kepala puskesmas bulu meninggal dunia . Hajatan Dibubarkan

Sri Sumi Handayani
KARANGANYAR—Tim Penegak Disiplin Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Karanganyar membubarkan hajatan akikah di Dukuh Pringapus, Desa Gondangmanis, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar pada Rabu (13/1/2021).

Acara tersebut dinilai tidak taat protokol kesehatan selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Bupati Karanganyar Juliyatmono menyebut, klaster hajatan menjadi penyumbang kasus Covid-19 terbanyak di wilayah yang ia pimpin.
Koran Solo mendapat kesempatan mengikuti tim dari Satpol PP Kabupaten Karanganyar saat membubarkan hajatan.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Karanganyar, Yopi Eko Jati Wibowo, turun tangan menindak tegas pelanggaran tersebut. Informasi yang diterima Satpol PP, salah satu warga di Dukuh Pringapus menyelenggarakan acara syukuran anaknya.
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 4
Sayangnya, acara tersebut tidak mengindahkan Instruksi Bupati No.180/2/2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan untuk Pengendalian Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).
”Saya dapat informasi dari anggota di lapangan. Ada warga yang menyelenggarakan acara syukuran, hajatan tetapi diduga melanggar aturan itu. Nah ini kami cek, memastikan apakah betul demikian. Informasinya kan mengundang grup campur sari, menata kursi, dan menyiapkan hidangan,” kata Yopi saat berbincang dengan Koran Solo dalam perjalanan ke lokasi acara.
Begitu sampai lokasi, Koran Solo melihat penyelenggara hajatan sudah meletakkan satu unit ember sebagai tempat cuci tangan dan sabun cair. Mereka juga menyiapkan hand sanitizer. Bahkan, mereka juga memasang banner berisi imbauan agar tidak bersalaman saat memberikan ucapan selamat.
Sayangnya, mereka tidak menaati protokol kesehatan lainnya, yakni mereka menata kursi tanpa jarak, menyiapkan hiburan, dan menyuguhkan hidangan.
Sejumlah tamu undangan dan penyelenggara kegiatan tampak kaget saat rombongan Satpol PP Kabupaten Karanganyar datang menginterupsi acara. Saat itu, pembawa acara sedang mempersilakan tamu undangan yang hadir.
Yopi langsung mengambil alih mikrofon yang dipegang pembawa acara. ”Nyuwun pangapunten kagem keluarga. Instruksi Bupati, arahan Forkopimda, hajatan menika mboten pareng nggelar kursi, nggelar hiburan selama pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat,” ujar Yopi dihadapan tamu undangan dan penyelenggara kegiatan.
Yopi mengimbau tamu undangan untuk segera pulang ke rumah masing-masing. ”Dipun stop, dipun lereni. Anggota kawula sampun keliling, sampun ngaturaken. Kula sak kanca ditugasi menjadi penegak PPKM kapeksa dinten menika sowan. Menika kagem kepentingan sedaya warga,” tambahnya.
Yopi menyampaikan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Karanganyar bertambah 200 orang. Kasus tersebut berasal dari klaster hajatan. Pernyataan tersebut disambut gunjingan tamu undangan.
Sejumlah orang yang semula tidak mengenakan masker langsung mengenakan masker. Beberapa orang ada yang langsung beranjak dari tempat duduk.
”Disabarkan dulu sampai tanggal 25 Januari. Setelah itu akan diatur lagi. Nyuwun pangapunten, menika kula stop,” ungkapnya.
Yopi menegaskan Satgas Pe­nanganan Covid-19 Kabu­paten Karanganyar sudah menyosialisasikan aturan yang berlaku selama PPKM. Bahkan, menurut Yopi, Bupati Karanganyar memberikan toleransi kepada masyarakat untuk menyelenggarakan hajatan.
Tetapi, dia menilai masyarakat memanfaatkan kelonggaran tersebut dengan tidak bertanggung jawab. ”Setiap ada pelanggaran maka kami tindak, kami bubarkan. Kami sarankan dilanjutkan tanpa ada kursi, tanpa ada meja, tanpa ada hidangan piring terbang, tanpa ada hiburan. Itu diberlakukan sampai tanggal 25 Januari. Ya setelah diberlakukan PPKM ini ada kasus hajatan, ada 200 orang lebih terkonfirmasi Covid-19. Itu penambahan dari klaster hajatan,” ungkap Yopi saat berbincang dengan Koran Solo seusai membubarkan hajatan.
Yopi kembali memperingatkan masyarakat agar tidak main-main dengan aturan yang dibuat Pemkab selama PPKM. Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Karanganyar akan menindak tegas masyarakat yang melanggar aturan.
”Kami ketatkan lagi hajatan karena sudah diberikan kelonggaran tetapi masyarakat tidak patuh. Cuci tangan hanya menjadi formalitas dan tempat duduk hampir tidak ada jarak. Kalau menaati protokol kesehatan dan aturan hajatan selama pandemi, saya rasa tidak akan mengurangi nilai dan khidmat.”
Bupati Karanganyar, Juliyatmono, memperingatkan masyarakat agar tidak sembrono dengan hajatan. Bupati menyebut persebaran Covid-19 paling tinggi saat ini berada di lokasi hajatan.
Bahkan, orang nomor satu di lingkungan Pemkab Karanganyar menyebut lonjakan kasus yang terjadi beberapa waktu terakhir berasal dari klaster hajatan. Bupati mengaku menerima laporan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Karanganyar perihal kasus di beberapa kecamatan di Kabupaten Karanganyar terjadi karena klaster hajatan.
Bupati menyayangkan sikap masyarakat yang dinilai abai dan nekat melanggar anjuran dan aturan pemerintah dengan berbagai alasan.
Bupati menyampaikan ke­prihatinan karena kasus ter­konfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Karanganyar kembali melonjak. Data terakhir pada Selasa (12/1/2021) total kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Karanganyar mencapai 3.420 kasus. Angka itu meningkat 99 kasus apabila dibandingkan pada Senin (11/1/2021), yakni 3.321 kasus.
”Ini lonjakannya dahsyat. Yang harus saya sampaikan ke masyarakat ya hati-hati. Sembrono mu itu harus dibayar dengan persebaran yang liar. Ini masih pandemi Covid-19. Muncul klaster rumah tangga dan hajatan,” jelasnya.
Di sisi lain, Kepala Puskesmas Bulu, Sukoharjo, Sumpomo meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di RS Kasih Ibu, Kota Solo, Rabu siang. Sumpomo diketahui mengalami batuk berkepanjangan sejak lebih dari sepekan. Namun hasil test swab Sumpomo belum keluar. (Bony Eko Wicaksono)