari unsur pelayanan publik seperti TNI, Polri, petugas keamanan, pelayanan publik, dan lansia (lanjut usia).
Tahap ketiga dari kelompok yang beresiko dan tahap terakhir seluruh warga usia 18-59 tahun. Vaksinasi kepada sebelas tokoh itu dilakukan di RSUD Bung Karno (RSBK) yang lantas serentak di 33 faskes lainnya.
Direktur RSBK Solo, Wahyu Indianto, mengatakan penerima vaksin wajib istirahat selama 30 menit setelah vaksin guna menilik efek samping.
“Untuk KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi), kami sudah menyiapkan emergency trolly, bed emergency, nanti kalau ada KIPI, kami bawa ke UGD lalu naik ke ICU. Tapi itu jarang, ya, jangan berfikir seperti itu dulu. Ada yang menolak tapi karena menunda. Dia secara klinis tidak bisa karena punya komorbid atau usianya di atas 60 tahun. Dokter wajib ikut imunisasi, karena risiko tinggi,” ucapnya, terpisah.