Aprindo : Sinyal Konsumsi Belum Membaik

JAKARTA—Kondisi perekonomian yang belum stabil selama pandemi membuat sejumlah peritel memutuskan untuk menghentikan operasional meski momen Ramadan dan Lebaran di depan mata.

Asosiasi menyebutkan sinyal pemulihan konsumsi memang belum kuat dan memengaruhi keputusan bisnis pelaku usaha.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N. Mandey mengatakan sinyal lemahnya pemulihan terlihat dari proses vaksinasi yang masih mencakup sebagian kecil populasi. Selain itu, pembatasan mudik dan dihentikannya bantuan sosial tunai (BST) juga akan memengaruhi tingkat belanja masyarakat.

“Peritel sudah melihat sinyal bahwa kendala di sisi permintaan masih ada. Kami sudah prediksi konsumsi mungkin tidak otomatis pulih, jadi opsi penutupan diambil,” kata Roy, Senin (5/4/2021).

Roy mengatakan maraknya aksi penutupan bakal berpengaruh pada peta persaingan peritel untuk format supermarket dan hypermarket. Pelaku usaha pun cenderung akan menyeleksi kembali gerai-gerai yang dikelola.

Dalam situasi pandemi, Roy menyebutkan pelaku usaha tidak bisa hanya mengacu pada variabel konvensional seperti jumlah populasi dan kondisi perekonomian suatu daerah untuk membuat rencana bisnis.

Dia menyebutkan untuk usaha kini mulai mempertimbangkan menganalisis tren konsumsi di suatu daerah, termasuk kebiasaan berbelanja masyarakat.
“Jadi kami akan mengecek kembali seberapa resilient bisnis di suatu daerah, consumer behaviour akan menjadi pertimbangan baru apakah suatu toko akan dibuka atau tidak,” kata dia.

Salah satu jaringan ritel yang melanjutkan penutupan toko adalah PT Hero Supermarket Tbk. Belum lama ini, perusahaan memutuskan untuk menghentikan salah satu unit toserba Giant Ekstra yang berlokasi di Tangerang Selatan.

Head of Corporate and Consumer Affairs PT Hero Supermarket Tbk Diky Risbianto menjelaskan perusahaan sedang mengembangkan transformasi strategi bisnis jangka panjang agar bisa tetap kompetitif. Karena itu, perusahaan memutuskan untuk melakukan penutupan toko Giant di Pamulang.

“Ini bukanlah langkah yang mudah untuk dilakukan, tetapi penataan kembali ini untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang berubah dengan cepat dan untuk membangun bisnis yang lebih kuat dan berkelanjutan pada masa mendatang,” kata Diky dalam keterangan kepada Bisnis.

Dia tidak memperinci lebih lanjut berapa jumlah toko yang masih dioperasikan perseroan. Namun, mengutip info resmi dari laman perusahaan, total terdapat 75 gerai Giant Ekspres dan Giant Ekstra di seluruh Indonesia.

“Seperti yang telah diumumkan, kami sedang bertransformasi bisnis. Ini artinya ada beberapa penutupan toko. Namun, juga berarti bahwa toko lain sedang dirancang kembali dan direnovasi. Semuanya akan mengarah pada bisnis yang lebih berkelanjutan dan kuat pada masa depan,” kata dia. (Bisnis)