PERBANKAN SELEKTIF BERI KREDIT Dulu 8 Unit Rumah Disetujui, Kini 2 Unit

Yanita Petriella
JAKARTA—Kalangan perbankan disebut lebih berhati-hati atau selektif dalam menyalurkan kredit pemilikan rumah (KPR) di masa pandemi Covid-19.

Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida mengatakan saat ini perbankan sangat amat selektif dalam memberikan persetujuan KPR. Sebelum pandemi terdapat 10 konsumen akhir atau end user yang mengajukan hanya 8 unit yang disetujui. Namun, kini hanya sekitar maksimal dua unit yang disetujui.
”Itu mestinya yang mengatur perbankan selain asosiasi dan Himbara, BI, dan Otoritas Jasa Keuangan [OJK] tentu berkecimpung secara regulasi supaya bank lebih berani meluncurkan kredit dalam kondisi pandemi ini,” ujar dia, pekan lalu.
Hal inilah yang mengganggu cashflow para pengembang karena sedikitnya rumah yang terjual.
Direktur PT Metropolitan land Tbk Wahyu Sulistio berpendapat prinsip kehati-hatian yang dilakukan perbankan agar tidak ada gagal bayar. Pasalnya apabila terjadi gagal bayar, maka akan juga berdampak ke pengembang.
”Jadi kalau ada gagal bayar dampaknya ke pengembang. Ini usaha properti akan enggak jalan, rontok semua. Sangat berbahaya,” tutur dia.
Menurut dia, bagi pengembang sangat penting melakukan efisiensi dengan penuh kehati-hatian.
Direktur PT Ciputra Development Tbk Harun Hajadi menuturkan perbankan selektif dalam memilih nasabah merupakan hal yang lumrah dan masih sangat wajar. Hal itu dalam rangka mengelola risiko.
”Semua ada hitung-hitungannya. Dengan tingkat likuiditas yang tinggi saat ini, dan juga dengan NPL [Non Performing Loan] yang relatif rendah dari KPR, maka menurut saya bank masih mengucurkan KPR,” ujar dia.
Vice President Consumer Loans Bank Mandiri Ayu Pertiwi menuturkan posisi perbankan membantu masyarakat yang memerlukan properti, tetapi membutuhkan pembiayaan. Perbakan sendiri juga membantu pengembang agar tidak ada gagal bayar.
”Kesannya dari dulu selektif, tidak ada perubahan. Sama saja kehati-hatian dilaksanakan menyalurkan kredit baik sebelum pandemi maupun saat pandemi,” kata dia.
Kehati-hatian bank dilakukan agar pendapatan yang diperoleh masyarakat dapat disisihkan membayar kewajiban dan juga memenuhi kebutuhan harian atau biaya lainnya.
”Kadang kala kurang memperhatikan kebutuhan kemampuan dan keinginan. Kemampuan diri kita sanggup beli properti harga berapa. Kemampuan pendapatan dan properti income yang dibeli. Kalau tidak match ada beberapa pengajuan KPR yang belum bisa diakomodasi,” papar dia.
Tentunya, perbankan terus bersinergi dengan developer untuk tumbuh bersama bukan membuat developer sehat menjadi sakit. Kolaborasi antarperbankan dan developer ini dibutuhkan maka developer juga memberikan jaminan.
”Kalau terjadi gagal bayar, developer melakukan buy back kepada bank. Ujung-ujungnya ya developer yang menanggung risiko, belum lagi keluar biaya perawatan untuk rumah gagal bayar,” tutur Ayu. (Bisnis)