Pendiri Enggan Lepas Saham

 

CHRISNA CHANIS CARA
SOLO—Para pendiri PT Persis Solo Saestu (PSS) dan 26 tim internal anggota Persis Solo memastikan tak akan ikut menawarkan sahamnya kepada pihak lain. Meski hanya berstatus pemilik saham minoritas di PT PSS, mereka berkomitmen menjaga saham tersebut agar tidak ada monopoli mutlak di tubuh Persis.
Para pendiri PT PSS dan 26 tim internal memiliki 10% saham (500 lembar saham) di PT PSS. Ketua Askot PSSI Solo yang juga pendiri PT PSS, Paulus Haryoto, memiliki 150 lembar saham.
Sementara itu, M.T. Heru Buwono dan Totok Supriyanto memiliki masing-masing 70 lembar dan 30 lembar saham. Sedangkan lima pendiri lain yakni Her Suprabu, Wahyu Haryanto, Harry Suswanto, Setyo Wiyono, dan Nando Marhendra Pandjuto, masing-masing memiliki 25 lembar saham. Sementara tim internal memunyai masing-masing lima lembar saham.
“Pendiri PT PSS dan tim internal sudah sepakat tidak akan menawarkan sahamnya,” ujar Paulus saat dihubungi Espos, Minggu (21/2/2021).
Sikap para pemilik saham minoritas memang turut ditunggu seiring kabar calon pemilik baru Persis ingin menguasai hampir 100% saham di PT PSS. Selain mengakuisisi 70% saham Vijaya Fitriyasa dan 20% saham PT Syahdhana Property Nusantara (SPN) di PT PSS, kandidat kuat bos anyar yakni Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dikabarkan ingin membeli saham para pendiri PT PSS (7,4%).
Sang Menteri disebut tidak akan membeli saham tim internal yang berkisar 2,6% dari total saham PT PSS. “Saham para pendiri dan tim internal itu sudah paten. Biar itu menjadi hak milik warga Solo sampai seterusnya,” ujar Paulus.
Ia menghormati upaya Menteri yang ingin mengakuisisi saham mayoritas di Persis. Meski demikian, Paulus belum yakin sepenuhnya Agus Gumiwang bakal menjadi bos baru Laskar Sambernyawa.
Ini karena proses penawaran saham Vijaya dan PT SPN ke pemilik saham lain masih berlangsung. Sesuai UU Perseroan Terbatas, penawaran saham harus diprioritaskan ke internal PT PSS sebelum dilempar ke pihak ketiga. Proses penawaran saham Vijaya masih berlangsung hingga 1 Maret 2021, sedangkan penawaran PT SPN masih dibuka hingga 4 Maret 2021.
“Jadi pihak ketiga perlu menunggu setelah penawaran itu ditutup. Kami yakin nama pemilik baru juga menunggu RUPS [rapat umum pemegang saham],” kata politikus PDI Perjuangan itu.
Tokoh Pasoepati, Ginda Ferachtriawan, mempertanyakan posisi pemilik saham minoritas dalam pengelolaan klub. Menurut Ginda, para pendiri dan tim internal selamanya tidak akan memiliki daya tawar apabila saham mereka masih mentok di angka 10%.
“Mestinya mereka berpikir membeli saham, mumpung sekarang ada penawaran. Kalau tidak, lebih baik saham mereka dijual saja.”