KRL Jogja-Solo Berharap Terintegrasi

Farida Trisnaningtyas
SOLO—Kehadiran kereta rel listrik (KRL) Jogja-Solo menjadi angin segar bagi masyarakat luas terutama di kedua wilayah.
Namun, pengoperasian KRL Jogja-Solo diharapkan bisa terintegrasi dengan moda transportasi pendukung lainnya di berbagai wilayah yang disinggahi. Selain itu, KRL juga diminta memfasilitasi para pesepeda.
Pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, mengatakan kehadiran KRL Jogja-Solo menginsipirasi untuk membangun hal serupa di wilayah perkotaan lainnya, seperti Surabaya (Surabaya-Lamongan-Mojokerto), Bandung Raya, dan Semarang.
“Layanan KRL Jogja-Solo ini dapat terintegrasi dengan Bus Trans Jogja dan Batik Solo Trans [BST]. Namun demikian, diharapkan integrasi tidak hanya fisik melainkan jadwal, sistem pembayaran [single trip ticket], dan layanan,” ujar dia dalam webinar Hadirnya KRL Jogja-Solo, Selasa (19/1/2021).

Djoko menjelaskan merujuk pada operator KRL, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), tiket KRL nantinya menggunakan kartu multi trip (KMT), Commuterpay, dan uang elektronik bank. Pihaknya berharap alat pembayaran tersebut juga disinkronkan dengan moda transportasi lain seperti Trans Jogja dan BST.
Selama ini alat pembayaran Trans Jogja menggunakan single trip, tiket berlangganan, dan uang elektronik bank. Sedangkan BST dengan skema buy the service yang masih bersifat gratis. Ke depan pembayaran BST juga memanfaatkan e-money perbankan.
Selain itu, berbeda dengan KA lokal Prambanan Ekspres (Prameks) yang hanya menyinggahi tujuh stasiun, KRL Jogja-Solo bakal menaikturunkan penumpang di 11 stasiun. Artinya ada empat stasiun yang dihidupkan kembali.
Dengan begitu, menurutnya perekonomian sejumlah daerah ini berpotensi besar tumbuh. Sayangnya, di wilayah di luar Jogja dan Solo belum didukung dengan moda transportasi lainnya.
Sebagai contoh, Klaten yang belum memiliki moda pendukung lain yang terintegrasi dengan KRL. Padahal di Klaten nantinya KRL bakal berhenti di sebanyak 5 stasiun (Delanggu, Ceper, Klaten, Srowot, dan Brambanan) 3 di antaranya stasiun lama yang dihidupkan lagi (Delanggu, Ceper, dan Srowot).
“Di sisi lain, intregasi tidak hanya sesama kendaraan bermotor, tapi juga dengan kendaraan tidak bermotor seperti pesepeda dan pejalan kaki. Terlebih fasilitas pesepeda dan pejalan kaki di Yogyakarta, Klaten, dan Solo, sudah ada perbaikan. Saya berharap sepeda juga dibolehkan dibawa ke dalam KRL Jogja-Solo,” papar dia.
Sementara itu, Komunitas Pramekers, Yusticia Eka Noor Ida, berharap headway atau jarak antar trip KRL diperpendek sehingga pilihan masyarakat berkereta semakin luas dan untuk mengurangi tumpukan penumpang.
Menurutnya, selama ini ketika mereka naik KA Prameks headway kereta sekitar 1,5 jam. Alhasil, ketika mereka kehabisan tiket atau ketinggalan KA harus menunggu cukup lama.
“Ini dampaknya akan sangat panjang. Selain itu, pelaju di jalur KRL Jogja-Solo atau sebaliknya ini sebagian besar adalah pekerja sehingga jam berangkat dan pulang jelas. Kami berharap jadwal KRL nanti bisa ramah pengguna,” ungkap dia.
Menurutnya, kehadiran KRL ini bakal mengubah kebiasaan yang sebelumnya telah ada. Mulai dari cara membeli tiket, masuk gate, hingga apa yang harus dipatuhi penumpang saat berada di dalam KRL.
“Kami juga berharap KRL juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang yang accessible. Tak ketinggalan, mohon operator juga serng melakukan survei kepuasan pelanggan secara rutin,” kata dia.