Pasar Properti Diprediksi Naik 15%

JAKARTA—Pasar properti pada tahun ini diprediksi lebih baik dengan kenaikan penjualan sebesar 10 persen hingga 15 persen. CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda, mengatakan kenaikan itu kemungkinan dimulai pada semester kedua.

Prediksi kenaikan sebesar itu dilatarbelakangi penurunan yang cukup dalam sepanjang tahun lalu akibat pandemi Covid-19. “Terjadi penurunan yang cukup dalam pada tahun lalu. Jadi, secara umum, harusnya pasar properti lebih baik pada tahun ini dengan kenaikan 10 persen sampai 15 persen bila tidak ada kejadian luar biasa yang berdampak negatif bagi pasar properti sendiri,” ujar dia.
Bisnis properti pada tahun ini sangat menantang bagi pelaku pasar properti. Namun, dia memprediksi ketika pandemi mereda, pasar properti naik secara eksponensial karena potensi permintaan yang tertunda sangat besar. Namun, hal itu baru terjadi paling cepat pada semester kedua tahun ini.
Mengenai perkembangan ekonomi global, menurut Ali, meskipun banyak yang memperkirakan tumbuh lebih baik, tetap perlu dicermati bahwa status lockdown yang diberlakukan kembali di beberapa negara dapat mengganggu ekonomi secara luas. Belum lagi perkembangan di China yang relatif masih terganggu masuknya kembali Covid-19. Pertumbuhan positif, khususnya di China, akan sangat berpengaruh pada ekonomi global terkait aktivitas ekspor-impor yang semakin baik.
“Dengan beberapa faktor risiko dan kondisi penuh ketidakpastian tentunya kita masih berharap banyak pasar properti tumbuh pada tahun ini,” ungkap dia.
Penjualan perumahan sepanjang 2020 di Jabodebek–Banten sebagai  benchmark perumahan nasional anjlok 31,8 persen dibandingkan dengan 2019. Meski demikian, lanjutnya, penjualan segmen rumah dengan harga Rp1 miliar hingga Rp2 miliar sepanjang tahun lalu ternyata meningkat hingga 12,5 persen dibandingkan 2019 di tengah kondisi segmen hunian lainnya yang menurun.
Di sisi lain, kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) pada 11 Januari hingga 25 Januari 2021, menurut Direktur PT Ciputra Development Tbk. Harun Hajadi, tak akan berdampak besar pada penjualan properti hunian. ”Kalau terhadap properti hunian pengaruhnya kecil saya kira,” ujarnya di Jakarta pada perbincangan dengan Bisnis.com pada Senin (11/1/2021).
PPKM ketat tak akan membuat konsumen menunda pembelian properti hunian. Terlebih, hunian ini merupakan kebutuhan utama bagi end user. ”Kalau sudah memutuskan mau membeli properti hunian tidak akan ditunda meskipun PPKM,” tutur dia.
PPKM ketat akan berdampak pada pengunjung pusat belanjaan dan hotel yang akan menurun jauh. ”Hotel dan mal ini butuh kerumunan. Jadi, PPKM akan berdampak pada hotel dan mal,” kata Harun.
Sepanjang 2020, bisnis properti memang mengalami tekanan akibat Covid-19. Hal itu terjadi terhadap berbagai subsektor properti. (Bisnis)