Resepsi di Hotel Solo Baru Dibubarkan

Indah Septiyaning Wardani
SUKOHARJO—Sebuah resepsi pernikahan di hotel di Solo Baru, Kecamatan Grogol dibubarkan. Satgas Covid-19 menilai resepsi itu melanggar protokol kesehatan.
Satgas Covid-19 Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo mendatangi hajatan di salah satu hotel di kawasan Solo Baru, Sabtu (20/2/2021).
Sebelumnya, enam hajatan warga dibubarkan Satgas Covid-19 Kecamatan Grogol dalam dua pekan terakhir. Hajatan tersebut disebut melanggar protokol kesehatan karena jumlah tamu undangan melebihi 30 orang dan hidangan disajikan di tempat.
Ketua Satgas Covid-19 Kecamatan Grogol, Bagas Windaryanto mengatakan pihaknya terpaksa membubarkan acara di hotel itu. “Jumlah tamu undangannya lebih dari 30 orang. Hidangannya juga disajikan di tempat,” kata Bagas kepada Koran Solo, Minggu (21/2/2021).
Menurut Bagas, masih ada warga yang nekat menggelar hajatan yang melanggar protokol kesehatan. Apalagi dengan jumlah tamu undangan mencapai 100 orang lebih dan menyediakan hidangan di tempat. Padahal sesuai aturan, jumlah tamu undangan dibatasi 30 orang. Pemkab memberikan toleransi tamu undangan melebihi 30 orang dengan ketentuan banyu mili, yakni tamu undangan datang bergantian tanpa tempat duduk dan hidangan dibawa pulang.
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 4
Setidaknya sejauh ini dalam dua pekan terakhir pihaknya telah membubarkan enam hajatan warga. Hajatan berupa resepsi pernikahan yang digelar di rumah makan, rumah penduduk, hingga hotel. ”Kami ingatkan jangan nekat gelar hajatan dengan melanggar aturan. Petugas langsung akan membubarkan jika menemukan hajatan yang melanggar ketentuan,” kata Bagas.
Kepala Satpol PP Sukoharjo Heru Indarjo meminta kepada warga di Kabupaten Sukoharjo untuk mematuhi selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro diberlakukan. Berdasarkan catatannya sejak PPKM diberlakukan kali pertama hingga kini, total jumlah pelanggaran protokol kesehatan mencapai 2.494 kasus dan denda disetor ke kas daerah mencapai Rp31.250.000.
Patroli terus dilakukan. Alasan­nya, kasus positif virus corona masih tinggi merata di 12 kecamatan.
Berdasarkan ketentuan PPKM mikro, zonasi didasarkan pada desa/kelurahan. Di Sukoharjo, sebanyak enam dari 167 desa dan kelurahan masuk zona merah Covid-19.
Merujuk data Satgas Covid-19, enam desa/kelurahan itu adalah Desa Puhgogor, Kecamatan Bendosari; Desa Kedungsono, Kecamatan Bulu; Desa Krajan, Kecamatan Weru; Desa Palur, Kecamatan Mojolaban; Desa Ngreco, Kecamatan Weru, dan Kelurahan Combongan, Kecamatan Sukoharjo.
”Kasus positif virus corona di enam desa kelurahan masih tinggi dan berstatus zona merah,” kata Jubir Satgas Covid-19 Kabupaten Sukoharjo, Yunia Wahdiyati kepada Koran Solo, Minggu.
Satgas Covid-19 Sukoharjo menangani kasus positif virus corona khususnya di enam desa itu. Penanganan dilakukan dengan rawat inap dan isolasi mandiri.  Sebelum dinyatakan sehat oleh dokter, warga dilarang melakukan aktivitas di luar dan bertemu dengan orang lain sebagai usaha mempercepat penyembuhan dan memutus penularan ke orang lain. Warga di sana juga wajib menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Hal itu sebagai usaha mencegah peningkatan penularan sekaligus menekan kasus positif virus corona.
”Dilihat dari angka memang sedikit karena hanya ada enam desa dari total 167 desa dan kelurahan di Kabupaten Sukoharjo. Tapi tetap akan diselesaikan agar status zona di enam desa itu turun,” katanya.
Sementara itu, pemerintah pusat memutuskan untuk memperpanjang masa PPKM skala mikro di Jawa dan Bali mulai 23 Februari hingga 8 Maret mendatang.
Terkait hal itu, Pemkab Sragen siap menindaklanjuti anjuran pemerintah pusat terkait perpanjangan PPKM mikro tersebut. “Ya [benar]. PPKM skala mikro akan diperpanjang dari 23 Februari hingga 8 Maret,” jelas Sekretaris Daerah (Sekda) Sragen, Tatag Prabawanto, kepada Koran Solo, Minggu.
Tatag menyebut aturan terkait perpanjangan PPKM mikro tidak berbeda dengan PPKM mikro tahap pertama yang berlangsung pada 9-22 Februari. PPKM mikro di Sragen diterapkan dengan mempertimbangkan kriteria zonasi mulai dari hijau, kuning, oranye dan merah. Zona merah diberlakukan jika ada lebih dari 10 rumah tangga di satu RT yang terkonfirmasi positif Covid-19 dalam tujuh hari terakhir.
Sejumlah kegiatan penanggulangan Covid-19 bagi RT dengan zona merah meliputi menemukan kasus suspek dan pelacakan kontak erat, melaksanakan isolasi mandiri terpusat dengan pengawasan ketat, menutup rumah ibadah tempat bermain anak dan tempat umum lainnya kecuali sektor esensial, melarang kerumunan lebih dari tiga orang, membatasi mobilitas warga yang keluar masuk maksimal hingga pukul 20.00 WIB dan meniadakan kegiatan sosial masyarakat yang berpotensi menghadirkan kerumunan.     (Moh. Khodiq Duhri)