Jl. Honggowongso Permanen Dua Arah

Mariyana Ricky P.D.
SOLO—Manajemen rekayasa lalu lintas (MRLL) di Kota Solo pasca pembukaan flyover Purwosari kembali berubah. Setelah lintas atas itu bisa dilalui pengalihan arus yang berlangsung hampir satu tahun kembali pada pengaturan sebelumnya, kecuali di Jl. Honggowongso.

Jalan di timur Pasar Kembang itu masih berlaku dua arah dan tetap menjadi laluan bus antar kota dalam provinsi (AKDP). Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo, Ari Wibowo, mengatakan Jl. Honggowongso menjadi alternatif satu-satunya mengingat tak ada jalan lain.

“Untuk memfasilitasi bus AKDP Wonogiri-Solo. Enggak ada pilihan alternatif lain bagi mereka menuju Terminal Tirtonadi. Lewat underpass Makamhaji enggak boleh, lewat Pasar Jongke ke utara enggak boleh. Sedangkan lewat jalur yang lama melintasi perlintasan sebidang Purwosari sudah enggak bisa karena sudah ada flyover,” kata dia saat dihubungi Koran Solo, Selasa (6/4/2021).

Ari mengatakan alternatif melalui Jl. Dr. Wahidin tidak memungkinkan karena padatnya kendaraan di jalan tersebut. Sementara Jl. Perintis Kemerdekaan tak bisa dilalui kendaraan tonase berat mengingat di bawah jalan itu terdapat saluran air dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang rawan rusak.
Alternatif lain yakni Jl. Gatot Subroto lebih tidak memungkinkan karena berpotensi merusak bangunan cagar budaya (BCB) Pura Mangkunegaran. Getaran bus berpotensi merusak pagar maupun bangunan yang berusia ratusan tahun.

“Setelah melalui beberapa pertimbangan, Jl. Honggowongso dipilih karena paling memungkinkan. Jl. Kapten Mulyadi dan Jl. Yos Sudarso pun enggak bisa karena di sana sudah padat sekali,” papar Ari.

Ia menyebut pengembalian Jl. Honggowongso menjadi satu arah masih memungkinkan apabila pembangunan jalur lingkar timur selatan berlanjut. Ia meminta masyarakat memaklumi apabila kepadatan kendaraan terjadi saat bus AKDP melalui Jl. Honggowongso-Jl. Gajah Mada dan seterusnya hingga Terminal Tirtonadi. Pi-haknya sudah mengundang pengelola armada di trayek itu, sehingga diharapkan bisa menerima kebijakan perubahan rute.
“Karena mereka sudah jalan di situ hampir satu tahun, ya sudah terbiasa,” ungkapnya.

Salah seorang pengendara sepeda motor yang kerap melalui jalan itu, Muhammad Aswindra, 38, menyebut perubahan rute tersebut membikin Jl. Honggowongso lebih padat. Tumpukan kendaraan dibandingkan lebar jalan tak memadai sehingga kemacetan tak terhindarkan.

“Jam-jam tertentu bisa tidak bergerak sama sekali. Saya lebih suka Jl. Honggowongso jadi jalan searah lagi. Tapi kalau tidak memungkinkan ya, saya pilih jalan lain,” kata dia, ditemui terpisah.