PPKM DI JATENG BELUM BERDAMPAK Dua Warung Ditutup Paksa

Mariyana Ricky P.D.
SOLO—Tim Cipta Kondisi Kota Solo menutup dua warung makan lantaran berulang kali melanggar aturan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Selain itu, tim juga menghentikan paksa pergelaran live music di salah satu angkringan modern di Kecamatan Laweyan pada Selasa (19/1/2021) malam.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Solo, Arif Darmawan, mengatakan kedua warung itu sudah mendapatkan surat peringatan (SP) 1 dan 2. Karena masih membandel, SP 3 pun dilayangkan dengan sanksi penutupan sementara maksimal dua bulan.
Pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan (Disdag) sebagai pihak yang berhak menentukan lamanya penutupan sementara.
“Rekomendasi lama penutupan dari Disdag. Sesuai Surat Edaran (SE) Wali Kota, lama maksimal penutupan dua bulan. Kemarin mereka punya niat baik untuk ikut aturan, ya kami sampaikan dalam berita acara. Alasannya, tidak bisa menghitung 25% kapasitas itu seperti apa. Sehingga, bikin kerumunan. Sebenarnya restoran kecil, tapi banyak yang nongkrong karena internet,” kata dia, kepada wartawan, Rabu (20/1/2021).
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 4
Hingga pekan awal pekan kedua PPKM, pihaknya sudah menerbitkan 150-an SP, baik SP 1, 2, dan 3. SP 1 berisi berita acara teguran lisan, SP 2 berupa teguran tertulis, dan SP 3 adalah sanksi penutupan sementara. Pelanggaran yang dilakukan oleh warung makan/restoran/angkringan itu adalah memunculkan kerumunan dan masih melakukan prasmanan.
“Satu sendok, tangannya ganti-ganti. Enggak boleh. Harusnya dilayani oleh pegawainya. Kami peringatkan, nanti dievaluasi lagi untuk pelaksanaannya,” imbuhnya.
Kepala Disdag Kota Solo, Heru Sunardi, mengatakan operasional warung makan menjadi tanggung jawab Dinas Pariwisata (Dispar). Pihaknya hanya mengkoordinasi pedagang kaki lima (PKL).
“Selama ini PKL tertib, karena sejak awal sudah sosialisasi. Laporan yang masuk ke kami, mereka cukup tertib mengikuti aturan PPKM. Kalau masih dijumpai yang melanggar, harus mendapatkan sanksi. Semoga tidak ada temuan pelanggaran sampai PPKM berlangsung dan kebiasaan protokol kesehatan tetap diteruskan,” kata dia, dihubungi terpisah.
Sementara itu, pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Jawa Tengah selama 11 hari terakhir belum kelihatan dampaknya. Bahkan, kasus dan angka kematian akibat Covid-19 meningkat.
“Jadi kalau dilihat secara epidemiologi belum ada efeknya. Tapi, saya belum bisa menyimpulkan karena masih harus mengevaluasi hingga PPKM ini selesai. Apakah ada efeknya atau tidak,” terang Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng, Yulianto Prabowo, saat menggelar jumpa pers secara virtual, Rabu (20/1/2021).
PPKM atau yang dikenal juga dengan istilah PSBB Jawa-Bali diterapkan di Jateng selama dua pekan mulai 11-25 Januari 2021.
Menurut Yulianto, selama dua pekan itu, PPKM belum memberikan dampak yang signifikan terhadap Jateng, terutama dalam penurunan kasus harian Covid-19. “Menurut saya kalau cuma dua pekan tidak cukup memberikan perubahan perilaku kepada masyarakat. Perubahan perilaku dua pekan itu juga belum cukup memberikan efek,” tuturnya.
Yulianto menambahkan selama sepekan lebih PPKM berlangsung, jumlah kasus harian Covid-19 di Jateng juga belum terlihat mengalami penurunan. Ia justru menyebut selama sepekan berlangsungnya PPKM, jumlah kasus aktif dan kematian akibat Covid-19 di Jateng mengalami peningkatan.
Yulianto lantas mencontohkan pada pekan pertama Januari 2021, atau sebelum PPKM diterapkan penambahan kasus aktif Covid-19 di Jateng selama sepekan mencapai 7.620. Sedangkan jumlah kasus kematian Covid-19 selama pekan pertama Januari mencapai 500 orang.
Jumlah itu justru naik pada pekan kedua atau saat PPKM diterapkan, yakni 7.830 kasus aktif Covid-19 selama sepekan, dan 503 kasus kematian.
Ia menambahkan, Pemprov Jawa Tengah bakal mengikuti instruksi pemerintah pusat untuk memperpanjang masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM.
“Pak Gubernur [Ganjar Pranowo] juga sudah mengusulkan [perpanjangan PPKM]. Kalau pemerintah pusat memutuskan diperpanjang, pada prinsipnya Jateng sepakat,” tutur Yulianto. (Imam Yuda S.)