Dunia Usaha Soloraya Diyakini Membaik

Farida Trisnaningtyas
SOLO—Perekonomian Soloraya diperkirakan mengalami perbaikan pada 2021 seiring dengan pelonggaran aktivitas di hampir seluruh wilayah.
Salah satu indikasi positif ini tercermin dalam hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU). Bank Indonesia memperkirakan akan terjadi peningkatan kegiatan usaha pada triwulan 1-2021.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Solo, Nugroho Joko Prastowo, mengatakan hasil SKDU menunjukkan triwulan I-2021 kegiatan dunia usaha di Soloraya diperkirakan meningkat.
“Hasil SKDU menunjukkan triwulan 1-2021 kegiatan dunia usaha di Soloraya diperkirakan akan mengalami perbaikan dengan saldo bersih tertimbang [SBT] perkiraan triwulan I-2021 yang lebih tinggi dari SBT triwulan IV-2020,” ujar dia, kepada wartawan, Jumat (5/3/2021).
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 4
Joko menyebut secara sektoral kondisi peningkatan kegiatan usaha juga terlihat pada sektor sektor industri pengolahan dan sektor pertanian. Di triwulan IV-2020, industri pengolahan juga sudah mengalami ekspansi, sebagaimana ditunjukkan PMI Indeks sebesar 50,31 (yang lebih besar daripada 50 ).
Di sisi lain, perdagangan, hotel, dan restoran masih mengalami kontraksi meskipun tak sedalam triwulan III-2020. Sementara pertanian mengalami penurunan sejalan dengan pola triwulan IV-2020 pada tahun-tahun sebelumnya.
Selain itu, dari survei konsumen dan survei penjualan eceran, adanya peningkatan geliat perekonomian di Solo lebih baik pada triwulan IV-2020 jika dibandingkan triwulan III-2020.
Berdasarkan survei konsumen, optimisme masyarakat meningkat pada triwulan IV-2020. Sedangkan berdasarkan hasil survei penjualan eceran, IPR menunjukkan sedikit pelemahan indeks juga pada triwulan IV-2020.
“Di samping itu, perekonomian Soloraya yang menyumbang 19,39% perekonomian Jawa Tengah pada 2020 tercatat mengalami kontraksi, yakni sebesar-1,58% [year on year]. Dari sisi lapangan usaha [LU], perekonomian Soloraya didorong oleh LU industri pengolahan, perdagangan, pertanian dan juga konstruksi. Meskipun secara spasial kontraksi terjadi di tujuh kabupaten/kota, kedepannya perekonomian Soloraya masih solid dengan ditopang oleh keempat sektor utamanya,” papar dia.
Sebelumnya, Kota Solo mengalami inflasi sebesar 0,26% pada Februari 2021. Inflasi ini disebabkan adanya kenaikan harga-harga yang ditunjukkan oleh naiknya angka indeks harga konsumen (IHK) sebesar 105,59. Komoditas yang menyebabkan terjadinya inflasi salah satunya adalah cabai rawit.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Solo, Totok Tavirijanto, mengatakan pada Februari 2021 Kota Solo mengalami inflasi 0,26%. Dari 6 kota di Provinsi Jawa Tengah yang dihitung angka inflasinya, pada Februari 2021 tercatat semua kota mengalami inflasi.
“Inflasi tertinggi terjadi di Kota Solo sebesar 0,26%, diikuti Kota Tegal sebesar 0,25%, Kota Kudus sebesar 0,20%, Kota Semarang sebesar 0,16%, Kota Purwokerto sebesar 0,15%, dan Kota Cilacap sebesar 0,12%,” jelas dia.
Totok menjelaskan, komoditas yang mengalami kenaikan harga sehingga memberikan sumbangan inflasi antara lain rekreasi (sumbangan inflasi 0,08%), cabai rawit (0,04%), telur ayam ras (0,02%), bawang merah (0,02%), dan pepaya (0,02%).