Peluang Baru Industri Asuransi Umum

Hijriyah Al Wakhidah

SOLO—Industri asuransi khususnya asuransi umum masih mempunyai peluang untuk meningkatkan penetrasi pasar dan memperluas peluang bisnis.

Bahkan di era pandemi Covid-19 seperti saat ini, peluang pengembangan pasar industri asuransi umum justru semakin lebar. Kecenderungan orang yang takut terhadap risiko krisis ekonomi, takut kehilangan pekerjaan, takut usaha bangkrut, takut diri dan keluarga terpapar virus, hingga kekhawatiran kehilangan nyawa, membuat orang cenderung akan melihat asuransi sebagai kebutuhan krusial.

Masyarakat juga dinilai mulai memahami pentingnya proteksi. Hal ini terkait dengan perubahan perilaku konsumen dalam masa dan pasca pandemi yang dianggap bisa menciptakan peluang baru bagi industri asuransi umum.
Dengan demikian, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo sangat mendukung program-program edukasi terkait produk dan layanan asuransi umum yang mampu memperluas literasi dan inklusi jasa keuangan khususnya sektor asuransi.

Kepala OJK Solo, Eko Yunianto, di sela-sela Kuliah Umum Asuransi Umum Goes to Campus bertema Posisi dan Peluang Bisnis Industri Asuransi Umum di Indonesia, yang digelar kerja sama Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), OJK, dan UNS secara virtual, pada Rabu (7/4/2021), menyampaikan angka literasi dan inklusi sektor asuransi yang belum setinggi perbankan menjadi dasar bahwa masih banyak peluang bisnis yang bisa dicapai industri ini.
Selama pandemi Covid-19, kinerja industri asuransi umum di Soloraya masih tercatat baik karena masih mampu memenuhi kewajiban kepada pemegang polis dan kemampuan bayar yang baik.

“Data total premi yang turun 8% sementara klaim yang meningkat, masih dalam batas wajar. Dalam situasi pandemi, kinerja industri ini belum bisa dikategorikan lesu. Tapi masih cukup prima,” kata Eko.

Direktur Eksekutif AAUI Pusat, Dody A.S. Dalimunthe, menambahkan prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bakal terakselerasi setelah setahun mengalami pandemi, menjadi angin segar bagi industri asuransi khususnya asuransi umum. “Ada perilaku masyarakat yang berubah dan berpengaruh terhadap industri asuransi. Misalnya, kebutuhan dasar akan rasa aman dan sehat menjadi krusial. Di sini asuransi menjadi sangat dibutuhkan masyarakat,” kata Dody.

Namun yang menjadi tantangan adalah penyesuaian strategi bisnis dari para pelaku usaha untuk tetap dapat bertahan di tengah kondisi saat ini. Pemanfaatan teknologi informasi (TI) secara optimal didukung regulasi akan meningkatkan optimisme pelaku industri asuransi.

Terkait kinerja industri asuransi umum secara nasional, Dody menyebut premi yang bisa dicatat industri asuransi umum selama 2020 terkoreksi -3,6% dan klaim yang dibayar juga -3,3%. “Angka -3% ini masih termasuk koreksi yang cukup kecil. Di negara maju, kinerja asuransi bisa terkoreksi 8% hingga 10%.”

Yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana meningkatkan penetrasi pasar. Asuransi umum berbeda dengan asuransi jiwa. Masyarakat lebih banyak mengenal asuransi jiwa ketimbang asuransi umum. Oleh karena itu, industri bersama regulator siap memberikan informasi tujuan asuransi umum yang tak lain adalah menciptakan proteksi serta memberi pemahaman kepada masyarakat tentang manajemen risiko.

Sejauh ini, lanjut Dody, dari sekian banyak lini bisnis asuransi umum, kontribusi asuransi harta benda, kendaraan, dan kredit menjadi yang paling tinggi. Klaim juga didominasi ketiga lini asuransi itu, disusul asuransi kecelakaan. Dengan banyaknya produk dan layanan asuransi umum, edukasi masif menjadi kebutuhan penting agar industri ini bisa menjadi pilar perekonomian nasional.

Ketua AAUI Solo, Muh.Sufyan, mengatakan kuliah umum Asuransi Umum Goes to Campus yang digelar kerja sama AAUI dengan UNS menjadi program awal untuk meningkatkan literasi dan edukasi terhadap masyarakat tentang asuransi umum. “Ini menjadi agenda bersama mengingat industri asuransi umum di Indonesia butuh dorongan dari segi SDM kompeten.”