Dulu Tersisih, Kini Tergusur

Mariyana Ricky P.D.
SOLO—Pembangunan rel layang Joglo tak hanya mengenai hunian warga tapi juga menggusur bangunan sekolah untuk kaum marjinal.
Kelas berupa pendampingan pendidikan karakter pada anak jalanan itu lokasinya berada di samping rel kereta api.
Koordinator Sukarelawan Sekolah Pos, Bumi Sulaeman, mengatakan bangunan tempat belajar yang baru dibangun belum genap setahun itu sudah diberi tanda oleh Balai Teknik Perkeretaapian (BTPK) Wilayah I Jawa Tengah. Lokasinya di Kampung/Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari.
Sebelumnya tempat belajar mereka yang berada di pos kamling sudah terlebih dahulu digusur akibat proyek berbeda. “Kami mendirikan sekolah ini untuk membentuk karakter anak. Sudah ada 100-an anak yang bergabung. Mereka berasal dari keluarga menengah ke bawah, kaum marjinal. Ada anak tukang becak, kuli bangunan, dan sebagainya. Kami menggelar kelas setiap Kamis malam. Kalau tempat kami digusur, kami tidak tahu harus ke mana lagi,” kata dia, kepada Koran Solo, Senin (5/4/2021).
Setiap Kamis malam, ada tiga kelas yang digelar Sekolah Pos yaitu kelas inspirasi, kegiatan belajar, dan lingkungan. Sekolah mengundang sukarelawan untuk berbagi ilmunya secara bergantian. Setiap pekan, tak kurang dari 60-an anak bergabung dari 100-an anak terdaftar. Mereka dari usia TK hingga SMP.
“Kami berkegiatan sejak 2013, jadi sudah tujuh tahun. Awalnya kegiatan di pos kamling, kemudian geser karena pos kamlingnya dipakai untuk kegiatan lain. Perlahan ada donasi masuk yang digunakan untuk bikin bangunan saat ini. Sudah diberi tanda dari cat semprot. Artinya memang terdampak pembangunan. Tapi sampai sekarang belum tahu solusinya,” jelas Bumi.
Warga terdampak rel layang di Kelurahan Nusukan, Suyud Untung, juga menyampaikan hal serupa. Dirinya belum mengetahui solusi penertiban lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Dari sosialisasi yang diterimanya pada pekan lalu, pengukuran dilakukan untuk bangunan terdampak kemudian nominal penggantiannya menyesuaikan hitungan dari tim appraisal. Suyud sudah tinggal di area itu sejak 1985 bersama keluarganya.
“Ibu saya membeli lahan di situ sekitar 50.000 per meter persegi. Nah, dapat sertifikat tidak resmi dari yang jual. Memang kami tahu lokasinya milik PT KAI, makanya saat dengar akan ditertibkan ya, pasrah saja. Harapannya, nilai penggantian cukup untuk beli tanah karena tidak ada gambaran sama sekali mau pindah ke mana,” cerita warga Kampung Nayu Barat RT006/RW013 Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari itu.
Dia berharap Pemerintah Kota (Pemkot) menyediakan lahan pengganti agar dirinya dan keluarga tidak terkatung-katun