Harga Cabai Rawit Tembus Rp100.000/Kg

RUDI HARTONO
WONOGIRI—Harga eceran cabai rawit merah atau sret di Pasar Kota Wonogiri naik lagi hingga mencapai Rp100.000/kg, Sabtu (27/2/2021). Harga naik sejak sepekan terakhir.
Harga eceran bawang merah juga naik sejak lima hari hingga menjadi Rp32.000/kg, pada hari yang sama. Sebagai informasi, Pasar Kota Wonogiri merupakan pasar yang harga komoditasnya menjadi patokan bagi harga komoditas di pasar lain di Wonogiri.
Pedagang berbagai sayur di lantai I Pasar Kota Wonogiri, Warni, saat ditemui Koran Solo, Sabtu, menginformasikan harga cabai sret sebelumnya Rp70.000/kg. Harga itu termasuk tinggi dibanding pada kondisi normal yang kurang dari Rp60.000/kg. Alih-alih turun, harga komoditas tersebut malah naik signifikan.

Harga cabai yang paling banyak diminati konsumen itu naik secara bertahap. Awalnya, harga naik menjadi Rp85.000/kg, di hari berikutnya naik lagi menjadi Rp90.000/kg, lalu menjadi Rp95.000/kg, hingga Sabtu itu menjadi Rp100.000/kg.
Atas kondisi itu Warni hanya melayani pembelian minimal Rp5.000 untuk mendapatkan 0,5 ons. Sebelumnya, saat harga Rp70.000/kg dia melayani pembelian minimal Rp3.000 untuk mendapatkan lebih kurang 0,25 ons.
“Konsumen sudah tahu harga cabai sret lagi naik. Sehingga, mereka sejak awal datang langsung membeli minimal Rp5.000,” kata Warni.
Menurut dia harga cabai sret naik disebabkan oleh hal yang sama ketika harga naik menjelang pergantian tahun lalu. Dia menduga produksi cabai sret di tingkat petani sedang turun lagi karena masih penghujan. Alhasil, sebelum cabai rawit mencapai usia tua atau berwarna merah banyak yang rontok, karena mendapatkan air berlebih atau terserang hama. Petani pun memilih memanen cabai rawit saat berusia muda agar tak merugi.
“Saat naik kemarin [akhir 2020 dan awal 2021] harga eceran paling tinggi mencapai Rp90.000/kg. Kemudian berangsur turun hingga mentok di harga Rp70.000/kg. Mungkin saat itu produksi mulai meningkat sehingga harga bisa turun. Sekarang kemungkinan produksi turun lagi, sementara permintaan cenderung tetap, sehingga harga naik lagi,” imbuh Warni.
Harga cabai merah besar plompong juga naik Rp10.000/kg dari sebelumnya Rp30.000/kg hari itu menjadi Rp40.000/kg. Sementara, harga cabai jenis lain stabil. Cabai merah tampar Rp50.000/kg, hijau tampar Rp24.000/kg, dan rawit putih Rp40.000/kg.
Terpisah, pedagang bawang merah dan putih di lantai II pasar setempat, Darsi, mengatakan harga eceran bawang merah lokal berkualitas baik, hari itu, Rp32.000/kg dari sebelumnya Rp28.000/kg. Harga naik bertahap. Sebelum mencapai Rp32.000/kg, harga bawang merah pernah Rp30.000/kg. Bawang merah dengan kualitas di bawahnya dijual Rp28.000/kg dari sebelumnya Rp25.000/kg.
Dia menduga harga bawang merah naik karena produksi turun, sedangkan permintaan tetap. Indikatornya, biasanya ada beberapa penyuplai yang datang, tetapi akhir-akhir ini sebagian dari mereka tak datang. Darsi pun hanya mendapatkan 1 kuintal dua hari sekali. Padahal, biasanya dia kulak 2 kuintal dua hari sekali.
“Harga eceran bawang putih impor juga naik tipis dari. Bawang putih kating dari sebelumnya Rp24.000/kg kini menjadi Rp26.000/kg. Sementara, bawang putih sicho dari sebelumnya Rp20.000/kg menjadi Rp24.000/kg,” ujar Darsi.
Kenaikan harga cabai ini juga terjadi di daerah lain yaitu di Cianjur, Magetan, dan DIY.
UPTD Pasar Induk Pasirhayam Cianjur, Jawa Barat, mencatat harga cabai rawit naik cukup tinggi dari Rp40.000/kg menjadi Rp110.000 /kg. Kenaikan ini diduga karena petani gagal panen sehingga stok di distributor minim.
”Untuk harga sayur mayur dan bumbu dapur lainnya masih normal, hanya cabai rawit domba yang meroket dari Rp40.000/kg menjadi Rp110.000 /kg, kenaikannya sudah terjadi sejak tiga hari terakhir,” kata Kepala UPTD Pasr Induk Pasirhayam Cianjur Doni Tri Wibowo saat dihubungi dari Cianjur, Jumat (26/2/2021).
Ia menjelaskan cuaca ekstrem sejak beberapa bulan terakhir, membuat panen sayur mayur di tingkat petani menurun, sehingga berdampak terhadap pasokan ke sejumlah pasar tradisional, sedangkan tingkat pemakaian masih tetap tinggi dan berdampak terhadap kenaikan harga.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Daerah Istimewa Yogyakarta menyebutkan tingginya harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional di Yogyakarta dengan rata-rata Rp88.000 per kilogram merupakan siklus tahunan akibat dampak musim hujan.
”Kenaikkan harga cabai rawit ini sebetulnya fenomena tahunan saja, pokoknya bisa diprediksi di bulan Januari, Februari, dan Maret,” kata Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindag DIY Yanto Apriyanto di Yogyakarta, belum lama ini.
Ia mengatakan berdasarkan pemantauan harga di tiga pasar tradisional di Kota Yogyakarta yakni di Pasar Beringharjo, Pasar Kranggan, dan Pasar Demangan per 24 Februari, harga cabai rawit merah rata-rata mecapai Rp88.833 per kg dan cabai rawit hijau Rp63.667 per kg.
Sedangkan harga cabai merah keriting masih dijual dengan harga Rp47.333 per kg dan cabai merah besar Rp44.000 per kg.
Menurut Yanto, faktor cuaca sangat memengaruhi harga cabai karena cepat membusuk dalam kondisi basah. Di sisi lain, saat ini masih memasuki musim tanam sehingga persediaan di kalangan pedagang tidak melimpah.
Harga cabai rawit di pasar tradisional Kabupaten Magetan, Jawa Timur terus meroket hingga menembus angka Rp100.000 per kilogram.
”Harga cabai rawit masih terus naik. Sejak beberapa hari ini sudah mencapai Rp100.000 per kilogram,” ujar Suprapti, pedagang cabai dan kebutuhan pokok di Pasar Sayur Magetan, Kamis (24/2/2021).
Menurutnya harga cabai rawit yang terus naik dalam beberapa pekan tersebut disebabkan karena pasokan komoditas pedas itu yang minim akibat gagal panen selama cuaca ekstrem ini.
Tingginya harga cabai rawit tersebut membuat pedagang harus menambah jumlah modal untuk kulakan cabai ke pengepul dan petani. Selain mahal, pedagang tidak berani kulakan banyak karena takut busuk. (JIBI/Antara)